Sabtu, 15 Oktober 2016

Kursi Seorang Diri


/1/
Mungkin, gerimis di bulan lalu mencetak rintik yang tak biasa
sebab, telah rekat basah di mataku sebelum deras hujan tiba
mungkin, gerimis telah berjejak di kursi
yang sempat kaududuki bersama celoteh mesra
dengan meja bundar
yang kian samar bekas cangkir tehnya

Sepetak kenangan kian gembur di beranda ingatanku
yang kautanami dengan benih-benih janji lalu bertumbuh menjadi ranting-ranting patah hati
Tiap sore kuamati bersama ranum warna senja
yang kelak kupetik entah jadi jingga atau merah muda

/2/
Jika perpisahan begitu mudah kauketuk, maka aku akan enggan membuka pintu
Pun jendela kugerai tirainya, biar tak terlihat bagaimana caramu melangkah 
Merestui kepergian di tanggal-tanggal tua

Aku mendapati kalender lupa menandai warna merah
Mungkin untuk mencintaimu tak perlu hari libur
Sekalipun kebersamaan kita telah gugur 

/3/
Kursi itu akan tetap sendirian, tak kikis kisahnya oleh musim
Meski begitu, barangkali aku masih lugu
bergugu dengan cintamu yang sebatas kecupan di teras
lalu berlalu begitu lekas
Kursi itu menjadi piatu semenjak ragamu ditiup angin
dan hanya tersisa aku di sampingnya 
menuang kembali gerimis di kelopak mata
dan menanam harapan di beranda
Siapa tahu kau akan pulang dengan membawa bahagia lainnya...

Trawas, Oktober


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik