Rabu, 21 Januari 2015

Biar Diam-Diam Saja

Seberapa luas semesta, aku mengerti
Akan ada liku dan ruas-ruas lebih dari sekadar perasaan
Pengalah kekar logika pun teori-teori mutakhir sekalipun
Terkadang debar lebih jujur dari puisi yang kubacakan lewat bibir bergincu
Lewat rahasia, aku memendam berpeti-peti tanya, berpundi-pundi harap
Tentangmu,
Tentang jatuh hati yang tiba-tiba, tanpa suara.
Sebab kata-kataku pasti sudah aus oleh rautmu yang pesona
Aku tak bisa jadi apa-apa selain sebuah sembunyi
Mengamatimu khusyuk di balik kelambu, meringkuk dengan pandang mata malu-malu
Tiraiku segera menutup jika pandang kita tak sengaja bertemu


Meski aku sering menaruh ngilu sebab kau tak mengerti bagaimana rasanya rindu tanpa persetujuanmu
Benih-benih sabarku rela menunggu
Demi takdir yang mungkin akan menyalakan asmara
Atau memadamkannya tanpa kuduga

Aku ingin mencintaimu, sangat ingin
Tapi masih ada yang lebih penting dari teramatnya rasa ingin
Yaitu, mencairkan luka-luka kita yang masih begitu dingin
Aku khawatir, jika nanti kita benar-benar dibersamakan
Akan ada gigil yang lebih musibah dari sekadar memadukan rasa cinta

Biar kau tak tahu saja,
Diam-diamku untuk mencintaimu akan selalu senyap
Hening dalam khidmat mendoakanmu


Surabaya, 03.12.2014 (00.09)

1 komentar:

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik