Di balik punggungmu, rindu jatuh persis di sepasang mataku
menjadikannya air mata haru
tapi bukankah yang selalu kubawa itu masa lalu?
Bahkan setelah sekian lama
ingatan-ingatan tentangmu masih begitu gema
seperti sebuah karma yang harus kuterima
menjadikannya air mata haru
tapi bukankah yang selalu kubawa itu masa lalu?
Sudah lima tahun ini semenjak tak lagi ada kabarmu. Aku tahu, kau tak akan pernah mau berhubungan denganku apapun dan bagaimanapun itu. Sebab terakhir kali, kau kembali pergi dengan satu alasan bahwa kau telah memiliki pasangan. Ah, aku selalu terlambat darimu. Kau selalu lebih cepat daripadaku, termasuk dalam hal melupakan; tentang kita. Jika saja kau sedang berbahagia, syukurlah. Aku tulus kau telah menemukan seseorang lain setelah perpisahan kita. Tapi aku tetap saja belum terima bahwa waktu itu kita memutuskan untuk tak lagi menjadi sepasang kekasih. Pesan singkatmu itu hanya sepihak, aku belum pernah sampai detik ini menyetujui keputusanmu. Namun, apalagi yang harus kusesali, dari segala kepedihan saat kepergian yang kau restui sendiri itu, aku tak pernah menemukan rasa sakit sesakit saat kau pergi. Aku belum menjadi kebal atau seseorang patah hati yang berhasil terlatih dengan rasa perih tapi kuakui jika tangisanku tak pernah sederas saat aku menangisi kepergianmu. Al, kau mengajariku bagaimana sebenar-benarnya patah hati untuk pertama kali.
Aku tak bisa menampik jika kerinduan tentangmu sering datang dengan menggebu, bahkan aku memaklumi segala kesalahan-kesalahanmu dan menjadikan semua kesalahan itu milikku. Begitu hebatnya cinta pertama ya, Al? Aku juga masih mencarimu di jalanan, ya di jalan raya. Rumahmu terletak lebih jauh ke arah barat dari rumahku tapi ketika kau pulang bekerja pasti melewati jalan raya depan gang rumahku. Aku hapal waktu kira-kira kau akan lewat di sana, ketika senja tergelincir menjadi gelap dan kumandang adzan maghrib bergema, tepat saat itulah sepeda motor yang kaukendarai dengan cepat itu melewati jalan raya yang kuingat sebagai jalan yang pernah mengantarkanmu menuju rumahku. Tapi kali ini, akulah pengintai yang matanya selalu awas jika ada kesempatan pulang pada waktu-waktu ketika sepeda motor berbox-partmu itu lewat. Hari ini, aku menemukanmu lagi. Aku mengingat caramu berkendara, aku mengingat plat nomormu, dan jenis sepedamu yang telah dimodifikasi menjadi sepeda motor yang cocok untuk touring. Saat itu, aku tahu jika kerinduanku dibasuh meskipun hanya melalui punggungmu. Aku tak pernah bisa menyapamu, pun lagaknya kau tak lagi mengenaliku atau sengaja menghindar dariku di saat kau tahu itu aku. Entahlah...Terserahlah, Al. Aku akan tetap merawat kenangan kita, memasang kedua mata untuk tetap jeli menangkap punggungmu di jalan raya.
Bahkan setelah sekian lama
ingatan-ingatan tentangmu masih begitu gema
seperti sebuah karma yang harus kuterima

Tidak ada komentar:
Posting Komentar