Rabu, 12 Agustus 2015

Perpisahan Bersalju

Aku sudah tak pernah melihat Aya lagi semenjak enam tahun perpisahan kami yang disaksikan oleh pemandangan terasiring sawah dan angin yang embusnya begitu kencang hingga membawa mendung pada sepasang mataku. “Kapan kamu kembali, Ya?” Aku masih menggenggam tangannya yang diselimut sarung tangan berwana cokelat susu. Dia hanya tersenyum kepadaku waktu itu dan melangkah menuju mobil Jeep yang dibawa oleh kakak laki-lakinya, namun aku tahu dia mengirimkan pesan lewat sorot matanya yang mengisyaratkan bahwa aku harus menunggunya. Begitulah kepergiannya yang sampai saat ini menyimpan begitu pernyataan yang menggantung pula pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya.
*****
Kakiku sudah mulai kaku, ternyata dingin di hampir puncak gunung ini terlampau lebih dingin daripada berada di desa dekat kaki bukit. Nampaknya memang aku harus terlebih dahulu beradaptasi dengan hawa dingin dan cuaca bersalju di negara ini. Namun sudah kubawa tekad bahwa aku harus segera menemuinya di sana, di puncak gunung yang dua bulan sebelumnya telah kujanjikan padanya untuk segera menaklukkannya. Barangkali setelah itu, aku pun mampu menaklukkan hatinya yang selama ini belum kutemui kepastiannya. “Ah, Laya… apa kabarmu?” Batinku sembari menahan gigil. Sebentar lagi aku akan menemuimu.
“Masih kuat kan, Him?” Eriko menanyaiku sambil memegang tongkatnya, dia sama menggigilnya denganku. Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk seklias dan segera berupaya kembali melangkahkan kaki; mendaki. “Sebentar lagi kita sampai.” Terika Nakasaki jauh di depanku, dia pemimpin bagi rombongan pendakian kami. “Bersemangatlah, Him!” Eriko menepuk pundakku.
Hingga langkah-langkahku yang bergemetaran akhirnya sampai pada sebuah batu berbentuk oval yang sepertinya sengaja diberdirikan sebagai penanda. “Kamu sudah sampai dan menemuinya, Him. Berbahagialah dan doakan dia.” Nakasaki berjongkok sejajar di dekatku. Salju kurasakan semakin deras jatuh, aku tak sanggup lagi menangis, hanya saja tubuhku mulai melemas. “Ikhlaskanlah, Him.” Eriko memelukku dari belakang. Rasanya aku ingin berteriak, “Alayana Septiaaaaa….aku telah menaklukkan gunung Himalaya.” Gunung yang bagi kami adalah perpaduan nama panggilan kami, Hima dan Laya.

Laya, saya Himawari Okitsu telah teramat mencintaimu. Jadilah kau bidadari yang jelita di surga.


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik