Pucuk-pucuk cemara di tingkat kepalaku,
Dongakan, anggukan,
dan tolehan bersenda gurau jadi satu
Mencari-cari mana yang disebut jawaban dari renungan gelisah
semalam
Tentang bintang yang katanya jatuh di belukar hutan
Katika itu, aku merapal doa di bawah beringin dan mengamini ingin
Katika itu, aku merapal doa di bawah beringin dan mengamini ingin
Sedang lamunan masih jadi pelarian paling ampuh untuk
menghadirkanmu secara nyata
Kemudian seekor kupu-kupu, sendirian
Hadir menyibak-nyibak awan di kepalaku
Dengan terpatah-patah mengepakkan sepasang apik sayapnya,
menuju rerindang bunga
Seandainya sayap kupu-kupu itu sekekar sayap burung elang,
aku akan meminta tolong padanya untuk terbang ke tempatmu
Semesta yang begitu tersohor
Ya, Ranu Kumbolo
Mungkin bukit-bukit mungil Ubalan juga jatuh hati pada alam
yang sedang kau pijaki
Ya, Watu Rajeng dan Jonggring Saloka
Kupu-kupu itu juga, pun aku. Sebenarnya ingin ke sana. Menemuimu
Tapi kepakannya masih selemah dedaunan warna cokelat yang
mengering dan siap untuk gugur dari teduh pepohonan
Dan aku, belum sempat menggenapkan upaya
Dan aku, belum sempat menggenapkan upaya
Akhirnya kupu-kupu itu bersamaku, di sini. Menantimu
Menelan senja dengan malu-malu
Menangkap pantulan jingga di sekitar air terjun yang tak
begitu terjal
Berharap suatu saat kau menjemput kebahagiaan yang
sudah berladang di hati dan pikiran.“Semua jawaban menuju satu muara yang sebenarnya kita sama-sama tahu ke mana”
Untuk segala ruap pertanyaan yang masih mengendap, biar aku
sabar menjelma jadi pupa, sementara
Menunggu bagaimana masing-masing perasaan kita bermetamorfosa
Ubalan, Mojokerto (15.25 WIB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar