Hari ini, sudah saya persiapkan mental saya setenang mungkin karena akan ada batu-batu penolakan yang runtuh seperti longsor di kepala saya dan saya harus siap untuk kepala yang pecah atau setidaknya mampu menahan sakit kepala.
Pagi terasa masih sangat buta ketika suara Ayah dari balik
pintu kamar berpamitan akan berangkat kerja—Ayah saya selalu begitu ketika saya
berada di rumah; di hari tidak libur. Saya benar-benar tidak bisa membuka mata
karena baru bisa tidur sekitar pukul setengah pagi—kebiasaan lama saya yang
akhir-akhir ini mulai kambuh. Kemudian saya teringat dengan hari ini yang sudah
saya persiapkan matang-matang semalam, mental saya sudah kuat untuk menerjang
hari ini. Ah, harusnya saya memeluk hari ini saja bukan menerjangnya, namun
tekad saya mulai luruh, kepala saya belum apa-apa sudah migran pun mata saya
sangat berat dibuka; ya, saya masih sangat mengantuk jika harus bangun dan
memulai aktivitas pukul tujuh pagi. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk segera
mandi dan berganti pakaian. Namun setelah itu saya jatuh kembali ke tempat
tidur dan tertidur. Saya tidak menyangka ketika membuka mata kembali sudah
dzuhur. Tak ada lagi kompromi bagi diri saya sendiri, saya harus segera
menuntaskan mental saya yang sudah dibangun semalam.
Satu paragraf di atas hanya sebagai pembuka basa-basi yang
sangat basi—biarlah. Semalam selain menyiapkan mental, saya juga menyiapkan
berkas-berkas yang harus saya bawa dan salah satu yang paling penting adalah
surat keterangan untuk mengantar saya mendapat izin ke suatu tempat yang akan
mungkin menjadi perjuangan dan pertaruhan saya nanti. Namun seperti biasa,
sistem internet atau sistem apalah itu namanya milik universitas saya tidak
bisa membuat hati lega. Berulang-kali saya mencoba login tapi tetap saja tidak
bisa, saya mulai resah karena tidak mengakses apa yang saya perlukan.
Selanjutnya saya memilih opsi dari awal saya ingin melaksanakan ini, pergi ke
kampus. Tapi, saya sudah menduga-duga jika pada akhirnya yang saya dapatkan
hanya gigit jari belaka. Saya tidak bisa menemui orang paling penting di
jurusan saya dan saya tidak kecewa—sebab sudah seringkali mengalami hal semacam
ini oleh orang yang sama ataupun tidak. Namun saya cukup lesu karena saya
membayangkan tidak diterima oleh siapa-siapa di tempat yang seharusnya saya
tuju.
Saya memang hanya mahasiswa semester akhir yang sedang
berburu bahan penelitian. Salah satunya hari ini saya baru saja menemui
pengalaman yang mungkin tak baru tapi juga tak begitu selalu saya alami. Sebuah
instansi pusat informasi. Jika saya tidak pernah bertemu dan berkenalan dengan
seseorang ini, mungkin saya tidak akan tahu ke mana saya harus meletakkan
kebimbangan yang kugenggam-genggam sejak tiga bulan terakhir ini. Ya, ‘orang
dalam’ istilah ini memang sangat berpengaruh dalam hal apapun yang nanti akan
kita kerjakan. Saya masih menganggap ‘orang dalam’ sebagai istilah yang negatif
dan jujur saja saya tidak suka dengan istilah itu pun beberapa hal yang melakat
di dalamnya. ‘Orang dalam’ juga identik dengan istilah KKN—lebih tepatnya
nepotisme. Tapi sekian tahun semenjak saya lahir dan hidup di negeri ini, ‘orang
dalam’ adalah istilah dan gandengan yang sangat maklum untuk melancarkan proyek
ini-itu. Baiklah, anggap saja ‘orang dalam’ yang saya miliki ini seorang kawan,
kami belum kenal lama memang bahkan tidak akrab. Hanya beberapa kali bertemu
dan sering memberi ‘love’ di sosial media. Namun pertemuan kami begitu
menyenangkan bagi saya, kami dipertemukan oleh puisi—saya semakin yakin jika
puisi dalam hidup saya punya andil sangat besar.
Sesampai di tempat yang hari ini saya tuju, langsung saja
saya menemui kawan satu ini—sebenarnya jika disebut kawan kurang pantas karena
dia senior saya dan panggil saja DW. Saya merasa bersalah karena mengganggu
tugasnya di sana, setelah menemui saya, dia langsung membawa saya menuju
ruang-ruang mungkin bisa disebut kantor di area dalam gedung. Tempatnya tidak
semenyenangkan lokasi kerja DW yang penuh dengan kaca-kaca tembus pandang dan
enak dipandang, namun kantor yang agak menjorok ke belakang ini dipenuhi
bilik-bilik khas pekerja kantoran.
Orang pertama, DW membawa saya pada seseorang yang harusnya
menjadi narasumber penelitian saya. DW, menurut saya orang yang sangat bisa
membawa dirinya, dengan senyumnya yang khas dia memperkenalkan saya. Namun
sebelum selesai memperkenalkan saya, orang pertama yang saya temui ini—seorang Ibu
paruh baya mungkin seumuran budhe saya—lekas-lekas menanyakan apakah saya sudah
menemui si ibu anu, si ibu itu, atau si ibu ini. DW meyakinkan bahwa saya akan
dibawanya menemui deretan nama ibu-ibu itu. Di sini, mental saya mulai diuji
kekebalannya. Menurut saya, si ibu pertama ini cukup ramah dan dengan senang
hati menerima saya, namun karena sistem lika-liku sebelum sampai padanya harus
dan wajib saya lalui terlebih dahulu.
Orang kedua, DW membawa saya ke ruangan yang tadi kami lewati
dan masuk ke bilik sebelah kanan paling pojok. Di sini saya bertemu salah satu
dari nama ibu-ibu yang disebutkan oleh ibu pertama tadi. Saya langsung mendapat
tatapan ‘tidak terima’ di sana dan DW juga merasakan itu. DW kemudian berbicara
seolah-olah meyakinkan si ibu kedua ini agar memberikan izin bagi saya. Namun
setelah saya memberikan surat yang tidak lengkap oleh tanda milik orang terpenting
di jurusan saya, mimik mukanya bukan hanya ‘tidak terima’ dengan kehadiran saya
tapi mungkin bisa ditambah dengan ‘tidak suka’. Mental saya hampir koyak karena
tembakan pertanyaan bertubi diberikan kepada saya. Ah, saya mengerti orang penting
seperti ibu kedua ini sangat membutuhkan tanda dari orang penting yang lain. Namun
DW seakan belum mau menyerah, dia mencoba mencari-cari informasi lain agar saya
tetap bisa diizinkan tanpa harus menyerahkan surat semacam ini untuk
kepentingan birokrasi tetapi ibu kedua ini masih memegang teguh apa sistem
birokrasi yang dia atau instansinya punya. Ya, punya nama besar memang tidak
boleh menerima orang sembarang—apalagi mahasiswa bau kencur seperti saya ini.
Akhirnya saya dan DW kembali lagi di tempat di mana kami
pertama bertemu tadi. Kami duduk dan dengan kesal DW berbicara pada saya, “sistem
birokrasi di sini memang begitu, ribet.” Rautnya membuatku tersenyum, kemudian
dia berkata lagi, “Aku dulu juga begitu, di tempat ini juga waktu belum bekerja
di sini. Susah mau nembus birokrasinya yang belibet di sini. Tapi kamu tenang
aja….” Belum selesai DW bicara, ibu pertama datang menghampiri dan menanyakan
bagaimana kelanjutan orang yang dibawa DW; saya. Ibu pertama bercakap-cakap
dengan BW. Saya hanya mendengar ibu pertama bilang “Iya, saya nggak enak nanti
sama si ibu itu.” Kemudian ibu pertama beranjak pergi dan menggangguk kepada
saya—tanda menyapa—saya juga menganggukan kepala ditambah senyuman dan ucapan
terima kasih. DW langsung sumringah lagi memandang saya, ternyata dari percakapannya
tadi dengan ibu pertama DW menemukan solusi bagi kebuntuan perjalanan saya
berburu bahan. Salah satu kawannya ternyata juga bisa dijadikan salah satu
narasumber untuk saya dan jelas saja tak perlu sistem birokrasi yang belibet
seperti tadi. Saya sangat gembira, meskipun tak tahu bagaimana nanti
kelanjutannya, yang jelas saya beruntung kenal dengan DW. Saya harus belajar
banyak dari DW, dia benar-benar tak keberatan menggandeng dan memudahkan saya
dalam urusan yang sebenarnya tak terlalu penting baginya ini. Selain itu cara
berbiacaranya yang percaya diri harus saya terapkan juga.
Sistem birokrasi rumit semacam ini di negeri saya, sangat sudah biasa dan saya belum terbiasa meskipun dari saat lahir saya sudah di negeri ini dan tak pernah pindah ke negeri lain. Seperti rambut kusut saya yang susah diatur, begitulah salah satu pengalaman saya tentang negeri yang saya tempati dan juga kautinggali bukan, kawan. Jangan sampai birokrasi yang rumit di negeri kita ini mengganggu kebahagiaanmu ;)
Yes like this article and i agree Cara Mengobati Tumor Tenggorokan
BalasHapusBlogwalking here :)
BalasHapus