Rabu, 01 April 2015

Selamat Satu April, Pril...!

                Malam itu pukul sembilan, cangkir kopi sudah dilibas mungkin hanya tinggal ampas dan harapan yang akhirnya kau rampas. Aku ingat lima jam yang lalu kau berjanji akan menemuiku di cafe biasanya kita membagi luang waktu. “Nanti dibicarakan saja di cafe, aku masih sibuk sekarang.” Kau berkata sambil lalu dan pergi meninggalkanku sendirian di taman kampus. Sebelumnya aku telah menantimu sekitar dua jam, kau masih mendapatkan mata kuliah tambahan akhirnya jam pulangku pun diundur. “Aku masih ada jam tambahan, kamu tunggu saja di taman kampus dekat fakultasku.” Begitu katamu ketika aku menemui di lorong gedung perpustakaan, dengan menenteng satu novel tebal kau berjalan terburu dan kembali meninggalkanku. Begitulah waktu yang aku berjalan tanpa adanya kepastian apa yang sebenarnya aku tunggu, tapi aku tahu bahwa satu-satunya senjata untuk mendapatkan kepastian atas harapanku itu adalah bertahan menantimu.
                Meski kepastian belum juga kudapatkan dan waktu malamku hampir habis dengan cangkir kopi ini, kau baru datang setelah aku meminta nota pembayaran pada seorang pelayan. Kau memakai setelan jas, sangat rapid an wangi. Aku sempat tercengang dengan busana formal yang kau kenakan seperti akan menghadiri sebuah acara pernikahan, “Kamu dari mana? Pakai jas serapi itu mau ke mana.” Tanyaku heran. “Mau melamar kamu.” Begitu katamu santai, aku terduduk karena terkejut. Apa maksudnya melamarku? Tiba-tiba jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. “Pril, aku sudah tidak mau bertahan lagi dengan persahabatan. Biarlah hubungan ini menuju jenjang pernikahan.” Kau berlutut di hadapanku, pipiku memanas. Perasaan haru, terkejut, dan malu bercampur jadi satu. Aku masih tercengang ketika kau kembali berdiri. Kau mengeluarkan sesuatu dari dalam sakumu, Buumm…. Cass….

                Beberapa lembar kertas warna-warni bertaburan setelah bunyi seperti berdebum itu, “April Mop… Aprilia….Selamat hari jadi…” Kau memelukku erat lalu memandangku lekat-lekat. “Kamu masih aja gampang dibohongi, mukamu tutupi tuh merah begitu.” Kau mengusap-usap puncak kepalaku. Aku masih saja terjebak di hari ulang tahunku sendiri tanggal 1 April yang bertepatan dengan April MOP, kau selalu menggunakan trik yang sama dan aku masih saja tak bisa menyembunyikan perasaan. Kau selalu memegang prinsip, “Aku dan kamu akan terus bertahan menjadi sahabat sejati. Selamanya.” Begitu katamu setiap kali. 

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik