Senin, 23 Maret 2015

(Mungkin) Sedang Kesepian

Sebab kesedihan mampu bermuasal dari celah mana saja, pun berlaku bagi kebahagiaan.

Malam ini, entah malam ke berapa aku berada di bilik yang sama; sendirian. Menikmati sepi yang kawan dengan sunyi. Semencekamkan ini memang merasa sendirian dan kesepian dalam ruang yang disadap berbagai jenis senyap. Teringatlah aku pada beberapa kisah tentang bahagia yang sempat tiba ketika sepi datang menyergap, aku ingat tentang percakapan di telepon seluler, kemudian dengan segera aku dijemput dan dibawanya keluar dari merasa sendiri.

Tapi kali ini, aku tak mengingat tentang siapa namun tentang di mana. Tempat-tempat yang berhasil menyelamatkanku dari sepi –meski memang terlebih dulu dijemputnya. Aku ingin menyinggahinya lagi, biarlah jika harus pergi sendiri, sebab terkadang merasa sepi lebih mengerikan daripada harus dituntut sendirian.

Aku tak pernah mempermasalahkan perjalanan yang harus kutempuh sendiri –toh sudah terbiasa—tanpa ada yang punya waktu untuk membunuh sepi bersamaku. Di beberapa tempat, keramaian selalu nyalang dan lebih nyaring dari kepedihan hati, meski rasanya belum pas untuk membayar riuh itu pada diri sendiri. Dan saat ini –entah dari mana asalnya—aku ingin mengunjungi rumahmu yang mungkin dekat dengan jalan-jalan yang pernah memberantas sepiku, tapi aku tak mengantongi alamatnya pun apakah kau nanti mau menerimaku bertamu saat itu juga. Ah, terlalu tergesa mungkin. Aku hanya ingin melewati jalan yang sering kaulewati, membayangkan kau berjalan di depan rumah pergi menuju tempat yang kauingini. Rasanya senang mengangan-angankan itu, mungkin karena ada bunga yang mekar untukmu di hatiku saat ini.

Atau suatu hari kau akan memperkenalkan aku pada tempat-tempat riuh lainnya yang berhasil menilapkan kesepian. Ah, terlalu muluk sepertinya sebab aku baru mengenalmu beberapa hari ini saja. Namun biarlah bahagia datang dari celah satu ini; kesepian dan kesendirian. Biarlah bahagia kali ini menghampiri kita –yang mungkin—dipenjara rasa sedih. Setidaknya aku sedang menikmati rasa yang tumbuh terlalu dini ini: kepadamu.


Cinta semestinya tak tergesa namun perasaan bahagia lebih cepat meletup bersamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik