Senin, 08 Juni 2015

BIROKRASI DI NEGERI INI SEPERTI RAMBUT SAYA YANG KUSUT DAN SAYA MAKLUM

Hari ini, sudah saya persiapkan mental saya setenang mungkin karena akan ada batu-batu penolakan yang runtuh seperti longsor di kepala saya dan saya harus siap untuk kepala yang pecah atau setidaknya mampu menahan sakit kepala.
Pagi terasa masih sangat buta ketika suara Ayah dari balik pintu kamar berpamitan akan berangkat kerja—Ayah saya selalu begitu ketika saya berada di rumah; di hari tidak libur. Saya benar-benar tidak bisa membuka mata karena baru bisa tidur sekitar pukul setengah pagi—kebiasaan lama saya yang akhir-akhir ini mulai kambuh. Kemudian saya teringat dengan hari ini yang sudah saya persiapkan matang-matang semalam, mental saya sudah kuat untuk menerjang hari ini. Ah, harusnya saya memeluk hari ini saja bukan menerjangnya, namun tekad saya mulai luruh, kepala saya belum apa-apa sudah migran pun mata saya sangat berat dibuka; ya, saya masih sangat mengantuk jika harus bangun dan memulai aktivitas pukul tujuh pagi. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk segera mandi dan berganti pakaian. Namun setelah itu saya jatuh kembali ke tempat tidur dan tertidur. Saya tidak menyangka ketika membuka mata kembali sudah dzuhur. Tak ada lagi kompromi bagi diri saya sendiri, saya harus segera menuntaskan mental saya yang sudah dibangun semalam.

Satu paragraf di atas hanya sebagai pembuka basa-basi yang sangat basi—biarlah. Semalam selain menyiapkan mental, saya juga menyiapkan berkas-berkas yang harus saya bawa dan salah satu yang paling penting adalah surat keterangan untuk mengantar saya mendapat izin ke suatu tempat yang akan mungkin menjadi perjuangan dan pertaruhan saya nanti. Namun seperti biasa, sistem internet atau sistem apalah itu namanya milik universitas saya tidak bisa membuat hati lega. Berulang-kali saya mencoba login tapi tetap saja tidak bisa, saya mulai resah karena tidak mengakses apa yang saya perlukan. Selanjutnya saya memilih opsi dari awal saya ingin melaksanakan ini, pergi ke kampus. Tapi, saya sudah menduga-duga jika pada akhirnya yang saya dapatkan hanya gigit jari belaka. Saya tidak bisa menemui orang paling penting di jurusan saya dan saya tidak kecewa—sebab sudah seringkali mengalami hal semacam ini oleh orang yang sama ataupun tidak. Namun saya cukup lesu karena saya membayangkan tidak diterima oleh siapa-siapa di tempat yang seharusnya saya tuju.

Saya memang hanya mahasiswa semester akhir yang sedang berburu bahan penelitian. Salah satunya hari ini saya baru saja menemui pengalaman yang mungkin tak baru tapi juga tak begitu selalu saya alami. Sebuah instansi pusat informasi. Jika saya tidak pernah bertemu dan berkenalan dengan seseorang ini, mungkin saya tidak akan tahu ke mana saya harus meletakkan kebimbangan yang kugenggam-genggam sejak tiga bulan terakhir ini. Ya, ‘orang dalam’ istilah ini memang sangat berpengaruh dalam hal apapun yang nanti akan kita kerjakan. Saya masih menganggap ‘orang dalam’ sebagai istilah yang negatif dan jujur saja saya tidak suka dengan istilah itu pun beberapa hal yang melakat di dalamnya. ‘Orang dalam’ juga identik dengan istilah KKN—lebih tepatnya nepotisme. Tapi sekian tahun semenjak saya lahir dan hidup di negeri ini, ‘orang dalam’ adalah istilah dan gandengan yang sangat maklum untuk melancarkan proyek ini-itu. Baiklah, anggap saja ‘orang dalam’ yang saya miliki ini seorang kawan, kami belum kenal lama memang bahkan tidak akrab. Hanya beberapa kali bertemu dan sering memberi ‘love’ di sosial media. Namun pertemuan kami begitu menyenangkan bagi saya, kami dipertemukan oleh puisi—saya semakin yakin jika puisi dalam hidup saya punya andil sangat besar.

Sesampai di tempat yang hari ini saya tuju, langsung saja saya menemui kawan satu ini—sebenarnya jika disebut kawan kurang pantas karena dia senior saya dan panggil saja DW. Saya merasa bersalah karena mengganggu tugasnya di sana, setelah menemui saya, dia langsung membawa saya menuju ruang-ruang mungkin bisa disebut kantor di area dalam gedung. Tempatnya tidak semenyenangkan lokasi kerja DW yang penuh dengan kaca-kaca tembus pandang dan enak dipandang, namun kantor yang agak menjorok ke belakang ini dipenuhi bilik-bilik khas pekerja kantoran.


Orang pertama, DW membawa saya pada seseorang yang harusnya menjadi narasumber penelitian saya. DW, menurut saya orang yang sangat bisa membawa dirinya, dengan senyumnya yang khas dia memperkenalkan saya. Namun sebelum selesai memperkenalkan saya, orang pertama yang saya temui ini—seorang Ibu paruh baya mungkin seumuran budhe saya—lekas-lekas menanyakan apakah saya sudah menemui si ibu anu, si ibu itu, atau si ibu ini. DW meyakinkan bahwa saya akan dibawanya menemui deretan nama ibu-ibu itu. Di sini, mental saya mulai diuji kekebalannya. Menurut saya, si ibu pertama ini cukup ramah dan dengan senang hati menerima saya, namun karena sistem lika-liku sebelum sampai padanya harus dan wajib saya lalui terlebih dahulu.

Orang kedua, DW membawa saya ke ruangan yang tadi kami lewati dan masuk ke bilik sebelah kanan paling pojok. Di sini saya bertemu salah satu dari nama ibu-ibu yang disebutkan oleh ibu pertama tadi. Saya langsung mendapat tatapan ‘tidak terima’ di sana dan DW juga merasakan itu. DW kemudian berbicara seolah-olah meyakinkan si ibu kedua ini agar memberikan izin bagi saya. Namun setelah saya memberikan surat yang tidak lengkap oleh tanda milik orang terpenting di jurusan saya, mimik mukanya bukan hanya ‘tidak terima’ dengan kehadiran saya tapi mungkin bisa ditambah dengan ‘tidak suka’. Mental saya hampir koyak karena tembakan pertanyaan bertubi diberikan kepada saya. Ah, saya mengerti orang penting seperti ibu kedua ini sangat membutuhkan tanda dari orang penting yang lain. Namun DW seakan belum mau menyerah, dia mencoba mencari-cari informasi lain agar saya tetap bisa diizinkan tanpa harus menyerahkan surat semacam ini untuk kepentingan birokrasi tetapi ibu kedua ini masih memegang teguh apa sistem birokrasi yang dia atau instansinya punya. Ya, punya nama besar memang tidak boleh menerima orang sembarang—apalagi mahasiswa bau kencur seperti saya ini.

Akhirnya saya dan DW kembali lagi di tempat di mana kami pertama bertemu tadi. Kami duduk dan dengan kesal DW berbicara pada saya, “sistem birokrasi di sini memang begitu, ribet.” Rautnya membuatku tersenyum, kemudian dia berkata lagi, “Aku dulu juga begitu, di tempat ini juga waktu belum bekerja di sini. Susah mau nembus birokrasinya yang belibet di sini. Tapi kamu tenang aja….” Belum selesai DW bicara, ibu pertama datang menghampiri dan menanyakan bagaimana kelanjutan orang yang dibawa DW; saya. Ibu pertama bercakap-cakap dengan BW. Saya hanya mendengar ibu pertama bilang “Iya, saya nggak enak nanti sama si ibu itu.” Kemudian ibu pertama beranjak pergi dan menggangguk kepada saya—tanda menyapa—saya juga menganggukan kepala ditambah senyuman dan ucapan terima kasih. DW langsung sumringah lagi memandang saya, ternyata dari percakapannya tadi dengan ibu pertama DW menemukan solusi bagi kebuntuan perjalanan saya berburu bahan. Salah satu kawannya ternyata juga bisa dijadikan salah satu narasumber untuk saya dan jelas saja tak perlu sistem birokrasi yang belibet seperti tadi. Saya sangat gembira, meskipun tak tahu bagaimana nanti kelanjutannya, yang jelas saya beruntung kenal dengan DW. Saya harus belajar banyak dari DW, dia benar-benar tak keberatan menggandeng dan memudahkan saya dalam urusan yang sebenarnya tak terlalu penting baginya ini. Selain itu cara berbiacaranya yang percaya diri harus saya terapkan juga.

Sistem birokrasi rumit semacam ini di negeri saya, sangat sudah biasa dan saya belum terbiasa meskipun dari saat lahir saya sudah di negeri ini dan tak pernah pindah ke negeri lain. Seperti rambut kusut saya yang susah diatur, begitulah salah satu pengalaman saya tentang negeri yang saya tempati dan juga kautinggali bukan, kawan. Jangan sampai birokrasi yang rumit di negeri kita ini mengganggu kebahagiaanmu ;) 

2 komentar:

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik