Rabu, 12 Agustus 2015

Cahaya bagi Segala

Aku mengenal subuh sebagai penanda bahwa kesedihan telah habis sebab aku selalu mengingat kau pada suatu waktu yang kelam. Malam waktu itu terasa begitu muram dari biasanya, rasanya ada rasa sakit yang menghujam hatiku berkali-kali. Aku sedang murung di kamar, seorang diri dan lupa mengunci pintu kamar. Setelah beberapa apa-apa yang terbuat dari kaca terbentur—atau sengaja dibenturkan-- di dinding, aku menahan isak mencoba untuk menjadi seseorang yang tegar dan paling tak peduli sedunia—atau hanya di rumah ini saja. Kucoba untuk mendengarkan music dengan menggunakan earphone tapi masih ada saja debar yang gelisah malam itu, rasanya aku ingin pergi; lari sekencang-kencangnya dari rumah ini. Tapi aku tahu bahwa harus ada yang kujaga, pun aku tak punya rencana harus bersinggah ke mana. Akhirnya aku hanya bermuram durja saja, berselimut dan sesekali memaki-maki, mengumpat atau apa sajalah yang membuat kemarahanku punya pelariaanya. Sedang tangis tak pantas kutangiskan.
Rasanya aku sudah tak punya lagi harapan di rumah ini, terkadang aku mengamini perceraian Papa dan Mama daripada harus saling berteriak dan memecah segalanya di rumah ini. Merasuki kebencian pada diriku tentang keluarga, tentang sepasang yang katanya saling mencintai namun selalu saja menerompetkan bentak dan teriak. Seringkali aku ingin berteriak pula di hadapan muka mereka tapi aku masih tahu diri. Menuju dini hari, aku sudah tak tahan lagi. Teriakan dan makian kembali terlontar, aku pun sudah tak sanggup lagi terus diam, bermuram seperti ini. Kubuka pintu kamar, berharap masih bisa menggandeng tangan seseorang yang kukenal sebagai alasan aku bertahan di rumah ini, tidak pergi. Aku menganggapnya sebagai penerang segalaku yang suram, penglihatan di saat emosiku telah buta.
“Memang istri tak becus….”
“Kamu itu yang lelaki brengsek……”
Pyaaaaar….
Praaaaaang….
Dan banyak lagi makian dan bunyi bising lainnya, aku sudah muak mendengarnya, kupercepat langkah menuju salah satu kamar. Hampir aku sampai, sebuah guci di tangan Papa hampir melayang menuju lantai, dan Mama bersiap menghindar, tiba-tiba kaki mungil bergerak—mungkin berlari—di antara semuaya.
Pyaaaar…
Suara pecah dan kucur darah…
“Cahayaaaaa….” Aku memeluk tubuh mungilnya yang sebenarnya hendak menghampiriku.
*****
Adik kecil yang terus saja menjadi ceria ketika aku berduka, kini kau telah dewasa dengan bekas luka yang entah kapan sembuhnya. Aku tahu kau sudah bebas, bahagia bersama dunia yang kaupilih.
“Kak Dibma, ayo sini adik-adik sudah menunggu loh…”
Ah, adikku yang baik hatinya, yang masa kecilnya dinodai oleh pertengkaran Papa dan Mama telah menjadi cahaya bagi orang-orang yang tak sempurna tubuhnya; sama seperti dirinya.

“Iya…iya…sabar.” Aku berjalan menghampirinya dan membawakan kursi roda miliknya.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik