Malam itu
pukul sembilan, cangkir kopi sudah dilibas mungkin hanya tinggal ampas dan
harapan yang akhirnya kau rampas. Aku ingat lima jam yang lalu kau berjanji
akan menemuiku di cafe biasanya kita membagi luang waktu. “Nanti dibicarakan
saja di cafe, aku masih sibuk sekarang.” Kau berkata sambil lalu dan pergi
meninggalkanku sendirian di taman kampus. Sebelumnya aku telah menantimu
sekitar dua jam, kau masih mendapatkan mata kuliah tambahan akhirnya jam
pulangku pun diundur. “Aku masih ada jam tambahan, kamu tunggu saja di taman
kampus dekat fakultasku.” Begitu katamu ketika aku menemui di lorong gedung
perpustakaan, dengan menenteng satu novel tebal kau berjalan terburu dan
kembali meninggalkanku. Begitulah waktu yang aku berjalan tanpa adanya
kepastian apa yang sebenarnya aku tunggu, tapi aku tahu bahwa satu-satunya
senjata untuk mendapatkan kepastian atas harapanku itu adalah bertahan
menantimu.
Meski
kepastian belum juga kudapatkan dan waktu malamku hampir habis dengan cangkir
kopi ini, kau baru datang setelah aku meminta nota pembayaran pada seorang
pelayan. Kau memakai setelan jas, sangat rapid an wangi. Aku sempat tercengang
dengan busana formal yang kau kenakan seperti akan menghadiri sebuah acara
pernikahan, “Kamu dari mana? Pakai jas serapi itu mau ke mana.” Tanyaku heran. “Mau
melamar kamu.” Begitu katamu santai, aku terduduk karena terkejut. Apa maksudnya
melamarku? Tiba-tiba jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. “Pril, aku
sudah tidak mau bertahan lagi dengan persahabatan. Biarlah hubungan ini menuju
jenjang pernikahan.” Kau berlutut di hadapanku, pipiku memanas. Perasaan haru,
terkejut, dan malu bercampur jadi satu. Aku masih tercengang ketika kau kembali
berdiri. Kau mengeluarkan sesuatu dari dalam sakumu, Buumm…. Cass….
Beberapa
lembar kertas warna-warni bertaburan setelah bunyi seperti berdebum itu, “April
Mop… Aprilia….Selamat hari jadi…” Kau memelukku erat lalu memandangku
lekat-lekat. “Kamu masih aja gampang dibohongi, mukamu tutupi tuh merah begitu.”
Kau mengusap-usap puncak kepalaku. Aku masih saja terjebak di hari ulang
tahunku sendiri tanggal 1 April yang bertepatan dengan April MOP, kau selalu menggunakan trik yang sama dan aku masih saja tak
bisa menyembunyikan perasaan. Kau selalu memegang prinsip, “Aku dan kamu akan
terus bertahan menjadi sahabat sejati. Selamanya.” Begitu katamu setiap kali.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar