Rabu, 15 April 2015

_._.n.d.a

Nda,
Entah mengapa aku ingin membagi kesepian denganmu yang mungkin waktunya selalu jauh dari sunyi. Bukan apa-apa, Nda. Bukan maksudku untuk hanya memberimu kisah sedih tapi di dalam sini (kau boleh menunjuk bagian mana saja yang mewakili hati) rasanya kepadamulah sepi yang cekam ini mampu luruh. Aku mungkin tak tahu bagaimana kau yang sebenarnya tapi aku mampu merasakan kau adalah perapian yang hangat bagi siapa saja meski kau tak mampu jadi tungku yang menghangatkan diri sendiri. Nda, semenyedihkan inikah hidup? Mungkin pula kau yang pernah merasakan kesedihan lebih dalam dan pedih dari yang pernah kita rasakan dulu. Tapi sebagai perempuan nyatanya kita sama-sama mampu bangkit; dengan cara masing-masing.
Nda,
Malam ini atau mungkin seperti banyak malam yang lain, sepi terasa begitu mencekam dan rasanya aku juga hanya ingin mendekam; memendam kehampaan. Nda, aku mungkin orang paling keras kepala dan tak tahu diri ketika jatuh hati. Seandainya aku tak pernah melihatmu di barisan potret itu mungkin kesepian yang kubagi bukan kepadamu atau tak akan pernah bisa kubagikan pada siapa-siapa. Tak apa, Nda. Sekalipun kau tak tahu tentang transaksi pembagian sepi ini, sekalipun kau belum pernah mengenalku, tapi ini semua sedikit membantu. Membantuku memendam kesepian dengan teman khayalan. Ya, benar kau.
Nda,
Biarkan kali ini kau yang kujadikan sosok kawan yang meniadakan hampa dalam kesendirian. Kau tahu, sebenarnya ada seorang lelaki yang aku harapkan untuk membunuh sepi sekali lagi. Tapi mungkin kau juga sependapat denganku bahwa tidak ada laki-laki di muka bumi yang benar-benar mampu diandalkan. Rasanya aku ingin marah, tapi aku siapa? Bukankah status selalu menentukan hak seseorang untuk boleh marah. Ah, Nda. Pun aku sebenarnya tak punya hak apa-apa untuk membagi sepi ini denganmu. Aku ini siapa memang? Bertemu denganmu saja belum pernah.
Nda,
Jika kelak waktu mengizinkan aku untuk berbagi sepi-sepi yang repih ini dengan sebenar-benarnya kenyataan; bukan khayalan. Semoga yang aku dan kau bagi nanti sesuai porsi, jika tidak aku mengharapkan bukan luka yang ditimbulkan tapi biar saja rasa bahagia yang mungkin menuai dosa.

Nda, untuk kali ini saja. Waktu bagian sepi ini, aku ingin menyapamu. Bercakap-cakap dan saling mengenal terlebih dahulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik