Selasa, 20 Januari 2015

Aku Ingin Terbang Denganmu



            “Aku ingin terbang denganmu. Tapi apa daya jika sayapku tak cukup kuat untuk itu.” Katanya saat beberapa daun kering jatuh dari pohon mahoni dan diserak-serakkan angin yang tak hanya semilir. Entah dari mana datangnya sesak yang menyembul di dalam rongga pernapasanku saat mendengar kalimat dengan nada dan mimik sesendu itu. Udara yang kuhirup tak selega saat kita duduk bersantai atau bergelak tawa tak usai-usai. Aku juga tak melihat ia membawa belati atau sepucuk duri untuk turut dihamburkan ke oksigen yang akan kumasukkan dalam paru-paru, tapi kesakitan telah bermuara di rongga dada ini. Mungkin nyeri bermuasal dari dirinya pula. Baru kali ini aku merasakan kesedihan menular hingga membuatku mau tak mau turut andil. Aku tak mampu lagi berucap, menimpali kalimatnya itu barang sekecap.
            “Mengapa kau jadi peragu?” Tanyaku akhirnya, setelah angin seperti mendengus kepadaku agar segera berkata apapun kepadanya meski tak menghibur galau sama sekali. Aku benci dipaksa untuk bicara tapi untuk kali ini nampaknya memang aku harus sedikit meredam sunyi agar keadaan ini tak semakin terasa nyeri.
            “Aku tak ragu tapi memang semesta yang menakdirkan begitu.” Dia sama sekali tak melihatku ketika mengucapkan kalimat itu, matanya memandang kosong ke depan. Tak kulihat harapan bertengger di pelupuk mata yang biasanya berbinar dari pagi hingga senja datang.
            “Jangan putus asa, Pu!” Aku dekatkan diriku, hendak memeluknya.
            Dia bergeming, “Bahkan untuk sekadar memeluk saja, kamu akan menggilasku. Meremukkanku!” Raut wajahnya nampak memelas. Sepertinya ia ingin menghambur di pelukanku juga tapi ia selalu mengurungkan niat itu berkali-kali pula.
            Desauan angin kembali meracau, aku melihatnya bertambah risau. Gerak tubuhnya semakin kacau, dia berusaha menahan terpaan angin yang siang ini terasa lebih kencang dari biasanya.
            Aku menatapnya sejenak, ragu. “Kamu pulang saja ya, nampaknya kurang sehat.” Aku semakin merasa takut jika nanti dia pingsan karena kesedihan ini.
            Dengan mata berkaca-kaca dia menatapku sekilas lalu melemparkan pandangan jauh di depan sana. “Salahkah jika aku terlalu berharap, Ru? Bukankah impian tak memiliki batas? Aku ingin terus bersamamu, kita telah merestui adanya perbedaan tapi mengapa untuk sekadar terbang denganmu saja tak bisa. Tak seadil inikah semesta, Ru?” Matanya semakin bergenang, emosinya mulai buncah. Aku salah tingkah, bingung harus berbuat apa. Aku memilih menelan ludah dan diam.
            Suaranya semakin serak kudengar, “Aku selemah ini ya, Ru?” Akhirnya dia menatapku, mencari dua bola mataku. Oh, atau mencari jawaban atas pertanyaannya tadi? Aku tak tahu, sekuat tenaga tak kurasakan pedih yang semakin getir di penjuru hatiku. Aku harus menciptakan keteduhan di balik sorot mataku agar dia lupa dengan kesedihan yang sedang meluap.
            Aku menoleh padanya, mataku turut sayup menyaksikan tatapannya yang sendu itu, “Pu, jika kamu lemah. Tak akan seindah ini sayapmu, kamu memiliki keindahan yang tak akan pernah bisa aku punya. Corak-corak unik di dirimu adalah hasil jerih kesabaranmu yang tabah menunggu. Kamu seseorang yang paling tenang yang pernah kutemui, mampu berdiam diri berjam-jam lamanya demi mendapatkan keelokan. Kamu tak selemah yang kamu pikirkan, Pu. Kamu tak selemah itu!” Kini aku yang terpantik emosi, rasanya tak tahan lagi jika harus melihat orang yang aku kasihi begitu bersedih.
            Dia membuang muka, aku mendengar helaan napas yang cukup berat pula, “Aku ingin sekuat kamu, Ru. Tahan oleh segala ujian semesta meski kerap menelan pahit goresan-goresan peluru yang sering ditujukan padamu dengan sengaja. Sedang aku? Melawan jemari lentik saja tak bisa. Kamu mampu berkawan dengan angin jenis apa saja, kepakmu kuat menahan beban terpaan. Sedang aku? Dihembuskan napas dengan sedikit kencang saja sudah sempoyongan.” Air mata akhirnya jatuh juga dari pelupuk matanya.
            Kemudian gemerisik dedaunan seakan membicarakan kita yang sedang dirundung nestapa dan keputus-asaan. Mereka seperti kawanan bibir yang mencibir kita. Mungkin mereka menati-nanti perpisahan tiba. Semenjak kita jatuh cinta, nampaknya alam tak menyetujuinya. Tapi bagiku, perasaan tak boleh dengan mudah dikalahkan oleh apa saja jika memang ketulusan sudah  bersemayam pada dua hati yang saling mencinta.
            “Aku hanya ingin bersamamu, terbang dengan kepak sayap yang sama. Kepak yang sama-sama kuat.” Dia kembali membuka suara dengan sedikit isakan.
            Aku diam saja.
            “Apakah aku salah ingin menjadi burung?”
            Aku makin bungkam.
            “Ru, aku mencintaimu semanis madu yang aku hisap setiap pagi. Tapi nampaknya memang kita tak direstui semesta untuk saling terbang bersama karena porsi angin yang menerbangkan kita berbeda. Tetaplah jadi kuat, Ru. Harusnya kamu tak pernah menaruh rasa kepadaku sebab aku tahu akan ada betina yang lebih pantas dariku dengan banyak telur yang akan dilahirkannya, memiliki masa hidup yang lebih lama dariku, dan dia sebangsa denganmu.” Tepat ketika jingga senja menyemburat, dia pergi dari dahan pohon mahoni besar ini tanpa lagi meletakkan isyarat atau bahkan salam perpisahan.
            “Ya, Pu. Mau bagaimana kita berbuat jika dari awal saja kita telah banyak berbeda? Bukan dari spesies yang sama. Aku seekor burung dan kamu seekor kupu-kupu.” Aku tertunduk lemas.


*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik