Sekitar
pukul empat sore kau datang ke rumah dan kita menghabiskan waktu hingga malam
tiba dengan meminum secangkir kopi, bercerita tentang yang terjadi di pagi
hari, hingga melupakan kepenatan yang membebani kepala. Aku suka ketika kau
tertawa dengan begitu renyah dan meminum cangkir kopiku yang selalu habis lebih
lama daripada milikmu. Tapi kali ini, hanya resah yang kita bagi. Waktu
berjalan begitu lambat dan akal sehat di kepala kita mungkin perlahan terlumat.
Kesedihan menyeruap malam ini, tak ada lagi senja yang kita habisi yang ada
hanya perasaan entah. Kau berdiri di depan jendela ruang tamu, memandang
kelambu dan rasa putus asa melekat di wajahmu.
“Saya
harus pulang sekarang.”
“Lalu
masalah kita? Mau diapakan?” Aku memandangmu putus asa.
“Saya
belum bisa memutuskan. Mungkin kita perlu waktu.” Kau menatapku sekilas
kemudian menundukkan muka.
“Apa memang tak ada harapan bagi kita? Tak
apa, pulanglah. Aku memang tidak punya hak lebih untuk ini.” Mataku mulai
berkaca-kaca.
Kau
melangkah mendekatiku, kau rengkuh sepasang bahuku. Ah, seandainya aku tak
merasa malu dan seputus asa ini mungkin aku akan menghambur memelukmu.
“Dengar,
saya mencintaimu. Ini semua pasti akan ada jalannya tapi mungkin tidak
sekarang, saya butuh waktu. Tunggu saya, ya?” Kau mencari mukaku yang sudah
kutundukkan sebab aku tak mau kau melihat air mataku jatuh tak tertahankan.
Suasana
jadi berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kegembiraan suasana jatuh
cinta kita waktu itu, malam ini rasanya ingin kuhapus saja,
“Saya
tidak akan meninggalkanmu, jangan bersedih.” Begitu katamu dan sederet kalimat
penghibur lainnya yang hanya membuatku makin tersedu.
“Aku
tak tahu, bagaimana jadinya kita nanti. Tapi aku tahu diri, pulanglah. Kembali,
aku bukan perempuan yang seharusnya kau cintai.” Aku terisak setelah mengatakan
kalimat yang entah datanganya dari mana tapi sempat membuat hatiku terasa
nyeri. Perkataanku sendiri mampu membuat sesedih ini.
Kau
memelukku dengan tiba-tiba, aku pasrah. Kedua telapak tanganmu kau letakkan di
pipiku dan air mata yang jatuh kau hapus. Aku merasa wajah kita amat dekat tapi
mungkin tidak dengan hubungan yang tak boleh terjadi seharusnya antara kau dan
aku. Sebutir air mata berhasil menyusup di bibirku tapi kau berhasil pula
menghapusnya dengan bibirmu. Ciuman yang menghangatkan tapi mungkin inilah
tanda perpisahan.
“Saya
tidak tahu bagaimana kita jadinya.” Kau berkata di sela-sela ciuman kita yang
turut melambat bersama waktu. Aku tahu, ciuman ini hanya sebagai kenangan
terakhir ketika kau harus kembali pada istri dan anak-anakmu.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar