Untuk rindu yang aku pendam-pendam.
Gi,
Sebelum tas ranselku yang berisi penuh kubawa, bersama tapakan kaki satu-satu
Atau napas tersengal dan peluh beribu
Aku merindukanmu
Sungguh
Memang sebelum mengenalmu aku sudah ingin melakukannya dari dulu.
Mencumbui alam digdaya, menciumi semesta tanpa sisa
Menghirup udaranya yang masih belia meski tanahnya mulai renta.
Sudah lama aku tak diizinkan dengan berbagai alasan. Untuk tak bercinta dengan alam yang belantara itu.
Hingga kerinduanku pada segala yang liar di hamparan rimba, merimbun dan semakin tak nampak.
Jika kau tahu, Gi
Ketika rinduku segera dipangkas, nyatanya aku sama sekali tak merasakan rindu pada semesta yang liar itu
Aku merindukanmu, sungguh
Penjajakan yang telah banyak kau lakukan cukup menjejak di ingatanku. Bahwa kau benar gemar dengan hal itu
Seakan-akan aku diundang untuk mengenalmu lagi
Gi, seandainya kau tak mampir malam ini untuk sekadar menekan satu simbol
Mungkin kerinduanku yang menggunung pun mengombak di dadaku tak akan segemuruh saat ini.
Mungkin sudah mampu kuhempaskan begitu saja pelbagai rindu tentangmu, atau kupendam lagi semakin dalam.
Tapi tetap saja nihil.
Andai semudah mengedipkan mata,
Aku ingin menyapamu sekali lagi, Gi.
Malang, 22.00
Gi,
Sebelum tas ranselku yang berisi penuh kubawa, bersama tapakan kaki satu-satu
Atau napas tersengal dan peluh beribu
Aku merindukanmu
Sungguh
Memang sebelum mengenalmu aku sudah ingin melakukannya dari dulu.
Mencumbui alam digdaya, menciumi semesta tanpa sisa
Menghirup udaranya yang masih belia meski tanahnya mulai renta.
Sudah lama aku tak diizinkan dengan berbagai alasan. Untuk tak bercinta dengan alam yang belantara itu.
Hingga kerinduanku pada segala yang liar di hamparan rimba, merimbun dan semakin tak nampak.
Jika kau tahu, Gi
Ketika rinduku segera dipangkas, nyatanya aku sama sekali tak merasakan rindu pada semesta yang liar itu
Aku merindukanmu, sungguh
Penjajakan yang telah banyak kau lakukan cukup menjejak di ingatanku. Bahwa kau benar gemar dengan hal itu
Seakan-akan aku diundang untuk mengenalmu lagi
Gi, seandainya kau tak mampir malam ini untuk sekadar menekan satu simbol
Mungkin kerinduanku yang menggunung pun mengombak di dadaku tak akan segemuruh saat ini.
Mungkin sudah mampu kuhempaskan begitu saja pelbagai rindu tentangmu, atau kupendam lagi semakin dalam.
Tapi tetap saja nihil.
Andai semudah mengedipkan mata,
Aku ingin menyapamu sekali lagi, Gi.
Malang, 22.00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar