Hitungan waktu sepertinya tak
berlaku lagi bagiku, rasanya tahun, bulan, dan tanggal taka da gunanya lagi.
Aku lupa hari ini tanggal berapa tapi aku ingat mala mini adalah malam minggu
ke-37 kau tak lagi mengetuk pintu rumahku atau sekadar mengintip dari jendela
di seberang kamarmu. Rumah kita bersebelahan, kita tetangga yang sangat akrab
waktu itu, aku masih sangat mengingat ketika balkon menjadi saksi kegembiraan
kita saling bercakap menggunakan bahasa isyarat. Kita bukan tak bisa bicara
namun kau dan aku sengaja untuk membisu. Menggunakan bahasa tubuh, bahasa
gerakan yang sebenarnya sama-sama tak kita kuasi tapi mencoba saling mengerti.
Aku ingin minggu pertama kau mengajakku keluar kamar dan duduk di balkon kamar
kita masing-masing. Kau mengisyaratkan aku untuk mendongak ke atas, melihat
langit gelap malam itu. Aku berulang kali mengernyitkan dahi dan mengangkat
alis ketika manatapnya pertanda bahwa aku tak mengerti apa maksudnya. Tapi kau
tetap menunjuk-nunjuk ke atas, ke arah langit. Tak ada banyak bintang mala mini,
hanya beberapa dan samar-samar terlihat. Aku mencoba mengamati lagi dengan
seksama langit cerah tapi masih gulita itu, mencoba merasikan bintang satu ke
bintang langit dengan telunjuk. Tiba-tiba kau bertepuk tangan, menandakan
padaku untuk mengikuti arah jari telunjukmu. Kau menunjuk-nunjuk dengan
semangat, aku melihatmu dan langit bergantian. Aku baru sadar ketika ada salah
satu bintang yang bersinar lebih terang dari yang lainnya. Letaknya di dekat
bulan. Kau menunjuk bintang itu, kemudian menunjukku. Aku hanya tersenyum
melihat tingkahmu, lalu aku menunjuk bulan dan mengarahkan telunjukku padamu.
Sejak saat itu, kenangan terakhir
bersamamu. Setiap malam minggu aku tak pernah lagi melihatmu setelah kau sempat
berteriak dari balkon kamarmu memanggil namaku. Aku sedang tidur waktu itu, dan
aku masih mengingat jika saat itu sedang hujan lebat di luar. Hingga keesokan
pagi, rumahku terasa lebih sunyi dari biasanya. “Ra, ayo turun. Kita ke rumah
bulan sudah banyak tamu yang datang.” Suara mama membuyarkan lamunan tentangmu,
di balkon kamar aku mengamati balkon seberang. Sudah tak lagi berpenghuni,
Bulan telah tergelincir, jatuh dan membawa nyawanya pergi. “Kejora, lekaslah.
Mari kirim doa” Mama merangkulku, malam minggu ke-37 genapnya kepergianmu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar