Aku sudah tak
pernah melihat Aya lagi semenjak enam tahun perpisahan kami yang disaksikan
oleh pemandangan terasiring sawah dan angin yang embusnya begitu kencang hingga
membawa mendung pada sepasang mataku. “Kapan kamu kembali, Ya?” Aku masih menggenggam
tangannya yang diselimut sarung tangan berwana cokelat susu. Dia hanya tersenyum
kepadaku waktu itu dan melangkah menuju mobil Jeep yang dibawa oleh kakak
laki-lakinya, namun aku tahu dia mengirimkan pesan lewat sorot matanya yang
mengisyaratkan bahwa aku harus menunggunya. Begitulah kepergiannya yang sampai
saat ini menyimpan begitu pernyataan yang menggantung pula pertanyaan yang
belum ditemukan jawabannya.
*****
Kakiku sudah mulai
kaku, ternyata dingin di hampir puncak gunung ini terlampau lebih dingin
daripada berada di desa dekat kaki bukit. Nampaknya memang aku harus terlebih
dahulu beradaptasi dengan hawa dingin dan cuaca bersalju di negara ini. Namun
sudah kubawa tekad bahwa aku harus segera menemuinya di sana, di puncak gunung
yang dua bulan sebelumnya telah kujanjikan padanya untuk segera menaklukkannya.
Barangkali setelah itu, aku pun mampu menaklukkan hatinya yang selama ini belum
kutemui kepastiannya. “Ah, Laya… apa
kabarmu?” Batinku sembari menahan gigil. Sebentar lagi aku akan menemuimu.
“Masih kuat
kan, Him?” Eriko menanyaiku sambil memegang tongkatnya, dia sama menggigilnya
denganku. Aku hanya menjawabnya dengan mengangguk seklias dan segera berupaya
kembali melangkahkan kaki; mendaki. “Sebentar lagi kita sampai.” Terika
Nakasaki jauh di depanku, dia pemimpin bagi rombongan pendakian kami. “Bersemangatlah,
Him!” Eriko menepuk pundakku.
Hingga
langkah-langkahku yang bergemetaran akhirnya sampai pada sebuah batu berbentuk
oval yang sepertinya sengaja diberdirikan sebagai penanda. “Kamu sudah sampai
dan menemuinya, Him. Berbahagialah dan doakan dia.” Nakasaki berjongkok sejajar
di dekatku. Salju kurasakan semakin deras jatuh, aku tak sanggup lagi menangis,
hanya saja tubuhku mulai melemas. “Ikhlaskanlah, Him.” Eriko memelukku dari
belakang. Rasanya aku ingin berteriak, “Alayana Septiaaaaa….aku telah
menaklukkan gunung Himalaya.” Gunung yang bagi kami adalah perpaduan nama
panggilan kami, Hima dan Laya.
Laya, saya
Himawari Okitsu telah teramat mencintaimu. Jadilah kau bidadari yang jelita di surga.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar