Guyurlah aku, dengan rindu-rindu yang tumbuh subur di kotamu
Di sini, kemarau sudah lama jadi musim
Bahkan pancaroba pun bersembunyi entah di balik apa
Aku sudah mencari rinai hujan yang kauletakkan pada tiap
sajakmu di linimasa
Namun, seperti pelangi
samar,
bahkan tak terlihat sebelum rintik milik angkasa reda.
Bila saja, ada yang ingin kaurekahkan juga
Seperti mawar di taman beranda rumahmu,
Kau bisa melakukannya pada diriku, terserah di bagian
manapun; aku bersedia.
Jangan lupa lukiskan pula warna merah dengan sebegitu meriah.
Rasanya aku kembali jatuh cinta,
Cinta yang sama bodohnya ketika pertemuan hanya sebatas
jabatan kata-kata; pelukan rima-rima
Aku sempat khawatir,
Jika saja aku bukan seperti yang kauduga, bukan seperti yang
kauingin-ingin
Setelah cinta itu jatuh bahkan aku ingin lekas pergi pula
Tetapi, mana ada jatuh cinta yang peduli tentang hal-hal
sepele macam itu
Jatuh cinta ya jatuh cinta saja
Jatuh cinta pun perlu dituntaskan, apakah bersemi? Atau bermusim
gersang lagi?
Seringkali aku ingin lesat menujumu, tanpa sayap, tanpa
perjalanan.
Hanya tiba-tiba ada di sana bersamamu; ,menukar debar demi
debar.
Surabaya, 18.11.15

Tidak ada komentar:
Posting Komentar