Sebab kesedihan mampu bermuasal dari celah mana saja, pun
berlaku bagi kebahagiaan.
Malam ini, entah malam ke berapa aku berada di bilik yang
sama; sendirian. Menikmati sepi yang kawan dengan sunyi. Semencekamkan ini
memang merasa sendirian dan kesepian dalam ruang yang disadap berbagai jenis
senyap. Teringatlah aku pada beberapa kisah tentang bahagia yang sempat tiba
ketika sepi datang menyergap, aku ingat tentang percakapan di telepon seluler,
kemudian dengan segera aku dijemput dan dibawanya keluar dari merasa sendiri.
Tapi kali ini, aku tak mengingat tentang siapa namun tentang
di mana. Tempat-tempat yang berhasil menyelamatkanku dari sepi –meski memang
terlebih dulu dijemputnya. Aku ingin menyinggahinya lagi, biarlah jika harus
pergi sendiri, sebab terkadang merasa sepi lebih mengerikan daripada harus
dituntut sendirian.
Aku tak pernah mempermasalahkan perjalanan yang harus
kutempuh sendiri –toh sudah terbiasa—tanpa ada yang punya waktu untuk membunuh
sepi bersamaku. Di beberapa tempat, keramaian selalu nyalang dan lebih nyaring
dari kepedihan hati, meski rasanya belum pas untuk membayar riuh itu pada diri
sendiri. Dan saat ini –entah dari mana asalnya—aku ingin mengunjungi rumahmu
yang mungkin dekat dengan jalan-jalan yang pernah memberantas sepiku, tapi aku
tak mengantongi alamatnya pun apakah kau nanti mau menerimaku bertamu saat itu
juga. Ah, terlalu tergesa mungkin. Aku hanya ingin melewati jalan yang sering
kaulewati, membayangkan kau berjalan di depan rumah pergi menuju tempat yang
kauingini. Rasanya senang mengangan-angankan itu, mungkin karena ada bunga yang
mekar untukmu di hatiku saat ini.
Atau suatu hari kau akan memperkenalkan aku pada
tempat-tempat riuh lainnya yang berhasil menilapkan kesepian. Ah, terlalu muluk
sepertinya sebab aku baru mengenalmu beberapa hari ini saja. Namun biarlah
bahagia datang dari celah satu ini; kesepian dan kesendirian. Biarlah bahagia
kali ini menghampiri kita –yang mungkin—dipenjara rasa sedih. Setidaknya aku
sedang menikmati rasa yang tumbuh terlalu dini ini: kepadamu.
Cinta semestinya tak tergesa namun perasaan bahagia lebih
cepat meletup bersamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar