Rabu, 15 April 2015

Kiss Bye

                Sekitar pukul empat sore kau datang ke rumah dan kita menghabiskan waktu hingga malam tiba dengan meminum secangkir kopi, bercerita tentang yang terjadi di pagi hari, hingga melupakan kepenatan yang membebani kepala. Aku suka ketika kau tertawa dengan begitu renyah dan meminum cangkir kopiku yang selalu habis lebih lama daripada milikmu. Tapi kali ini, hanya resah yang kita bagi. Waktu berjalan begitu lambat dan akal sehat di kepala kita mungkin perlahan terlumat. Kesedihan menyeruap malam ini, tak ada lagi senja yang kita habisi yang ada hanya perasaan entah. Kau berdiri di depan jendela ruang tamu, memandang kelambu dan rasa putus asa melekat di wajahmu.
                “Saya harus pulang sekarang.”
                “Lalu masalah kita? Mau diapakan?” Aku memandangmu putus asa.
                “Saya belum bisa memutuskan. Mungkin kita perlu waktu.” Kau menatapku sekilas kemudian menundukkan muka.
                 “Apa memang tak ada harapan bagi kita? Tak apa, pulanglah. Aku memang tidak punya hak lebih untuk ini.” Mataku mulai berkaca-kaca.
                Kau melangkah mendekatiku, kau rengkuh sepasang bahuku. Ah, seandainya aku tak merasa malu dan seputus asa ini mungkin aku akan menghambur memelukmu.
                “Dengar, saya mencintaimu. Ini semua pasti akan ada jalannya tapi mungkin tidak sekarang, saya butuh waktu. Tunggu saya, ya?” Kau mencari mukaku yang sudah kutundukkan sebab aku tak mau kau melihat air mataku jatuh tak tertahankan.
                Suasana jadi berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kegembiraan suasana jatuh cinta kita waktu itu, malam ini rasanya ingin kuhapus saja,
                “Saya tidak akan meninggalkanmu, jangan bersedih.” Begitu katamu dan sederet kalimat penghibur lainnya yang hanya membuatku makin tersedu.
                “Aku tak tahu, bagaimana jadinya kita nanti. Tapi aku tahu diri, pulanglah. Kembali, aku bukan perempuan yang seharusnya kau cintai.” Aku terisak setelah mengatakan kalimat yang entah datanganya dari mana tapi sempat membuat hatiku terasa nyeri. Perkataanku sendiri mampu membuat sesedih ini.
                Kau memelukku dengan tiba-tiba, aku pasrah. Kedua telapak tanganmu kau letakkan di pipiku dan air mata yang jatuh kau hapus. Aku merasa wajah kita amat dekat tapi mungkin tidak dengan hubungan yang tak boleh terjadi seharusnya antara kau dan aku. Sebutir air mata berhasil menyusup di bibirku tapi kau berhasil pula menghapusnya dengan bibirmu. Ciuman yang menghangatkan tapi mungkin inilah tanda perpisahan.

                “Saya tidak tahu bagaimana kita jadinya.” Kau berkata di sela-sela ciuman kita yang turut melambat bersama waktu. Aku tahu, ciuman ini hanya sebagai kenangan terakhir ketika kau harus kembali pada istri dan anak-anakmu.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik