10 Februari 2017
Teruntuk Bay:
Di gedung yang sama, aku
merindukanmu; dan kau (mungkin) masih mencintainya
Takdir
memang membawa kita kepada hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya,
seperti pertemuanku denganmu, seperti perasaan yang kuletakkan padamu hanya dengan
hitungan jam, seperti celoteh-celoteh mesra kita yang kau sandiwarakan. Apakah
ada perasaan yang salah? Jika ada, maka mengapa? Katakanlah padaku alasannya.
Andai dari awal kau tak acuh pada segala yang kukira akan ada selanjutnya, maka
tak seberat ini aku menanggung rindu sendirian.
Bay,
seumpama kau masih bersamanya dan tahu bahwa aku juga memiliki perasaan yang
sama seperti miliknya, mengapa aku tak kau beri kesempatan sama seperti yang kauberikan untuknya?
Kemudian, kau menjadikanku bagai seorang yang singgah dan bisa kau tinggalkan
kapan saja. Semenjak harapan-harapan yang kauberikan padaku menjadi waktu-waktu
abai, aku memilih berhenti untuk tak lagi menggapai apa-apa perihalmu yang tak
sampai. Meski kau sembunyikan ia dari perbincangan kita beberapa hari lalu, aku
masih perempuan yang diberkahi kepekaan lebih dari yang kau tahu. Bila memang
pendapatmu waktu itu, “kita bisa memiliki dan dimiliki siapa saja sebelum
akhirnya memilih satu untuk selamanya.” Maka mungkin aku adalah satu dari
sekian banyak perasaan yang kaujadikan perbandingan. Tapi cinta, sebegitu
materialistiskah dalam logikamu? Bagaimana bisa kau dengan mudah menjadikan perasaan
perempuan sebagai bahan percobaan untuk kau memilih masa depan? Ini terlihat
seperti aku menjadi korban dari apa yang kaulakukan, tapi bagiku tidak. Sebab
sampai kapan pun, aku akan tetap tulus mencintai seseorang baik dia ditakdirkan
selamanya atau sekadar saja.
Barangkali
Bay, namamu memang hanya sebagai ucapan selamat tinggal yang dititipkan
semesta untuk jalan yang kutempuh saat ini.
You’re my Bay
and my good bye~





