Rabu, 25 Februari 2015

Kejora Tanpa Bulan


Hitungan waktu sepertinya tak berlaku lagi bagiku, rasanya tahun, bulan, dan tanggal taka da gunanya lagi. Aku lupa hari ini tanggal berapa tapi aku ingat mala mini adalah malam minggu ke-37 kau tak lagi mengetuk pintu rumahku atau sekadar mengintip dari jendela di seberang kamarmu. Rumah kita bersebelahan, kita tetangga yang sangat akrab waktu itu, aku masih sangat mengingat ketika balkon menjadi saksi kegembiraan kita saling bercakap menggunakan bahasa isyarat. Kita bukan tak bisa bicara namun kau dan aku sengaja untuk membisu. Menggunakan bahasa tubuh, bahasa gerakan yang sebenarnya sama-sama tak kita kuasi tapi mencoba saling mengerti. Aku ingin minggu pertama kau mengajakku keluar kamar dan duduk di balkon kamar kita masing-masing. Kau mengisyaratkan aku untuk mendongak ke atas, melihat langit gelap malam itu. Aku berulang kali mengernyitkan dahi dan mengangkat alis ketika manatapnya pertanda bahwa aku tak mengerti apa maksudnya. Tapi kau tetap menunjuk-nunjuk ke atas, ke arah langit. Tak ada banyak bintang mala mini, hanya beberapa dan samar-samar terlihat. Aku mencoba mengamati lagi dengan seksama langit cerah tapi masih gulita itu, mencoba merasikan bintang satu ke bintang langit dengan telunjuk. Tiba-tiba kau bertepuk tangan, menandakan padaku untuk mengikuti arah jari telunjukmu. Kau menunjuk-nunjuk dengan semangat, aku melihatmu dan langit bergantian. Aku baru sadar ketika ada salah satu bintang yang bersinar lebih terang dari yang lainnya. Letaknya di dekat bulan. Kau menunjuk bintang itu, kemudian menunjukku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahmu, lalu aku menunjuk bulan dan mengarahkan telunjukku padamu.

Sejak saat itu, kenangan terakhir bersamamu. Setiap malam minggu aku tak pernah lagi melihatmu setelah kau sempat berteriak dari balkon kamarmu memanggil namaku. Aku sedang tidur waktu itu, dan aku masih mengingat jika saat itu sedang hujan lebat di luar. Hingga keesokan pagi, rumahku terasa lebih sunyi dari biasanya. “Ra, ayo turun. Kita ke rumah bulan sudah banyak tamu yang datang.” Suara mama membuyarkan lamunan tentangmu, di balkon kamar aku mengamati balkon seberang. Sudah tak lagi berpenghuni, Bulan telah tergelincir, jatuh dan membawa nyawanya pergi. “Kejora, lekaslah. Mari kirim doa” Mama merangkulku, malam minggu ke-37 genapnya kepergianmu.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik