Aku kira tak perlu pembukaan
untuk mengawali suratku ini, baca saja seperti membaca buku harian.
Sebenarnya aku sudah punya
rencana akan mengirimimu ketika jadwal surat bertema, mungkin tanggal 11
Februari yang temanya membuat surat untuk menyemangati (mungkin kau butuh
semangat) atau tanggal 14 Februari yang bertema “Just Say It” menyatakan cinta
pada seseorang (aku masih lurus ya...meskipun kadang belok...ahahaha). Tapi aku
berpikir ulang, terlalu lama menunggu tema-tema itu tiba sedangkan sebentar
lagi kita akan kembali bertemu dengan intens. Kalau boleh jujur aku tak akan
mengirimimu surat dalam event menulis ini, jangan berprasangka buruk dulu. Tapi
memang itu yang ingin aku lakukan, aku selalu kesulitan menulis sesuatu untuk
orang-orang yang tanpa kuminta sudah menyayangiku dan berada di sisiku hampir
setiap harinya. Entahlah, rasanya aku malu untuk mengungkapkan rasa terima
kasih atau menyatakan kalimat sayang. Aku sampai menyimpulkan sendiri bahwa
orang-orang yang begitu aku sayangi akan sulit mendapatkan tulisan atau puisi
dariku. Seperti kepada orang tuaku, kamu termasuk salah satunya. Mungkin karena
aku tak bisa lagi membayangkan kebahagiaan sebab rasa bahagia itu sudah nyata
bersama kamu (mungkin ini terlalu berlebihan). Setidaknya begitulah yang
benar-benar aku alami, jika kamu meminta aku menuliskan sajak, puisi, atau
cerita pasti aku kesulitan. Kalau kamu mau aku lancar menuliskan tentangmu,
tentang persahabatan kita berarti kamu bukan benar-benar ada untukku. Nyatanya
aku memang akan selalu kesulitan menulis tentangmu, tentang kita.
Aku tak pernah mengira sebelumnya
jika pertemanan kita yang dimulai ketika awal masuk perguruan tinggi akan
menjadi selama dan sedekat ini. Aku pikir, akan menjalani kehidupan di kampus
dengan begitu indivudualis (meskipun awalnya memang aku merasa begitu). Aku
sampai merasa, “kamu jawaban dari doaku” (ini serius). Kamu pernah mendengar
kalimat itu bukan ketika aku bertemu dengan seseorang berinisial HB. Sebenarnya
kalimat itu sudah ada lama sebelum aku mengenal HB, meskipun dia juga termasuk
di dalam kalimatku satu itu walau hanya sebentar saja. Mengapa aku bisa
mengungkapkan demikian? Karena aku tak pernah menemukan sahabat yang
benar-benar sehabat sekalipun aku pernah punya teman dekat dari bangku TK
hingga SMA. Aku tak pernah merasakan seperti bersahabat dengan kamu. Apa
mungkin karena aku masih bersama dengan kamu saat ini? Sebab teman dekatku di
bangku sekolah sudah tak lagi bersamaku. Tapi tidak, aku merasa bahwa memang
bersahabat denganmu berbeda, aku bisa benar-benar menjadi diriku sendiri. Aku
tak perlu bermuka dua atau sembunyi-sembunyi lagi tentang perasaanku, sebab
kamu seringkali sudah mengetahuinya sebelum aku bercerita. Aku salut dengan
banyak sekali – teramat banyak—pengorbanan yang kamu berika untukku. Aku sangat
salut dengan sifat mengalahmu yang tiada duanya. Aku sampai heran dan pernah
jengkel sendiri dengan sifat mengalahmu itu, tapi aku sadar kalau itu adalah
salah satu nilai lebih dari kamu.
Aku tidak memungkiri jika masih
ada celah-celah yang bisa membuat kita terkadang lengah dan mungkin saja
bertengkar. Sadar bahwa setiap manusia tak terkecuali kita punya kekurangan,
bahkan banyak kekurangan. Aku yakin kamu sering jengkel dengan sikapku, tapi
aku harap kamu memakluminya karena hanya bersama dengan kamu aku merasa menjadi
diriku tanpa harus mengover menjadi apapun. Aku juga masih merasa kita
bersahabat dengan berbagai keterbatasan, tidak bisa selalu melancarkan hal-hal
yang lebih gila lagi meskipun kita sudah pernah melakukannya. Hal-hal konyol
sampai memalukan sekalipun. Kalau boleh berkhayal aku ingin kita berlibur di
suatu tempat yang jauh, bersenang-senang di sana menghabiskan waktu. Berkelana
ke tempat-tempat yang berbeda dari lingkungan sekitar kita. Tapi aku tahu, ada
batas yang menghalangi itu semua. Sudah seringkali aku kecewa tentang
batas-batas yang mengitarimu dan keterbatasan yang juga melingkupiku. Tapi
biarlah, masih banyak kesempatan lain yang mampu kita lakukan tanpa melanggar
batas-batas itu.
Cerita-cerita dalam kisah hidupku
dari yang paling lapuk sampai mutakhir aku yakin kamu tahu. Diskusi-diskusi dari hal penting sampai sangat tidak penting pernah kita perbincangkan. Banyak hal dari dalam diri persahabatan kita yang membuat masing-masing dari kita kecewa tapi dengan mudah kita mengatasinya. Jarang sekali
terlintas di benakku pertanyaan “apa benar kamu sahabat yang benar-benar
sahabat?” Karena aku percaya bahwa kamu memang sahabat yang bisa diandalkan.
Aku sudah pernah mengetahui bagaimana sahabat yang ternyata lebih membuat sakit
daripada kekasih, dari yang kualami sendiri, cerita dari orang-orang yang ada di sekitarku, sampai hanya cerita
fiksi atau dongeng. Oh iya, ada satu yang menggangguku saat ini tentang
seseorang yang sempat ingin kamu dengarkan ceritanya dan aku masih sebal saja
dengan orang itu apalagi baru-baru ini ekspresi yang dia pernah ungkapkan pada
kita waktu itu berbanding terbalik dengan potretnya bersama orang yang pernah
dia bilang tidak suka. Ternyata banyak yang mengaku bahwa mereka bersahabat tapi
dibumbui dengan kemunafikan. Semoga kita tidak seperti itu.
Aku akhirnya merasa tak heran jika banyak
orang yang iri kepada kedekatan kita sebagai sahabat. Semoga kamu merasa bangga
karena aku juga merasa bangga memiliki sahabat seperti kamu. Ah, iya aku juga
tidak melupakan juga seseorang yang juga berada di antara kita (penyeimbang
kita berdua, you know who). Aku memang masih memegang prinsip jika sahabat yang
memang benar-benar sahabat hanya satu tapi dia, si penyeimbang kita juga
termasuk dalam sumber kebahagiaanku mungkin kebahagiaanmu juga. Dia juga sangat
berjasa terhadap kehidupan persahabatan kita. Jika boleh menyalahi prinsipku
sendiri, dia akan masuk ke dalam jajaran nama sahabatku.
Hhh... aku mulai kesulitan lagi
merangkaikan kalimat untuk surat ini. Mungkin banyak ungkapan-ungkapan lain
yang seharusnya ada di surat ini, atau kisah-kisah yang bisa dijabarkan dalam
surat ini. Tapi sungguh aku merasa buruk menulis surat ini, banyak kata yang
diulang, banyak kalimat yang tidak karuan. Ah, sudahlah daripada semakin
berantakan aku sudahi saja surat ini ya...
Terima kasih sudah bersedia
menjadi sahabat yang hebat. Semoga persahabatan kita langgeng hingga impian-impian kita tercapai kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar