Rabu, 27 Mei 2015

Demimu, Hanya Untuk Demi

                Aku pergi ke rumah An terburu-buru, aku berlari sekencang aku bisa. Letak rumah kami memang tak seberapa jauh namun cukup menguras waktu jika ditempuh hanya dengan berjalan kaki. An memintaku untuk segera menuju ke rumahnya, tanpa berpikir dua kali aku langsung mengambil jaket dan berlari. Aku berprasangka aka nada hal yang mengejutkan untukku di sana, mengingat beberapa hari lalu kami sempat membicarakan tentang suatu pesta yang akan kami hadiri. Jantungku yang sudah berdebar karena berlari semakin berdebar membayangkan apa yang akan An beritahukan padaku nanti.
                Ketika aku sampai di rumahnya, An langsung menyambutku dengan begitu riang. Rambutnya yang diikat menyerupai buntut kuda dan beberapa poni menutupi dahinya dengan acak-acakkan. “Kamu berlari dari rumah?” Tanyanya padaku karena mengetahui napasku yang tersengal-sengal, aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. “Dasar kamu ya, aku nggak menyuruhmu cepat datang ke rumah kok.” An menyeringai padaku, aku memerhatikan langkahnya yang berjalan menuju kamar. Aku mengikutinya dari belakang dan membatin “Apa-apa tentangmu tak akan pernah kutunda-tunda, An. Sebisa mungkin aku harus melaksanakannya dengan segera.”  Setelah sampai di kamarnya, aku disuguhi handuk kecil berwarna hijau. “Usap dulu keringatmu, aku nggak mau ya nanti kamu merusak apa yang sudah aku persiapkan sejak lama.” An berkacak pinggang, aku mengusap keringat di dahi dan leherku. “Sebenarnya apa sih yang akan kamu beritahu padaku.” Aku mulai penasaran. “Sudah habis belum keringatmu itu?” An malah menjawabnya dengan pertanyaan. “Sudah, sudah. Nih sudah nggak ada keringat lagi kan. Segitunya banget sih.”  An hanya melirikku sekilas, kemudian dia mengambil sesuatu di dalam almari.
                Aku mengamati apa yang akan dia beritahukan padaku. Cess… Cess… “Eh, apa-apain sih An?” Aku terkejut ketika An menyemprotku dengan parfum secara tiba-tiba tanpa aba-aba. “Biar bau keringatmu itu nggak nyebar tau.” Aku geleng-geleng kepala. “Kamu sebegitunya sekali sih, keringatku wangi kali’, ngalah-ngalahin wangi bunga manapun.” An tertawa dan mencubitku. Beberapa kali kami melempar candaan dan tertawa bersama kemudian. Aku sangat senang melihat An tertawa, selalu senang dengan tingkah lakunya yang masih manja. Dan aku, selalu dibuat jatuh cinta padanya semenjak mengenal An sepuluh tahun lalu. Aku akan berusaha melakukan apa saja agar An tetap berbahagia, aku tidak tahan jika melihatnya bersedih.

                “Ah, Ram sudah dong bercandanya. Aku kan mau kasih kamu tahu sesuatu.” Aku tertawa lagi melihat tingkah An. Kemudian dia berlari kembali menuju almari. “Ram, bagus nggak?” An memamerkan jas berwarna cokelat tua di hadapanku. Aku mengangguk tanda mengikyakan bahwa jas itu bagus. Aku tahu, pasti jas itu hasil designnya. “Coba pakai, pas kan buatmu.” An segera memakaikan jas cokelat tua itu kepadaku. Aku menurut saja ketika harus jadi model jas cokelat tuanya itu. “Oh, jadi jas ini yang ingin kamu beritahu padaku? Buatanmu sendiri?” Aku mencoba mengonfirmasi tapi An masih sibuk merapikan jas cokelat tua yang sudah lekat di badanku. “Hmm… kamu agak gemukan ya sekarang? Jasnya pas sih tapi agak sedikit ketat di bagian perut. Kamu diet dong.” An menusuk perutku jahil dengan jarinya. “Ah, masa’ aku gendutan. Iya deh nanti aku diet sebelum pesta hari Sabtu.”An tersenyum padaku dan kemudian tertawa kecil, "Ah, nggak usah repot-repot diet Ram. Jas ini aku yakin pasti pas buat Demi, aku sengaja mempersiapkan jas ini untuknya buat pesta hari Sabtu itu." An melepaskan jas itu dari tubuhku. Rasanya sesuatu lain yang terlepas dari tubuhku, bukan hanya terlepas tapi juga hancur. "Ah, makasih ya Ram. Sudah mau jadi modelku sebentar tadi buat jas yang kubuat. Aku tadi hanya ingin memastikan saja kalau jas itu pas buat Demi." An tersenyum padaku dan sibuk memerhatikan jas warna cokelat tua itu.
             Sedang aku sibuk bertanya dalam hati "bagaimana caranya agar aku jadi satu-satunya orang di hatimu, An?" Rasanya aku sudah jatuh cinta kepadamu berkali-kali dan patah hati berkali-kali juga karena kamu selalu lebih memetingkan Demi kakakku daripada aku yang sungguh-sungguh sayang kepadamu.
By: Rena Kharisma

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik