Aku mengenal subuh sebagai
penanda bahwa kesedihan telah habis sebab aku selalu mengingat kau pada suatu
waktu yang kelam. Malam waktu itu terasa begitu muram dari biasanya, rasanya
ada rasa sakit yang menghujam hatiku berkali-kali. Aku sedang murung di kamar,
seorang diri dan lupa mengunci pintu kamar. Setelah beberapa apa-apa yang
terbuat dari kaca terbentur—atau sengaja dibenturkan-- di dinding, aku menahan
isak mencoba untuk menjadi seseorang yang tegar dan paling tak peduli sedunia—atau
hanya di rumah ini saja. Kucoba untuk mendengarkan music dengan menggunakan
earphone tapi masih ada saja debar yang gelisah malam itu, rasanya aku ingin
pergi; lari sekencang-kencangnya dari rumah ini. Tapi aku tahu bahwa harus ada
yang kujaga, pun aku tak punya rencana harus bersinggah ke mana. Akhirnya aku
hanya bermuram durja saja, berselimut dan sesekali memaki-maki, mengumpat atau
apa sajalah yang membuat kemarahanku punya pelariaanya. Sedang tangis tak
pantas kutangiskan.
Rasanya aku sudah tak punya lagi
harapan di rumah ini, terkadang aku mengamini perceraian Papa dan Mama daripada
harus saling berteriak dan memecah segalanya di rumah ini. Merasuki kebencian
pada diriku tentang keluarga, tentang sepasang yang katanya saling mencintai
namun selalu saja menerompetkan bentak dan teriak. Seringkali aku ingin
berteriak pula di hadapan muka mereka tapi aku masih tahu diri. Menuju dini
hari, aku sudah tak tahan lagi. Teriakan dan makian kembali terlontar, aku pun
sudah tak sanggup lagi terus diam, bermuram seperti ini. Kubuka pintu kamar,
berharap masih bisa menggandeng tangan seseorang yang kukenal sebagai alasan
aku bertahan di rumah ini, tidak pergi. Aku menganggapnya sebagai penerang
segalaku yang suram, penglihatan di saat emosiku telah buta.
“Memang istri tak becus….”
“Kamu itu yang lelaki brengsek……”
Pyaaaaar….
Praaaaaang….
Dan banyak lagi makian dan bunyi
bising lainnya, aku sudah muak mendengarnya, kupercepat langkah menuju salah
satu kamar. Hampir aku sampai, sebuah guci di tangan Papa hampir melayang
menuju lantai, dan Mama bersiap menghindar, tiba-tiba kaki mungil bergerak—mungkin
berlari—di antara semuaya.
Pyaaaar…
Suara pecah dan kucur darah…
“Cahayaaaaa….” Aku memeluk tubuh
mungilnya yang sebenarnya hendak menghampiriku.
*****
Adik kecil yang terus saja
menjadi ceria ketika aku berduka, kini kau telah dewasa dengan bekas luka yang
entah kapan sembuhnya. Aku tahu kau sudah bebas, bahagia bersama dunia yang
kaupilih.
“Kak Dibma, ayo sini adik-adik
sudah menunggu loh…”
Ah, adikku yang baik hatinya,
yang masa kecilnya dinodai oleh pertengkaran Papa dan Mama telah menjadi cahaya
bagi orang-orang yang tak sempurna tubuhnya; sama seperti dirinya.
“Iya…iya…sabar.” Aku berjalan
menghampirinya dan membawakan kursi roda miliknya.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar