Tampilkan postingan dengan label #30harimenulissuratcinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30harimenulissuratcinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2017

Bay or Bye

10 Februari 2017
Teruntuk Bay:
Di gedung yang sama, aku merindukanmu; dan kau (mungkin) masih mencintainya

                Takdir memang membawa kita kepada hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, seperti pertemuanku denganmu, seperti perasaan yang kuletakkan padamu hanya dengan hitungan jam, seperti celoteh-celoteh mesra kita yang kau sandiwarakan. Apakah ada perasaan yang salah? Jika ada, maka mengapa? Katakanlah padaku alasannya. Andai dari awal kau tak acuh pada segala yang kukira akan ada selanjutnya, maka tak seberat ini aku menanggung rindu sendirian.

                Bay, seumpama kau masih bersamanya dan tahu bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama seperti miliknya, mengapa aku tak kau beri kesempatan  sama seperti yang kauberikan untuknya? Kemudian, kau menjadikanku bagai seorang yang singgah dan bisa kau tinggalkan kapan saja. Semenjak harapan-harapan yang kauberikan padaku menjadi waktu-waktu abai, aku memilih berhenti untuk tak lagi menggapai apa-apa perihalmu yang tak sampai. Meski kau sembunyikan ia dari perbincangan kita beberapa hari lalu, aku masih perempuan yang diberkahi kepekaan lebih dari yang kau tahu. Bila memang pendapatmu waktu itu, “kita bisa memiliki dan dimiliki siapa saja sebelum akhirnya memilih satu untuk selamanya.” Maka mungkin aku adalah satu dari sekian banyak perasaan yang kaujadikan perbandingan. Tapi cinta, sebegitu materialistiskah dalam logikamu? Bagaimana bisa kau dengan mudah menjadikan perasaan perempuan sebagai bahan percobaan untuk kau memilih masa depan? Ini terlihat seperti aku menjadi korban dari apa yang kaulakukan, tapi bagiku tidak. Sebab sampai kapan pun, aku akan tetap tulus mencintai seseorang baik dia ditakdirkan selamanya atau sekadar saja.

Barangkali Bay, namamu memang  hanya sebagai  ucapan selamat tinggal yang dititipkan semesta untuk jalan yang kutempuh saat ini.
You’re my Bay and my good bye~

Rabu, 08 Februari 2017

Adakah Luka Dariku?

Kepada @nebulasenja

Surat pertama, yang kuingat kamu.

                Bulan Februari, sepertinya sudah dua tahun lalu atau lebih aku selalu mengikuti event menulis cinta ini. Kali ini, surat cinta pertama kutulis karena yang kuingat pertama kali adalah dirimu. Entah dari mana ingatan itu tiba-tiba hadir, deras seperti gerimis yang rapat di kotaku saat menulis surat ini.

                Apa kabar? Masih mengingat pertemuan kita pertama kali di kota pahlawan? Kadang aku memaki-maki diri sendiri jika mengingatnya, kadang aku ingin sekali meruntuhkan ingatan itu dari kepala, kadang juga aku seakan-akan berharap kembali pada hari itu, hari yang begitu ganjil dan perasaan yang lebih acak dari pemenang undian berhadiah.

                Tapi, sesungguhnya isi surat ini bukan untuk mengenang atau mengungkit kembali apa-apa yang kita bicarakan di lobby kala itu. Sebab yang kurasa hingga saat ini, masih tentang “apakah aku menciptakan luka di dirimu?” Dan untuk pertanyaan satu itu, sama sekali aku tak bermaksud bahkan terpikir untuk melakukannya dengan sengaja jika memang benar kau merasa terluka. Tapi malam itu, pertemuan itu, bagai hari yang benar-benar ganjil bagiku, yang sampai saat ini perasaan ganjilnya masih aku rasakan. Adakah sesuatu masih tertinggal di hari itu?

                Jika memang kau merasa terluka karena pertemuan kita atau karena apa saja yang akulah penyebabnya. Maafkan aku serelanya. Hal-hal yang sempat kauberikan untukku, baik itu waktu, perasaan, sampai sajak-sajak, atau apa pun itu yang lupa aku sebutkan. Aku berterima kasih untuk itu semua. Sangat menyenangkan.



                Tentang  sajak-sajakmu, sampai detik ini, adalah sajak yang paling mengagumkan dan membahagiakan bagiku.  Diksi-diksi yang kautulis selalu menarik dari kacamataku.


                Jika memang ada luka dariku yang kaurasakan, semoga telah sembuh pada hari ini atau secepatnya nanti. Semoga telah kautinggalkan rasa sakitnya, semoga kebahagiaan lain telah memelukmu lebih dulu.

Februari, 8/2017 (15.15)

Jumat, 26 Februari 2016

Buat: Mas Bintang ☆

Aku menginginkan Bintang yang telah diraih tangan orang lain
Langit masih begitu luas,  pula rentangku yang masih sempit
Bintang itu tiba-tiba jatuh tepat di debar jantungku

Namun Bintang itu tak pernah sadar di mana cahayanya jatuh. Hai Mas Bintang, aku tahu kau tak pernah mengenalku pun aku tak pernah punya keberanian untuk berkenalan. Nasibku tak baik untuk sekadar menjadi temanmu, padahal kata banyak kawan aku harusnya sudah mengenalmu sejak lama karena kau melakukan tugas yang sama denganku ketika penerimaan mahasiswa baru. Mungkin memang kesempatan tak punya jalan untuk mempertemukan kita saat itu. Mungkin aku pernah sesekali memandangmu sekilas di waktu lampau dan sudah mengagumi sejak dulu hanya saja, baru dua hari ini aku merasakan hangat jalar saat memandangmu. Ya, kedua pertemuan berturut-turut itu terjadi di tempat yang sama; perpustakaan. Begitu aku akhirnya memercayai mitos tentang, “jika bertemu dengan satu orang yang sama selama tiga kali berturut-turut maka, dia adalah jodohmu.” Aku ingin mengamininya seketika jika saja hari ini aku bertemu denganmu di tempat yang sama atau di lingkup kampus. Padahal sudah lama aku tak menyambangi kampus sejak semester delapan kupijaki, hingga pada dua hari itu perpustakaan kampus sangat menyenangkan hatiku dengan kehadiranmu yang meski sekilas serta dengan seseorang yang kaucintai. Ahahaha, aku ingin tertawa tiba-tiba sebab aku menginginkan seseorang yang telah menjadi milik seseorang. Tiba-tiba pula sebuah lagu berputar berulang-ulang di kepalaku;

Biarkan aku melukiskan bayangmu
karena semua mungkin akan sirna
Bagai rembulan sebelum fajar tiba
kau selalu ada walau tersimpan
di relung hati terdalam

Sebuah lagu milik Adera yang mungkin tak keseluruhan lagunya menggambarkan perasaanku dengan pas, yang mungkin harusnya bintang dalam lirik itu bukannya bulan, tapi lima baris lirik lagu itu sudah cukup mewakili bagaimana aku saat ini terhadapmu, Mas Bintang. Aku juga cukup senang dengan cara seperti ini saja --mengagumimu dari jauh—sebagai semangatku menyusun skripsi. Aku tak ingin menyemogakan macam-macam tentang perasaanku terhadapmu, hanya saja saat ini aku akan sering menyebutmu dalam ingatan doa-doa.

Surat ke-27 yang akhirnya ditujukan buat Mas Bintang, setelah beberapa surat sebelum ini hilang.



Selasa, 16 Februari 2016

Pertanyaan-Pertanyaan yang Menimbulkan Cemas Juga Gemas

Banyak yang tak mampu kujangkau tentang kau
Setidaknya, jika memang begitu berilah semua pertanyaanku jawabannya.

Malam kemarin hingga sore hari aku tak henti mengeluh tentangmu, sahabat-sahabatku juga beberapa kali menanyakanmu, dan aku, hanya bisa memasang muka tak tahu. Aku dibuat seperti orang bodoh hari ini olehmu, membuat hari ini dilalui dengan dongkol, juga pertanyaan-pertanyaan yang entah akan kutanyakan ke siapa sebab jika kutanyakan padamu jelas tak akan menemui jawabannya. Aku bahkan sempat berpikir kau hanya seorang pembohong dan salah seorang sahabatku berkata bahwa kau adalah laki-laki yang tak punya nyali. Entahlah. Hari ini perbincangan tentangmu hanya berupa hal-hal negatif.
Bahkan setelah kau sampai di kotaku, pertanyaan-pertanyaanku hanya seperti lalu bagimu. Sedang kedua sahabatku berkata bahwa kau sedang mempersiapkan kejutan untukku. Tapi aku, tak begitu suka kejutan; daridulu. Kau telah mengacaukan waktuku hari ini, meruntuhkan harapanku berkali-kali, dan pertanyaan-pertanyaanku hanya jadi teka-teki. Setidaknya, bisakah kau tak membuat orang yang telah telanjur jatuh hati padamu ini khawatir? Setidaknya, kabari aku dengan pernyataan yang jelas agar aku tak sibuk bertanya-tanya.
Semoga setelah ini, kau tak menjadi seseorang yang membuat cemas-cemasku semakin liar. Jika tidak, aku tak bisa menjaga diriku untuk tak lagi tak memedulikanmu sebab aku bukan seseorang yang pandai memelihara rasa cemas. Aku tak ingin membuat diriku sendiri malas untuk tak memikirkanmu tapi jika kau masih terus saja seperti hari ini, maka entahlah… mungkin aku atau kau nanti yang akan memilih enyah.


Untuk penutup surat ini, aku ucapakan “Selamat datang di kota Surabaya.” Semoga dari sini kita dapat memulai apa-apa yang harusnya memang kita mulai.

Senin, 15 Februari 2016

Teruntuk: 2 Sahabatku

Sudah berapa jalan yang kita telusuri bersama? Sudah berapa arah mata angin yang kita tempuh? Sudah berapa tempat yang kita berhasil temukan?
Jawabannya pasti lebih dari dua puluh dan semuanya hanya bisa kutemukan dengan riang hanya dengan bersama kalian.

Surat cinta hari ini sebenarnya sudah kupersiapkan dan tinggal dikirim ke tukang posku, tapi apa daya pagi ini aku ingin mengirimkan satu surat untuk kalian sebab perbincangan kita di wasap sebelum pukul tujuh berdentang. Jujur, aku sempat merasa pesimis jika tahun ini tak akan ada surat cinta untuk kalian, sebab aku selalu begitu, kurang bisa menuliskan apa-apa tentang keakraban kita dengan susunan kata seperti yang kebanyakan kutuliskan untuk orang lain. Hal ini dikarenakan aku sudah tak perlu memgungkapkan apapun lagi, sebab aku yakin kalian lebih dari sekadar mengerti bahwa aku benar menyayangi kalian. Tapi apalah aku ini, kak. Cuman remah-remah roti yang memunguti rasa sedih untuk dijadikan puisi. Maka, untuk kalian tak ada istilah sedih sebab sebagian besar waktu bahkan hampir semuanya bersama kalian berdua adalah waktu yang sangat menyamankan.
Aku ingin sedikit bercerita, malam Sabtu (malam minggu kemarin) setelah malam puisi, aku mencari salah satu tempat dan kalian tahu, aku hampir sepuluh kali bolak-balik jalan untuk menemukan tempat itu dan sempat merasa “Ah, ya sudahlah.” Ketika sudah menemukan jalannya tapi tak menemukan tempatnya. Aku juga sudah bertanya pada salah seorang yang sepertinya mengetahui betul jalan yang kutuju, dia bilang bahwa tempat yang aku cari itu tak ada. Jadi aku sempat merutuki google maps berkali-kali, hingga di jalan pulang secara tak sengaja aku menemukan tempat yang aku cari. Pada saat itulah aku teringat kalian berdua, “Kalau cari jalan atau tempat sama mereka pasti lebih gampang dan nggak butuh tenaga lebih seperti ini. Huft.” Aku membatin sambil menahan pipis karena terlalu lama di jalan padahal pengen buang air kecilnya sudah dari Heerlijk Library. Hhh…

Terima kasih untuk segala pengorbanan kalian selama ini untuk apa-apa yang aku butuhkan dan inginkan. Terima kasih telah menjadi penunjuk arah yang lebih mengasyikkan dibanding kompas. Terima kasih untuk apa-apa yang aku keluhkan dan kalian menjadi ruang pencarian solusi lebih handal daripada google.

Love ya…

Rena ^^



Minggu, 14 Februari 2016

SM3T

Untuk niat yang mulai dimantapkan untuk mengabdi ilmu di pelosok negeri,

Awalnya, aku tak pernah berniat ingin menjadi guru. Perkuliahan yang sering membahas tentang pendidikan dan praktik mengajar lapangan membuat saya mulai peduli dengan dunia pendidikan meskipun hanya di beberapa aspek saja. Aku berpikir setelah lulus nanti akan melamar pekerjaan di bidang yang aku inginkan menjadi jurnalis atau editor, lalu akhir-akhir ini aku seperti merasa ingin berbagi ilmu dengan anak-anak di negeri ini sekalipun aku tak begitu mahir mengajar. Tapi beberapa temanku menilai aku sudah pandai menguasai kelas atau mengambil hati anak-anak untuk memperhatikan aku mengajar. Namun aku merasa tidak sepenuhnya seperti itu. Perhatianku juga dialihkan dengan anak-anak di pelosok negeri ini yang sekolahnya begitu memprihatinkan. Beberapa kali aku melihat di televisi. Sebenarnya saat ini juga gencar-gencarnya ada proyek mengajar bersama untuk para anak muda bagi anak-anak di pelosok, seperti 1000 guru, Indonesia Mengajar, dan masih banyak lagi yang lainnya. Aku ingin ikut salah satunya, sudah sempat mendaftar pula namun apa daya keadaan belum mengizinkan.
Akhirnya aku berniat untuk mengikuti program SM3T setelah lulus nanti, kedua orang tua juga menginginkan aku turut serta karena tahu bahwa setelah itu untuk menjadi guru PNS bisa lebih mudah. Tapi aku, merasa bukan itu tujuannya, aku ingin benar-benar mengabdi, menjadi seorang guru yang menyenangkan begi murid-muridku nanti. Mungkin semua ini memang seperti idealisme seorang pengajar, sekalipun idealisme itu belum tentu terlaksana tapi aku ingin memulai memantapkan niatku untuk turut mengabdi. Memang dulu, aku tak pernah ingin ikut mengajar di tempat pelosok semacam itu karena saya khawatir tidak sanggup, cemas jika mental saya tak kuat karena sudah terbiasa hidup di daerah yang serba mudah mendapatkan apa-apa. Namun mulai saat ini aku akan terus berusaha memperteguh niatku lagi. Salah satu caranya aku memfollow instagram sm3t.inspirasi.indonesia di sana disajikan foto-foto yang seringkali membuat saya tersenyum sekaligus terenyuh. Aku ingin mencintai negeri ini dengan mencintai anak-anak di pelosok negeri.


Semoga, kian hari niatku kian mantap untuk mengabdi.

Sabtu, 13 Februari 2016

Amarah

Untuk amarah yang tertahan dan tak punya kata untuk bersuara

Apakah ada orang di dunia ini yang bercita-cita untuk menjadi seorang pemarah? Jika tidak ada, maka tak sepenuhnya hidup akan terbebas dari rasa marah. Mungkin amarah adalah salah satu sifat manusiawi, sebab tak ada suatu hal sepanjang usia diembuskan di tubuh kita akan sesuai rencana, berjalan seperti yang kita inginkan, jelas itu semua tak mungkin terjadi. Ada yang berkata bahwa amarah tak boleh dipendam lama-lama sebab akan jadi benci kemudian jadi dendam. Jadi, ketika kita marah haruskah kita bersuara lantang, mengucapkan umpatan-umpatan untuk meluapkan emosi? Barangkali, umpatan-umpatan itu mirip air mata yang ditangiskan ketika bersedih karena setelahnya akan merasa lega.
Aku belum mengetahui bagaimana keadaan begitu semakin buruk setiap harinya, semakin menumpukkan kecewa, dan amarah dibendung dengan diam. Aku takut menjadi pendendam, jika saja amarah yang kupunya hanya berlama-lama kupendam. Setidaknya harus ada ruang untuk melampiaskan rasa kecewa, tak suka, dan apa saja yang tak aku inginkan tapi tetap terjadi belaka. Aku selalu memimpikan tempat yang damai, tidak ada amarah yang diledakkan atau kecewa yang dihantamkan. Semua mengalir tenang, tapi aku akan tersadar bahwa selama aku masih manusia maka akan ada sisi gelap dan berontak dalam diriku. Bosan merasa tenang-tenang saja tapi pada suatu hari pasti akan ingin kembali bermimpi dan pulang dengan perasaan damai.

Semoga, amarah-amarah ini tak jadi kepiluan yang berdarah-darah.

Jumat, 12 Februari 2016

Hari Ini, di Restoran Cepat Saji

Kepada seseorang yang selama 8 semester ini menjadi teman (entah sebutan itu sesuai atau tidak)

Aku tak yakin kita adalah sebenar-benarnya teman, sahabat juga sepertinya bukan istilah yang tepat. Tapi apalah arti sebuah istilah, kita sudah saling mengerti; pasti. Aku tak akan memberikan surat ini dengan memention akunmu, sebab kau berada tepat di depanku saat ini. Di restoran cepat saji, sibuk dengan smartphone masing-masing, kau stalking akun instagram idol-idolmu, aku sesegera mungkin membuat surat ini. Perbincangan kita seputar skripsi, tentang kawan-kawan kuliah, dosen, dan apapun itu. Barangkali di antara kita juga masih sungkan membahas perasaan. Tapi aku sudah tak boleh mengungkit-ungkit tentang ini, sekalipun kau baru saja putus dari perempuanmu. Perempuan yang katamu jarang sekali kauhubungi itu.

Aku memilih duduk di pojok ruangan, aku suka dengan pemandangannya yang miliki jendela kaca luas tanpa penghalang sehingga aku bisa melihat lalu-lalang kendaraaan atau awan. Musim sedang mendung dan aku masih membenci turunya hujan; semoga kau tidak. Kau ingat bagaimana kita dulu berbalas puisi di salah satu event di twitter? Ya duet puisi, aku kira kau lupa. Ketika kutanyakan langsung padamu ternyata kau masih ingat dan aku dibuat terkejut ketika kau ingat waktu event itu dibuat. Ah, puisi kadang memang seperti alarm atau lingkaran merah di kalender. Atau ada hal lain yang bisa membuatmu masih mengingat? Karena aku sudah begitu lupa, ingatanku telah penuh entah oleh apa itu. Berkali-kali kau menyentil keningku karena melamun. Aku juga tak tahu apa yang aku pikirkan, tapi akhir-akhir ini aku lebih senang dan sering diam sendiri kemudian tiba-tiba sudah berada di awang-awang lamunan. Ah, sudahlah.
Sepertinya, kuakhiri saja surat ini sebab kupikir tak ada pesan apa-apa yang bisa kauambil di dalamnya. 

Kamis, 11 Februari 2016

Yang Membawamu Pulang, Mengakhiri Kita

Untuk gerbong-gerbong yang membawa tubuhmu kembali pulang.

Aku tak suka sore hari berada di stasiun kereta api, menyaksikan langkah-langkah yang meninggalkan; termasuk langkah milikmu. Semampu-mampunya aku menahan kesedihan jatuh dari pelupuk mata dan kuganti dengan bibir yang lebih sering memanipulasi senyuman sekaligus menanyakan hal-hal tak penting kepadamu. Biar saja, kau hanya mengetahui bahwa aku seseorang yang mampu menampung rindunya yang akan dimulai saat keretamu hilang dari pandangan. Aku lupa pukul berapa tepatnya jadwal keberangkatanmu, aku hanya ingat setelah itu aku melangkah cepat-cepat keluar dari pintu masuk stasiun, terduduk di bawah pohon, dan menangis.
Aku mengerti kepergianmu yang untuk pulang itu, tak akan kembali membawamu ke sini; ke kotaku. Sebab sampai sanalah, kisah kita diakhiri. Jika kau membaca surat ini, semoga masing-masing dari kita telah berbahagia dengan langkahnya masing-masing sebab aku tahu langkah kepergianmu pasti memiliki alasan dan tujuan yang tak menujuku. Tapi sebisa mungkin aku menerimanya, rela atas apa-apa yang sempat kumiliki meski hanya sekilas. Setelah petang jatuh hari itu, aku pergi ke kedai kopi. Tidak, aku tidak menangis hanya lebih sering melamun. Perlahan-lahan aku nikmati kopi yang kupesan, perlahan-lahan pula aku minum gelas demi gelas perasaan yang mulai runtuh kekuatannya. Aku ingin melupakanmu saat itu juga, bersama semua kenangannya. Tapi, mana ada kenangan yang tak bertahan lama di hatiku meskipun di kepala telah renta. Setiap kenangan pasti jadi purba tapi tidak rasanya. Sejak saat itu, jika cinta juga demikian mudahnya menjadi benci. Aku membenci hari di mana kau bersikeras menemuiku di kotaku. Aku benci hari di saat aku menjemputmu di stasiun kereta. Aku benci tawa kita.


Dan, sampai saat ini semua yang pernah aku lalui bersamamu hanya menjadi benci yang tak ingin kuulangi.

Rabu, 10 Februari 2016

Yang Mempertemukan Kita Lebih Dulu; Mimpi

Untuk mimpi yang telah mempertemukan kita,

Aku semakin tak sabar ingin berjumpa denganmu, meski aku belum tahu hari mana yang kau akan pilih, meski aku tak tahu penantianku harus bersabar sampai kapan, namun yang jelas saat ini aku menikmati perasaan-perasaan lain yang mulai tumbuh untukmu. Aku sering menunggu balasan pesanmu hingga terlelap, padahal sebelumnya aku belum pernah seperti itu kepadamu. Aku sering membayangkanmu ada di sampingku ketika sendiri atau sebelum waktu tidurku tiba, di dalam keramaian pun aku sering membayangkanmu seperti orang lain yang sedang duduk di kursi seberang atau bercengkerama dengan teman. Kini, kau sedang penuh di kepalaku disertai harapan-harapan yang berlebihan. Biarlah, aku jadi seorang pejatuh-cinta sekali lagi. Sebab dari situlah semangat beranak-pinak mengiringi hari-hariku, terima kasih sudah menjadi pengisi dalam diriku yang sempat kosong.
Di mimpiku, aku sedang berada di stasiun. Berlarian mengejar entah apa dengan menggandeng tangan sahabatku, aku mencari seseorang; mungkin kau. Sahabatku panik bukan kepalang, apalagi ketika langkahku yang derap itu menuju kereta api yang akan meninggalkan peron. Aku melongok-longok di kaca jendela, berharap menemukan sosok yang kucari. Hingga akhirnya dari kereta yang hampir habis gerbongnya di dalam peron, aku menemukan seseorang keluar dari satu pintu gerbong. Dia membawa koper beroda, dengan tiba-tiba aku menghambur memeluknya. Lalu aku memperkenalkan orang itu kepada sahabatku dengan namamu. Wajahmu begitu samar, buram oleh warna putih seperti kabut. Kau menggandengku menuju pintu keluar stasiun, mengajakku makan di sebuah kedai, sahabatku menanyaimu dengan pelbagai hal dan aku lebih sering tersenyum-senyum sendiri. Kau menanyakan hal-hal aneh seperti yang sering kau tanyakan padaku ketika kita sedang chat. Tiba-tiba aku terbangun ketika kita pergi meninggalkan kedai dan jatuh ke dalam keriuhan serta keramain stasiun kereta. Aku seperti mendengar lonceng nyaring berbunyi, ternyata alarm di handphoneku. Ah, sial sekali padahal aku ingin bermimpi bersamamu lebih lama lagi. Tapi semoga kelak, ketika kita direstui bertemu, semoga waktu bisa berjalan seirama dengan keinginanku untuk bersamamu.


Kau berkata bahwa aku juga ada di mimpimu dan kau keheranan karena tantemu mengenalku. Mungkin di semua mimpi setiap orang bisa mengenal orang lain tanpa ritual perkenalan. Aku ingin mimpi-mimpi serupa yang mempertemukanku denganmu akan sering hadir dalam bunga tidurku sampai masa di mana aku benar-benar bertemu denganmu tiba.

Selasa, 09 Februari 2016

Sepotong Pagi dari Di

Aku sudah lama tak berteman dengan pagi, semenjak malam terlalu ingin menjagaku dari rasa kantuk dan mengkhianati pagi untuk tak lagi menemuinya.

Hai, Di…

Aku masih penasaran dengan sepotong pagi yang kauberikan untukku, apa alasannya kau memilih pagi? Sebab aku tahu kau paham bagaimana aku tak lagi memiliki pagiku sendiri semenjak lelap baru kujelang setelah subuh datang. Begini kaumenuliskannya untukku;

Dari yang pernah kau yakini
Yang menyimpan senyummu,
Hanyalah sebuah pagi.

Sajak yang manis disertai watercolor dan ada tulisan namaku di sana, aku sangat terkesan. Sekalipun pasti orang lain hanya menganggapnya “hanya begitu saja” tapi aku menganggapnya hadiah sederhana yang begitu istimewa; sebab darimu. Namun masih banyak hal-hal yang masih sulit untukku mengerti tentangmu, maka kapan kita bertemu? Meluangkan banyak waktu untuk sekadar bercakap-cakap demi mengenal diri masing-masing. Aku masih menunggumu di kotaku, dengan harapan yang sudah kunantikan sejak pertama kali aku jatuh cinta padamu. Jatuh cinta dengan sajak-sajak yang selalu memenangkan kekagumanku. Kau mengabarkan padaku untuk segera menemuiku, debar-debar di dadaku sudah berulang kali riuh lebih dulu hanya karena mendengar niatmu bertamu. Tapi kau tak pernah memberitahuku kapan tepatnya kau akan datang, itu lebih membuatku penasaran, cemas, dan resah yang berlebihan. Jujur, sekalipun aku menantimu sesabar ini, aku juga takut dengan hal-hal lain yang akan ditimbulkan perasaanku yang begitu mudah berubahnya. Namun kau jangan khawatir dengan itu, selama di kotaku nanti, aku akan berusaha menjadi tuan rumah yang bertanggung jawab.

Terima kasih untuk sepotong pagi yang kaubingkiskan untukku, Di. Kau masih kunanti.

Senin, 08 Februari 2016

Di Sebuah Kedai Kopi


Di kedai kopi itu aku merenung, dengan hujan yang turun deras di luar sana, dengan sepasang kekasih bermesraan dengan aku yang mencuri pandang seorang diri, ternyata merasa sepi tak harus sedang sendiri.

Malam itu, aku ingin memesan kopi dengan gula yang banyak biar pahit hanya sebagai mitos belaka. Tapi seperti kata pujangga bahwa kita tak dapat membohongi rasa pahit kopi karena kopi tetaplah menyimpan rasa pahit sekalipun kau meraciknya agar terasa manis. Seperti aku yang tak bisa membohongi kerinduanku pada waktu-waktu di mana aku sedang bersamamu, bersama laki-laki yang sempat menyatakan cinta atau sayang padaku. Aku ingin mengulangnya kembali atau jika tak bisa aku perlu untuk membuat kisah cinta baru lagi. Setidaknya ada yang tetap membuat taman asmaraku tetap tumbuh bunganya, biar gersang tak datang. Tapi apalah luka, sering membuatku menunda untuk membuka hati dan sekali lagi mencoba. Perasaan memang kerap beralih, tapi ada beberapa rasa yang tetap tinggal.
Seperti kedai kopi yang menjadi tempat baru bagiku, meskipun aku rindu meminum kopi di kedai kopi yang sering kukunjungi. Aku mencoba membuat suasana baru, bukan sekadar untuk memenuhi hasrat untuk check in lokasi di sosial media. Sebab, tempat-tempat baru begitu membuat penasaran, apakah aku akan mendapatkan rasa senang atau sebaliknya? Kali ini, aku mendapati suasana yang cukup aneh yaitu keinginan merenungi hujan. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat pintu masuk kedai yang terbuka lebar dan runtuhnya hujan juga jelas mampu kulihat. Sembari menunggu pesanan datang, aku membayangkan tentang kehujanan yang tak sendirian, aku membayangkan cokelat panas setelah kehujanan, aku memabayangkan kau yang tiba-tiba muncul menujuku, aku membayangkan kedai kopi dan kau yang berada di depanku sambil tersenyum memandangi aku yang merenungi jatuhnya hujan. Sebenarnya, daridulu aku tak begitu menyukai hujan juga musimnya. Entah karena apa, tapi malam ini ada suasana lain yang ditimbulkan oleh turunnya hujan di malam tahun baru imlek.

Semoga, kedai-kedai kopi selanjutnya kau tak akan tinggal diam untuk mengizinkanku pergi sendiri dan lekas-lekas kautemani. Wahai kau, seseorang yang akan melengkapiku nanti; jodoh.

Minggu, 07 Februari 2016

Bandung yang Loveable

Salam berbahagia, Duta Jomblonya Kota Bandung 

Saya mengirimkan surat ini dengan begitu awamnya mengenai Bapak, hanya sekadar tahu bagaimana sosok Pak Ridwan dari instagram, berita-berita di media massa, dan pelbagai gosip atau pembicaraan orang-orang. Perkenalkan terlebih dahulu, nama saya Rena tinggal di Sidoarjo dan salah satu mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Surat ini adalah salah satu dari event yang saya ikuti #30HariMenulisSuratCinta dan tanggal 7 Februari memiliki tema mengirim surat cinta kepada tokoh terkenal; saya memilih Pak Ridwan Kamil.

Mengapa? Entahlah...
Saya rasa laki-laki Bandung selalu Loveable, saya juga heran mengapa para lelaki Bandung begitu sering membuat saya jatuh cinta. Saya pernah jatuh cinta juga pada salah satu warga Bapak dan sekarang hanya menjadi mantan yang paling pengertian dari mantan-mantan yang pernah ada. Tapi sayang, dia seorang fotografer yang habis-habisan menipu saya. Tahun lalu, saya sempat berkunjung ke kota Bandung dan betapa saya telah dibuat kagum sekalipun hanya berjalan-jalan di sekitar Lodaya dan jalan Asia Afrika. Cerita cinta saya yang jarak jauh atau LDR itu ditenun di sana, meskipun kali ini hanya menjadi sebuah kenangan yang begitu lekat dalam ingatan. Kota Bandung bukan hanya kota kembang ternyata juga kota yang menyuguhkan banyak cinta dari bermacam sudut pandang. Andai, suatu hari nanti saya bisa ke sana lagi. Bandung, kota yang pesonanya tak rampung-rampung.

Pak, saya sungguh terkesan dengan cara memimpin Bapak terhadap kota Bandung. Dari pembuatan taman, sungai, dan sawah di tengah kota. Seandainya Bupati di kota saya juga seperti Bapak cara berpikir, bertindak, dan memimpinnya mungkin lumpur lapindo yang dekat dengan rumah saya sudah disulap menjadi ruang publik yang berguna. Tapi, sampai saat ini hanya menjadi tempat wisata yang memendam berjuta-juta kepedihan korbannya dan menurut saya, sampai kapanpun itu, tanggul lumpur tak pernah bisa menjadi tempat wisata yang menggembirakan.

Saya tidak bisa menulis banyak dalam surat ini, karena jika saya teruskan malah akan menjadi curhatan yang bertele-tele dan tidak penting. Jadi, biarlah surat cinta ini sampai di sini. Saya tak akan berhenti kagum dan jatuh hati pada Bapak Ridwan Kamil, semoga Bandung tetap menjadi kota yang selalu mampu membuat orang-orang jatuh cinta.

Salam,
Rena ^^

Sabtu, 06 Februari 2016

Untuk Kak Insan

Hai kak, apa kabar?

Sudah lama kita tak pernah chat lagi di line, sebenarnya aku cukup merindukan hal itu. Sekalipun yang kita bicarakan hanya hal-hal biasa, meskipun kita belum pernah bertemu sebelumnya. Jujur, aku sedikit merasa bahwa aku hanya seseorang yang mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting. Maafkan ya kak… Eh, ngomong-ngomong aku suka dengan namamu Kak, Insan Restu. Unik tapi sepertinya begitu syarat makna.

Di surat ini, di event 30 hari menulis surat cinta untuk satu hari aku ingin mengirimkan surat kepadamu. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin sebelum niatku ini diembuskan angin. Aku cukup terkesan ketika kak Insan sering merepost sajak-sajak atau puisi-puisi, aku pikir laki-laki seperti Kak Insan tak begitu menyukai hal-hal puitis. Apalagi kakak juga sering meretweet cuitanku di twitter. Boleh aku tahu apa alasannya?
Ah, iya. Aku boleh curhat tentang skripsi ya. Sekarang aku sudah menginjak semester delapan, sudah saatnya menyusun skripsi dengan lebih serius. Aku sudah mencoba untuk menyusunnya dari semester tujuh karena aku sempat berpikiran untuk lulus tiga setengah tahun, tapi sepertinya hal itu telah pupus. Aku sering terbebani dengan keinginan orang tua yang menginginkan aku lekas lulus, tapi aku sendiri seperti masih belum sanggup. Akhir-akhir ini aku juga merasa tertekan karena antara keinginan, kemauan, dan usaha tidak sejalan. Ditambah dengan ada rasa iri dengan teman-teman seangkatan yang sudah menerima spk dan akan wisuda April nanti. Apakah Kak Insan punya tips, cara, kata-kata motivasi, atau apapun itu untuk bisa lebih rajin menyelesaikan skripsi? Hmm… Kak Insan juga kapan wisuda?

Hihihi, aku merasa surat ini lebih banyak curhat ya. Tapi memang kebanyakan surat-surat yang kutulis sebagian besar isinya curhat. Tapi, semoga Kak Insan tak risih untuk membaca surat ini. Emm… aku boleh ya menutup surat ini dengan secuil puisi…

Bukan salah angin mengubah arah, barangkali hanya langkah yang ingin menapak berbeda
Andai saja, suatu waktu semesta merestuiku menemuimu
Dengan pelbagai tanya juga resah, apakah kau bersedia mengurainya?
Kata seorang pujangga, kepala kita hanya berisi perang dengan kecemasan-kecemasan
Tapi jika hari saat kita berjumpa nanti akhirnya dipenuhi, aku hanya ingin berbincang tentang hal-hal sederhana
Segala yang tak menyimpan curiga, segala yang orang lain anggap biasa saja tapi kita menyebutnya sekotak bahagia


Jumat, 05 Februari 2016

Marvin Gaye

Aku tak bisa menahan diri untuk tak menulis surat ini untukmu. Ya, surat kedua.

There’s loving in your eyes
That pulls me closer
It’s so subtle, I’m in trouble
But I’d love to be in trouble with you

Ya, sama seperti matamu yang kukagumi itu. Barangkali ada cinta di dalamnya ketika aku berkesempatan melihatnya secara langsung. Aku sudah terperosok pada kesulitan oleh sebabmu, tapi aku menyukainya. Menyukai bagaimana sulitnya kembali jatuh hati pada seseorang yang jauh dan belum tentu sama memiliki perasaan sepertiku. Namun semua ini begitu menyenangkan meskipun seringkali mengecewakan.

Begitula aku membatin tiap kali mendengar bagian lirik itu. Seharian ini aku tak henti-hentinya memutar nyanyian Charlie Puth ft. Meghan Trainor, hal ini sama seperti lagu berjudul Two is Better Than One yang pernah kaukirimkan. Entahlah… aku selalu mengingatmu ketika mendengar dua lagu itu dan sekarang lagu Marvin Gaye yang menjadi primadona di playlistku. Let’s Marvin Gaye and get in on. You got the healing that I want, just like they say it in the song until the dawn. Let’s Marvin Gaye and get in on. Tapi sejujurnya aku tak begitu tahu maksud keseluruhan lagu ini, meskipun ada bagian-bagian lirik tertentu yang aku mengerti. Bisakah kau menjelaskannya?
Nyatanya, bukan hanya lagu Marvin Gaye saja yang menjadi teman bagi aktivitasku hari ini tapi juga tentang kau. Entah apa saja itu, yang jelas semua subjeknya adalah kau. Aku kira bisa bertahan untuk membiarkan kelebat-kelebat pikiran tentangmu itu tapi lagu-lagu yang kaukirimkan itu turut andil menghasutku untuk sekali lagi luluh, jatuh. Atau mungkin karena kesendirianku hari ini, kalau boleh bercerita aku sudah memulai keluar dari zona nyaman bersantai-santai karena harus lekas menyelesaikan skripsi. Hari ini aku berkunjung ke perpustakaan universitas seorang diri, ternyata pergi sendiri di antara orang-orang lain yang bersama temannya cukup membuatku frustasi.
Aku senang kaudengarkan ceritanya, kau sebut aku seseorang yang suka menceritakan banyak hal bukan? Padahal aku tak secerewet seperti di tulisan-tulisan. Dan jujur, aku merindukan kau yang chat-chatnya biasa saja, yang sering membuatku sebal karena balasan yang singkat, yang suka membuat pertanyaan dengan jawaban lelucon begitu garingnya, yang… ah, apa pun itu aku merindukannya.

And when you leave me all alone
I’m like a stray without a home
I’m like a dog without a bone
I just want you for my own


Kamis, 04 Februari 2016

Surat Cinta yang Mungkin Bukan Berisi Cinta

Hai, Kak Paay…

Di surat keempat kali ini aku mengabulkan keinginanmu, sebuah surat cinta kukirimkan melalui #30HariMenulisSuratCinta. Tapi surat cinta ini hanya sekadarnya saja, surat cinta yang harusnya tak kubuat-buat, seperti sebuah kejujuran seorang perempuan yang sedang cinta-cintanya. Maka, begitulah nanti kalimat-kalimat suratku berbunyi…

Hari itu, entah kapan. Mungkin aku lupa pun kau. Namu aku masih mengingat percakapan kita di direct message twitter, kau menawariku untuk mengikuti antologi puisi yang sedang digelar Malam Puisi Depok. Aku merasa terhormat saat itu, tapi jika aku boleh jujur, betapa aku patah hati setelah bukunya telah sampai di genggam jemari. Bukan karena packing bukunya yang tak bagus, atau isinya yang tak sesuai, tapi kritik yang ditulis oleh seseorang untuk puisiku. Bukan apa-apa, tapi aku ingat aku mengirim beberapa puisi dan mungkin akan terselamatkan dari komentar tajam itu jika puisiku yang lain yang dipilih, aku pun tak tahu siapa yang memilih puisi itu untuk dimasukkan ke dalam buku antologi. Aku sudah lama menanti buku tersebut terbit dan sempat kutanyakan berkali-kali, sebab itulah aku tak ingin terlarut patah hati hanya karena sebuah masukan yang harusnya membangunku ke depan. Setelah patah hati itu, aku tetap sangat berapresiasi dengan buku yang begitu epiknya dengan memostingnya di instagram. Setelah satu curhat ini, kau masih percaya jika puisi-puisiku sebagus yang kaupikirkankah kak Paay?
Maafkan, paragraf pertama surat ini yang tak mengenakkan hati. Mungkin paragraf selanjutnya juga tak akan enak dibaca, sepertinya surat cinta ini menjadi ajang curhat tak terkira. Taka pa ya? Jangan kecewa. Apakah dikirimi surat cinta begitu menyenangkan kak Paay? Aku rasa iya, karena sekalipun surat itu tak berisi puisi-puisi atau rayu-rayu, kita akan tetap merasa senang karena kekhususan ke mana surat itu dituju. Semoga kaupun merasa begitu, senang membaca suratku yang hanya curhat ini.
Kak Paay, sebenarnya aku selalu penasaran dengan akun-akun di twitter tak terkecuali akunmu. Rasanya, aku ingin mengenal satu per satu akun yang sebagian bukan nama asli itu. Jadi, nama aslimu siapa kak? Akunmu bukan alter, kan? Ahahaha. Aku termasuk orang yang terbuka, kak. Bukan seseorang yang pandai menjaga rahasia, barangkali kamu ahlinya. Hmm, setiap yang mengirimkan pesan lewat DM aku selalu ingin mereka lebih jauh, termasuk Kak Paay. Aku ingin tahu Kak Paay yang sebenarnya seperti apa? Berdomisili di mana? Usianya berapa tahun? Sedang sibuk apa? Sudah punya pacarkah? Ikut dalam komunitas sastra apa saja? Suka buku apa? Dan, banyak hal lain yang ingin kutanyakan. Seperti seorang pacar yang selalu ingin tahu bagaimana identitas pasangannya sedetail-detailnya. Jadi, aku rasa pertemanan kita ini akan jadi seru jika terus saling berkomunikasi dan terbuka. Sekalipun aku tetap was-was menjalin hubungan apa pun di media sosial tapi aku percaya Kak Paay termasuk seseorang yang baik hati.

Sudah ya kak, semoga usahaku mengabulkan keinginannya Kak Paay untuk mendapatkan surat cinta cukup kupenuhi. Maafkan segala isi suratnya yang tak begitu penting.

Salam,

Rena ^^

Rabu, 03 Februari 2016

Jangan Kembali, Jika untuk Pergi!


Malam itu, ketika kesendirianku telah lebih larut dari pukul dua belas, kau tiba-tiba hadir

Selain berdebar, harapan yang perlahan kuruntuhkan hari demi hari mulai kubangun sendiri batu batanya satu-satu lagi. Harusnya aku tak semudah ini membuka pintu ketika kauketuk. Bukankah tak sopan jika bertamu selarut ini? Tapi, biarlah aku menjadi tuan rumah yang tak menolak secara kasar kepada tamunya, aku suguhkan teh panas tanpa gula seperti yang kau gemari selama ini. Tapi dalam hati, aku berusaha untuk melindungi diriku sendiri agar tak terbuai dengan kehadiranmu. Sekalipun aku ingin beruntun menanyakan dengan amarah, “Ke mana saja kau selama ini? Apa yang kauinginkan dariku sehingga kau kembali lagi? Haruskah aku menerimamu kembali untuk sekali lagi menunggu yang tak pasti? Bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku? Sebenarnya apa yang kauinginkan dari kita?”
Ingin kutanyakan semua tepat di depan sepasang matamu, tepat di hadapanmu yang dulu pernah kusukai, yang dulu pernah menjatuhkan segala gengsi. Kau seperti cermin, tapi untuk mencerminkan pelbagai keburukan. Kita sama, memang. Hanya saja sifat-sifat negatif yang lebih dominan.
“Apa-apa yang didapatkan dengan mudah, biasanya akan dengan mudah pula pergi.” Aku pernah berkata demikian kepadamu, dan kau berkata, “Kata siapa? Lagipula kita juga kenal sudah hampir tiga tahun meskipun belum pernah bertemu sebelum sekarang ini, lama kan? Kemudian aku tersenyum malu, da nada perasaan-perasaan aneh mulai tumbuh.

Tapi, cukup. Akan kututup pintu hati, aku telah membulatkan keputusan kali ini. Silakan langkahkan kaki, pergilah…

Selasa, 02 Februari 2016

Tante in Crime


Halo te, sudah di Jakarta ya? Tadi aku lihat di path

Surat ketiga ini mau aku kirimin ke tante Kikik, kenapa? Karena aku masih belum bisa move on dari keseruan kita ketika berenang, sebenarnya bukan waktu berenang aja sih tapi perjalanannya juga. Lagu Drag Me Down & Bang Bang rasanya jadi ost kebersamaan kita waktu itu, jadi setiap aku putar dua lagu itu selalu keingetnya club di mobil ala-alanya kita. Kita sudah sering hang out barengt juga sih, cuma yang paling berkesan ya waktu kita berenang itu. Kita bicara soal era-era SMP kita dulu, yang selalu berdelapan. Makan mie ayam bareng di daerah Sugihwaras, eh itu masih ada nggak sih mie ayamnya? Kita dulu nyebutnya mie ayam apa ya, aku lupa? Terus ngumpul bareng, rujakan di rumah Firoh. Kebersamaan kita di era SMP itu sempat bikin aku galau setengah mati ketika berpisah di jenjang SMA. Katanya masa-masa SMA itu masa-masa indahnya pertemanan, tapi aku nggak mendapatkan itu. Bisa dibilang waktu di SMA aku nggak begitu punya teman sekalipun memang ada tapi nggak sedekat kita waktu berdelapan. Yang ada, kehidupan SMAku itu hanya percintaan. Aku sempat menangisi perisahan kita sebenarnya, ya tapi nggak ada yang tahu. Dulunya aku pikir masih bisa dekat sama Firoh, soalnya rumah kami nggak begitu jauh. Tapi ternyata nggak juga, aku heran juga sih kok akhirnya jadi kita berdua aja yang masih deket bisa hang out bareng padahal kan yang satu perumahan sama tante ada banyak. Ada Tiara, Maya, & Fani. 
Tapi kalau flashback lagi, kita berdua sudah sebangku sejak SMP kelas satu kan. Waktu itu rambutmu masih panjaaaaang banget, tiap hari dikuncir. Aku pikir kamu anaknya tomboy loh waktu itu meskipun rambutnya panjang. Terus jujur aja, waktu itu aku nggak seberapa cocok sama kamu ehehehe. Yang paling aku inget waktu kita sebangku itu, ketika kamu kedatangan tamu bulanan. Kamu kayaknya dilep waktu it uterus merintih-rintih ahahaha, lucu sih. Terus giliran aku yang kedatangan tamu bulanan aku remes-remes tangan kamu ahahaha. Ah, sepertinya kamu lupa ya soal ini ihihihi. Tak apa, yang jelas di surat ini aku ingin mengungkapkan betapa bahagianya aku punya tante in crime kayak tante Kikik. Semoga bisa sering-sering ngeluangin waktu buat Q-time berdua, ya kalau bisa berdelapan lagi tapi sepertinya mustahil ya. Sebab teman-teman kita yang lain itu pasti punya jalannya masing-masing yang belum bisa meluangkan kebersamaan seperti era SMP dulu.
Baiklah, sekian dulu surat cinta buat tante in crimeku tersayang ini. Jangan lupa oleh-oleh long holidaynya dari Jakarta. Aku masih menunggumu loh te buat jadi mentor ehehehe.

Salam sayang, keponkanmu;
Rena


 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik