Sabtu, 07 Februari 2015

Friendship not Friendshit

Aku kira tak perlu pembukaan untuk mengawali suratku ini, baca saja seperti membaca buku harian.

Sebenarnya aku sudah punya rencana akan mengirimimu ketika jadwal surat bertema, mungkin tanggal 11 Februari yang temanya membuat surat untuk menyemangati (mungkin kau butuh semangat) atau tanggal 14 Februari yang bertema “Just Say It” menyatakan cinta pada seseorang (aku masih lurus ya...meskipun kadang belok...ahahaha). Tapi aku berpikir ulang, terlalu lama menunggu tema-tema itu tiba sedangkan sebentar lagi kita akan kembali bertemu dengan intens. Kalau boleh jujur aku tak akan mengirimimu surat dalam event menulis ini, jangan berprasangka buruk dulu. Tapi memang itu yang ingin aku lakukan, aku selalu kesulitan menulis sesuatu untuk orang-orang yang tanpa kuminta sudah menyayangiku dan berada di sisiku hampir setiap harinya. Entahlah, rasanya aku malu untuk mengungkapkan rasa terima kasih atau menyatakan kalimat sayang. Aku sampai menyimpulkan sendiri bahwa orang-orang yang begitu aku sayangi akan sulit mendapatkan tulisan atau puisi dariku. Seperti kepada orang tuaku, kamu termasuk salah satunya. Mungkin karena aku tak bisa lagi membayangkan kebahagiaan sebab rasa bahagia itu sudah nyata bersama kamu (mungkin ini terlalu berlebihan). Setidaknya begitulah yang benar-benar aku alami, jika kamu meminta aku menuliskan sajak, puisi, atau cerita pasti aku kesulitan. Kalau kamu mau aku lancar menuliskan tentangmu, tentang persahabatan kita berarti kamu bukan benar-benar ada untukku. Nyatanya aku memang akan selalu kesulitan menulis tentangmu, tentang kita.

Aku tak pernah mengira sebelumnya jika pertemanan kita yang dimulai ketika awal masuk perguruan tinggi akan menjadi selama dan sedekat ini. Aku pikir, akan menjalani kehidupan di kampus dengan begitu indivudualis (meskipun awalnya memang aku merasa begitu). Aku sampai merasa, “kamu jawaban dari doaku” (ini serius). Kamu pernah mendengar kalimat itu bukan ketika aku bertemu dengan seseorang berinisial HB. Sebenarnya kalimat itu sudah ada lama sebelum aku mengenal HB, meskipun dia juga termasuk di dalam kalimatku satu itu walau hanya sebentar saja. Mengapa aku bisa mengungkapkan demikian? Karena aku tak pernah menemukan sahabat yang benar-benar sehabat sekalipun aku pernah punya teman dekat dari bangku TK hingga SMA. Aku tak pernah merasakan seperti bersahabat dengan kamu. Apa mungkin karena aku masih bersama dengan kamu saat ini? Sebab teman dekatku di bangku sekolah sudah tak lagi bersamaku. Tapi tidak, aku merasa bahwa memang bersahabat denganmu berbeda, aku bisa benar-benar menjadi diriku sendiri. Aku tak perlu bermuka dua atau sembunyi-sembunyi lagi tentang perasaanku, sebab kamu seringkali sudah mengetahuinya sebelum aku bercerita. Aku salut dengan banyak sekali – teramat banyak—pengorbanan yang kamu berika untukku. Aku sangat salut dengan sifat mengalahmu yang tiada duanya. Aku sampai heran dan pernah jengkel sendiri dengan sifat mengalahmu itu, tapi aku sadar kalau itu adalah salah satu nilai lebih dari kamu.

Aku tidak memungkiri jika masih ada celah-celah yang bisa membuat kita terkadang lengah dan mungkin saja bertengkar. Sadar bahwa setiap manusia tak terkecuali kita punya kekurangan, bahkan banyak kekurangan. Aku yakin kamu sering jengkel dengan sikapku, tapi aku harap kamu memakluminya karena hanya bersama dengan kamu aku merasa menjadi diriku tanpa harus mengover menjadi apapun. Aku juga masih merasa kita bersahabat dengan berbagai keterbatasan, tidak bisa selalu melancarkan hal-hal yang lebih gila lagi meskipun kita sudah pernah melakukannya. Hal-hal konyol sampai memalukan sekalipun. Kalau boleh berkhayal aku ingin kita berlibur di suatu tempat yang jauh, bersenang-senang di sana menghabiskan waktu. Berkelana ke tempat-tempat yang berbeda dari lingkungan sekitar kita. Tapi aku tahu, ada batas yang menghalangi itu semua. Sudah seringkali aku kecewa tentang batas-batas yang mengitarimu dan keterbatasan yang juga melingkupiku. Tapi biarlah, masih banyak kesempatan lain yang mampu kita lakukan tanpa melanggar batas-batas itu.

Cerita-cerita dalam kisah hidupku dari yang paling lapuk sampai mutakhir aku yakin kamu tahu. Diskusi-diskusi dari hal penting sampai sangat tidak penting pernah kita perbincangkan. Banyak hal dari dalam diri persahabatan kita yang membuat masing-masing dari kita kecewa tapi dengan mudah kita mengatasinya. Jarang sekali terlintas di benakku pertanyaan “apa benar kamu sahabat yang benar-benar sahabat?” Karena aku percaya bahwa kamu memang sahabat yang bisa diandalkan. Aku sudah pernah mengetahui bagaimana sahabat yang ternyata lebih membuat sakit daripada kekasih, dari yang kualami sendiri, cerita dari orang-orang  yang ada di sekitarku, sampai hanya cerita fiksi atau dongeng. Oh iya, ada satu yang menggangguku saat ini tentang seseorang yang sempat ingin kamu dengarkan ceritanya dan aku masih sebal saja dengan orang itu apalagi baru-baru ini ekspresi yang dia pernah ungkapkan pada kita waktu itu berbanding terbalik dengan potretnya bersama orang yang pernah dia bilang tidak suka. Ternyata banyak yang mengaku bahwa mereka bersahabat tapi dibumbui dengan kemunafikan. Semoga kita tidak seperti itu.

 Aku akhirnya merasa tak heran jika banyak orang yang iri kepada kedekatan kita sebagai sahabat. Semoga kamu merasa bangga karena aku juga merasa bangga memiliki sahabat seperti kamu. Ah, iya aku juga tidak melupakan juga seseorang yang juga berada di antara kita (penyeimbang kita berdua, you know who). Aku memang masih memegang prinsip jika sahabat yang memang benar-benar sahabat hanya satu tapi dia, si penyeimbang kita juga termasuk dalam sumber kebahagiaanku mungkin kebahagiaanmu juga. Dia juga sangat berjasa terhadap kehidupan persahabatan kita. Jika boleh menyalahi prinsipku sendiri, dia akan masuk ke dalam jajaran nama sahabatku.

Hhh... aku mulai kesulitan lagi merangkaikan kalimat untuk surat ini. Mungkin banyak ungkapan-ungkapan lain yang seharusnya ada di surat ini, atau kisah-kisah yang bisa dijabarkan dalam surat ini. Tapi sungguh aku merasa buruk menulis surat ini, banyak kata yang diulang, banyak kalimat yang tidak karuan. Ah, sudahlah daripada semakin berantakan aku sudahi saja surat ini ya...


Terima kasih sudah bersedia menjadi sahabat yang hebat. Semoga persahabatan kita langgeng hingga impian-impian kita tercapai kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik