Aku
pergi ke rumah An terburu-buru, aku berlari sekencang aku bisa. Letak rumah
kami memang tak seberapa jauh namun cukup menguras waktu jika ditempuh hanya
dengan berjalan kaki. An memintaku untuk segera menuju ke rumahnya, tanpa
berpikir dua kali aku langsung mengambil jaket dan berlari. Aku berprasangka aka
nada hal yang mengejutkan untukku di sana, mengingat beberapa hari lalu kami
sempat membicarakan tentang suatu pesta yang akan kami hadiri. Jantungku yang
sudah berdebar karena berlari semakin berdebar membayangkan apa yang akan An
beritahukan padaku nanti.
Ketika
aku sampai di rumahnya, An langsung menyambutku dengan begitu riang. Rambutnya
yang diikat menyerupai buntut kuda dan beberapa poni menutupi dahinya dengan
acak-acakkan. “Kamu berlari dari rumah?” Tanyanya padaku karena mengetahui
napasku yang tersengal-sengal, aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. “Dasar
kamu ya, aku nggak menyuruhmu cepat datang ke rumah kok.” An menyeringai
padaku, aku memerhatikan langkahnya yang berjalan menuju kamar. Aku
mengikutinya dari belakang dan membatin “Apa-apa tentangmu tak akan pernah
kutunda-tunda, An. Sebisa mungkin aku harus melaksanakannya dengan segera.” Setelah sampai di kamarnya, aku disuguhi
handuk kecil berwarna hijau. “Usap dulu keringatmu, aku nggak mau ya nanti kamu
merusak apa yang sudah aku persiapkan sejak lama.” An berkacak pinggang, aku
mengusap keringat di dahi dan leherku. “Sebenarnya apa sih yang akan kamu
beritahu padaku.” Aku mulai penasaran. “Sudah habis belum keringatmu itu?” An
malah menjawabnya dengan pertanyaan. “Sudah, sudah. Nih sudah nggak ada
keringat lagi kan. Segitunya banget sih.”
An hanya melirikku sekilas, kemudian dia mengambil sesuatu di dalam
almari.
Aku
mengamati apa yang akan dia beritahukan padaku. Cess… Cess… “Eh, apa-apain sih
An?” Aku terkejut ketika An menyemprotku dengan parfum secara tiba-tiba tanpa
aba-aba. “Biar bau keringatmu itu nggak nyebar tau.” Aku geleng-geleng kepala. “Kamu
sebegitunya sekali sih, keringatku wangi kali’, ngalah-ngalahin wangi bunga
manapun.” An tertawa dan mencubitku. Beberapa kali kami melempar candaan dan
tertawa bersama kemudian. Aku sangat senang melihat An tertawa, selalu senang
dengan tingkah lakunya yang masih manja. Dan aku, selalu dibuat jatuh cinta
padanya semenjak mengenal An sepuluh tahun lalu. Aku akan berusaha melakukan
apa saja agar An tetap berbahagia, aku tidak tahan jika melihatnya bersedih.
“Ah,
Ram sudah dong bercandanya. Aku kan mau kasih kamu tahu sesuatu.” Aku tertawa
lagi melihat tingkah An. Kemudian dia berlari kembali menuju almari. “Ram,
bagus nggak?” An memamerkan jas berwarna cokelat tua di hadapanku. Aku
mengangguk tanda mengikyakan bahwa jas itu bagus. Aku tahu, pasti jas itu hasil
designnya. “Coba pakai, pas kan buatmu.” An segera memakaikan jas cokelat tua
itu kepadaku. Aku menurut saja ketika harus jadi model jas cokelat tuanya itu. “Oh,
jadi jas ini yang ingin kamu beritahu padaku? Buatanmu sendiri?” Aku mencoba
mengonfirmasi tapi An masih sibuk merapikan jas cokelat tua yang sudah lekat di
badanku. “Hmm… kamu agak gemukan ya sekarang? Jasnya pas sih tapi agak sedikit
ketat di bagian perut. Kamu diet dong.” An menusuk perutku jahil dengan
jarinya. “Ah, masa’ aku gendutan. Iya deh nanti aku diet sebelum pesta hari
Sabtu.”An tersenyum padaku dan kemudian tertawa kecil, "Ah, nggak usah repot-repot diet Ram. Jas ini aku yakin pasti pas buat Demi, aku sengaja mempersiapkan jas ini untuknya buat pesta hari Sabtu itu." An melepaskan jas itu dari tubuhku. Rasanya sesuatu lain yang terlepas dari tubuhku, bukan hanya terlepas tapi juga hancur. "Ah, makasih ya Ram. Sudah mau jadi modelku sebentar tadi buat jas yang kubuat. Aku tadi hanya ingin memastikan saja kalau jas itu pas buat Demi." An tersenyum padaku dan sibuk memerhatikan jas warna cokelat tua itu.
Sedang aku sibuk bertanya dalam hati " bagaimana caranya agar aku jadi satu-satunya orang di hatimu, An?" Rasanya aku sudah jatuh cinta kepadamu berkali-kali dan patah hati berkali-kali juga karena kamu selalu lebih memetingkan Demi kakakku daripada aku yang sungguh-sungguh sayang kepadamu.
By: Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar