Berisik ingatan bertengger di telingaku, mengurai kenangan kita yang membukit setiap tahun
Penantian kita lingkari bersama di kalender waktu, menabung setiap angka-angkanya untuk sebuah rindu yang kian buncah
atau menata kembali kenangan ketika genggaman kita menghangat pada masing-masing telapak tangan, kali ini kau menjadi angan-angan pada detik jam
Kubalut kembali resah dalam sapu tangan sisa kesedihanku yang sempat kaubasuh di waktu hujan jatuh dan ketika angkasa menerbitkan subuh
Kau selalu mampu hadir dalam ketiadaan, memeluk gigil gelisahku hanya lewat suara di seberang telepon
Menulis status singkat tentang kerinduanmu di media sosial, kau mencipta bahagia dengan cara-cara sederhana
bahkan suatu hari, saat tanggal-tanggal mulai membuatku terenyuh sebab pelukanmu yang masih jauh. Beberapa bait puisimu mengunjungi salah satu surat kabar, seperti pesan rahasia untukku yang sengaja kausebar.
Biar semua orang tahu bahwa rindumu pun tak punyai banyak sabar untuk pertemuan kau dan aku yang sekadar; kau, mahir sekali meramu debar
Bagiku, seakan-akan jarak dan temu tak pernah akur; bulu mataku satu persatu gugur.
Kilometer yang jauh itu tak mungkin dilibas sekali kejap, pula pertemuan harus dipersiapkan seperti perayaan di tahun baru
Aku meletakkan kebersamaan kita pada ingatan di atas kepala, merawatnya hingga tumbuh bunga-bunga yang menggerai panjang oleh helai-helai rambut; tanda bahwa kecintaanku belum pernah layu kepadamu
Berbaik-baiklah kau di sana, biar doa-doa menjadi pengantar pelukan kita yang belum sampai
Sebab kisah kita kuyakini tak pernah usai
Tak pernah luput kuhitungkan angka demi angka untuk terkabulnya pertemuan kita
"Sebuah cinta, di kota berbeda. Namun selalu menghapal datangnya musim jumpa yang sama."
Surabaya, Juli 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar