“Aku ingin
terbang denganmu. Tapi apa daya jika sayapku tak cukup kuat untuk itu.” Katanya
saat beberapa daun kering jatuh dari pohon mahoni dan diserak-serakkan angin
yang tak hanya semilir. Entah dari mana datangnya sesak yang menyembul di dalam
rongga pernapasanku saat mendengar kalimat dengan nada dan mimik sesendu itu.
Udara yang kuhirup tak selega saat kita duduk bersantai atau bergelak tawa tak
usai-usai. Aku juga tak melihat ia membawa belati atau sepucuk duri untuk turut
dihamburkan ke oksigen yang akan kumasukkan dalam paru-paru, tapi kesakitan
telah bermuara di rongga dada ini. Mungkin nyeri bermuasal dari dirinya pula.
Baru kali ini aku merasakan kesedihan menular hingga membuatku mau tak mau
turut andil. Aku tak mampu lagi berucap, menimpali kalimatnya itu barang
sekecap.
“Mengapa kau
jadi peragu?” Tanyaku akhirnya, setelah angin seperti mendengus kepadaku agar
segera berkata apapun kepadanya meski tak menghibur galau sama sekali. Aku
benci dipaksa untuk bicara tapi untuk kali ini nampaknya memang aku harus
sedikit meredam sunyi agar keadaan ini tak semakin terasa nyeri.
“Aku tak ragu
tapi memang semesta yang menakdirkan begitu.” Dia sama sekali tak melihatku
ketika mengucapkan kalimat itu, matanya memandang kosong ke depan. Tak kulihat
harapan bertengger di pelupuk mata yang biasanya berbinar dari pagi hingga
senja datang.
“Jangan
putus asa, Pu!” Aku dekatkan diriku, hendak memeluknya.
Dia bergeming,
“Bahkan untuk sekadar memeluk saja, kamu akan menggilasku. Meremukkanku!” Raut wajahnya
nampak memelas. Sepertinya ia ingin menghambur di pelukanku juga tapi ia selalu
mengurungkan niat itu berkali-kali pula.
Desauan angin
kembali meracau, aku melihatnya bertambah risau. Gerak tubuhnya semakin kacau,
dia berusaha menahan terpaan angin yang siang ini terasa lebih kencang dari
biasanya.
Aku
menatapnya sejenak, ragu. “Kamu pulang saja ya, nampaknya kurang sehat.” Aku
semakin merasa takut jika nanti dia pingsan karena kesedihan ini.
Dengan mata
berkaca-kaca dia menatapku sekilas lalu melemparkan pandangan jauh di depan
sana. “Salahkah jika aku terlalu berharap, Ru? Bukankah impian tak memiliki
batas? Aku ingin terus bersamamu, kita telah merestui adanya perbedaan tapi
mengapa untuk sekadar terbang denganmu saja tak bisa. Tak seadil inikah
semesta, Ru?” Matanya semakin bergenang, emosinya mulai buncah. Aku salah
tingkah, bingung harus berbuat apa. Aku memilih menelan ludah dan diam.
Suaranya
semakin serak kudengar, “Aku selemah ini ya, Ru?” Akhirnya dia menatapku,
mencari dua bola mataku. Oh, atau mencari jawaban atas pertanyaannya tadi? Aku
tak tahu, sekuat tenaga tak kurasakan pedih yang semakin getir di penjuru
hatiku. Aku harus menciptakan keteduhan di balik sorot mataku agar dia lupa
dengan kesedihan yang sedang meluap.
Aku menoleh
padanya, mataku turut sayup menyaksikan tatapannya yang sendu itu, “Pu, jika kamu
lemah. Tak akan seindah ini sayapmu, kamu memiliki keindahan yang tak akan
pernah bisa aku punya. Corak-corak unik di dirimu adalah hasil jerih
kesabaranmu yang tabah menunggu. Kamu seseorang yang paling tenang yang pernah
kutemui, mampu berdiam diri berjam-jam lamanya demi mendapatkan keelokan. Kamu
tak selemah yang kamu pikirkan, Pu. Kamu tak selemah itu!” Kini aku yang
terpantik emosi, rasanya tak tahan lagi jika harus melihat orang yang aku
kasihi begitu bersedih.
Dia membuang
muka, aku mendengar helaan napas yang cukup berat pula, “Aku ingin sekuat kamu,
Ru. Tahan oleh segala ujian semesta meski kerap menelan pahit goresan-goresan
peluru yang sering ditujukan padamu dengan sengaja. Sedang aku? Melawan jemari
lentik saja tak bisa. Kamu mampu berkawan dengan angin jenis apa saja, kepakmu
kuat menahan beban terpaan. Sedang aku? Dihembuskan napas dengan sedikit kencang
saja sudah sempoyongan.” Air mata akhirnya jatuh juga dari pelupuk matanya.
Kemudian
gemerisik dedaunan seakan membicarakan kita yang sedang dirundung nestapa dan
keputus-asaan. Mereka seperti kawanan bibir yang mencibir kita. Mungkin mereka
menati-nanti perpisahan tiba. Semenjak kita jatuh cinta, nampaknya alam tak
menyetujuinya. Tapi bagiku, perasaan tak boleh dengan mudah dikalahkan oleh apa
saja jika memang ketulusan sudah bersemayam pada dua hati yang saling mencinta.
“Aku hanya
ingin bersamamu, terbang dengan kepak sayap yang sama. Kepak yang sama-sama
kuat.” Dia kembali membuka suara dengan sedikit isakan.
Aku diam
saja.
“Apakah aku
salah ingin menjadi burung?”
Aku makin
bungkam.
“Ru, aku
mencintaimu semanis madu yang aku hisap setiap pagi. Tapi nampaknya memang kita
tak direstui semesta untuk saling terbang bersama karena porsi angin yang
menerbangkan kita berbeda. Tetaplah jadi kuat, Ru. Harusnya kamu tak pernah
menaruh rasa kepadaku sebab aku tahu akan ada betina yang lebih pantas dariku dengan
banyak telur yang akan dilahirkannya, memiliki masa hidup yang lebih lama
dariku, dan dia sebangsa denganmu.” Tepat ketika jingga senja menyemburat, dia
pergi dari dahan pohon mahoni besar ini tanpa lagi meletakkan isyarat atau
bahkan salam perpisahan.
“Ya, Pu. Mau
bagaimana kita berbuat jika dari awal saja kita telah banyak berbeda? Bukan
dari spesies yang sama. Aku seekor burung dan kamu seekor kupu-kupu.” Aku
tertunduk lemas.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar