Seberapa
luas semesta, aku mengerti
Akan ada
liku dan ruas-ruas lebih dari sekadar perasaan
Pengalah
kekar logika pun teori-teori mutakhir sekalipun
Terkadang
debar lebih jujur dari puisi yang kubacakan lewat bibir bergincu
Lewat
rahasia, aku memendam berpeti-peti tanya, berpundi-pundi harap
Tentangmu,
Tentang
jatuh hati yang tiba-tiba, tanpa suara.
Sebab
kata-kataku pasti sudah aus oleh rautmu yang pesona
Aku tak bisa
jadi apa-apa selain sebuah sembunyi
Mengamatimu
khusyuk di balik kelambu, meringkuk dengan pandang mata malu-malu
Meski aku sering menaruh ngilu sebab kau tak mengerti bagaimana rasanya rindu tanpa persetujuanmu
Benih-benih
sabarku rela menunggu
Demi takdir yang
mungkin akan menyalakan asmara
Atau
memadamkannya tanpa kuduga
Aku ingin
mencintaimu, sangat ingin
Tapi masih
ada yang lebih penting dari teramatnya rasa ingin
Yaitu,
mencairkan luka-luka kita yang masih begitu dingin
Aku
khawatir, jika nanti kita benar-benar dibersamakan
Akan ada
gigil yang lebih musibah dari sekadar memadukan rasa cinta
Biar kau tak
tahu saja,
Diam-diamku
untuk mencintaimu akan selalu senyap
Hening dalam
khidmat mendoakanmu
Surabaya,
03.12.2014 (00.09)

bagus mbak, lanjutkan :)
BalasHapus