Banyak hal menarik yang disajikan Ayu Utami dalam buku Bilangan Fu, setelah cetakan pertama tahun 2008 akhirnya cetakan kedua terbit pada 2018. Tepat sepuluh tahun, seperti melegakan beberapa pembacanya ketika hampir putus asa untuk mencari-cari ke mana buku ini bisa dibeli. Karena kebanyakan toko buku tak lagi memiliki stock buku tersebut. Layaknya harta karun yang ternyata memang sedang dipersiapkan ulang untuk menjadi lebih berkilauan. Bandingkan saja sampul buku Bilangan Fu cetakan pertama dan kedua, terlihat lebih segar sampul cetakan kedua dengan dominasi warna cokelat dan tampilan lambang berwarna biru yang mengilap. Tulisan judul dan nama penulisnya mengingatkan pada aksara Jawa "hanacaraka" yang memang diakui Ayu Utami bahwa berasal dari tulisan tangannya menggunakan gaya aksara Palawa dan Jawa. Meskipun sebenarnya di cetakan pertama sampul novel Bilangan Fu lebih mampu memberikan kesan yang magis. Namun kedua sampul tersebut tetap bisa mewakili isi cerita novel Bilangan Fu dan mampu membawa karakter kuat sang penulis Ayu Utami. Novel ini memiliki tiga garis besar bab yaitu modernisme, monoteisme, dan militerisme yang kemudian masing-masing memiliki judul sub-bab. Selain sampul buku, berikut hal-hal menarik yang ditulis secara epik dalam novel Bilangan Fu:
- Bilangan Satu yang Bukan 1
Kebanyakan dari kita mengetahui bilangan adalah persoal matematis, angka dari nol sampai sembilan kemudian membentuk angka-angka lain yang lebih besar atau lebih kecil. Namun, di dalam novel Bilangan Fu kita akan disuguhkan pemikiran bahwa tidak selamanya yang berbilang itu bisa dihitung. Tidak semua bilangan satu seperti dituliskan dengan simbol 1, apalagi jika dikaitkan dengan ketuhanan. Tuhan yang satu, Tuhan yang Esa. Ayu Utami mengajak kita untuk bersama-sama berpikir tentang agama, tentang merumuskan Tuhan itu satu. Namun bukan satu yang matematis, tetapi satu yang spiritualis. Lewat catatan-catatan dari tokoh Parang Jati, menelaah agama dari sudut pandang yang lebih kritis. Bahasan tentang bilangan satu ini diungkapkan pada salah satu bab Monoteisme dengan judul Antara Nol dan Satu (hlm. 322).
Pertanyaannya sederhana: bagaimana "satu" itu dirumuskan? Bagaimana genealoginya? (hlm. 324)
Pertanyaan itu bisa ditemukan atau bahkan belum ditemukan jawabannya ketika kita telah membaca tuntas novel Bilangan Fu yang berjumlah 562 halaman ini. Namun, kita tak akan kecewa dengan cara Ayu Utami membawa pembaca untuk merenung tentang arti bilangan, Tuhan, dan keagamaan. Mungkin saja angka satu yang kita kenal selama ini tak akan pernah cukup hanya mencakup lambang 1. Bisa jadi satu adalah yang mewakili seluruh.
- Karakter Tokoh
Ayu Utami selalu kuat membentuk karakter-karakter tokoh dalam novel. Novel Bilangan Fu ini kebanyakan mengambil sudut dari tokoh Sandi Yuda dan sebagian besar mengungkap karakter Parang Jati. Tetapi karakter tokoh lain misalnya Marja, Suhubudi, Mbok Manyar, sampai Farisi/kupukupu tetap memiliki penjabaran watak yang sangat jelas. Lebih hebatnya lagi Ayu Utami berhasil membuat pembaca akan terkagum-kagum bagaimana jalan cerita kehidupan si tokoh dengan peristiwa-peristiwa yang mereka alami sehingga terbentuklah watak tokoh tersebut di masa kini cerita. Terutama pertentangan yang dialami oleh Farisi dan Parang Jati dari semasa mereka kecil. Sangat menarik untuk diikuti dan membuat penasaran. Seperti tercipta suatu biografi. Watak setiap tokoh terasa sangat manusiawi karena bisa berubah, misalnya saja Sandi Yuda yang sangat mengagungkan keperkasaan terpesona dengan kelembutan dari seorang Parang Jati si mata bidadari. Ayu Utami juga menyisipkan unsur pewayangan dalam karakter tokoh, baik secara fisik maupun sifat.
Si Penghulu adalah yang berada dalam cahaya dan ukuran wajar, dan merupakan satu-satunya sosok yang memiliki stilisasi.
Ia mengingatkan aku pada Semar. Seabagai badut, rakyat, dan abdi, ia bertubuh bulat pendek. Tapi ia juga penasihat nan hikmat.
(hlm. 96)
Tokoh-tokoh yang bukan utama seringkali memberikan gambaran yang tak sederhana dan Ayu Utami selalu mampu membuat para tokohnya terlihat penting. Sehingga pembaca tak bisa meremehkan keturut-sertaan tiap tokoh dalam alur cerita.
- Gambar dan Cuplikan Berita
Salah satu ciri khas novel-novel Ayu Utami adalah adanya gambar yang diselipkan di beberapa halaman. Peletakan gambar-gambarnya pun tak sembarangan, sehingga memperkuat jalan cerita yang sedang terjadi pada tiap bab novel. Hal ini seperti memudahkan pembaca untuk mengenali imajinasi cerita yang digambarkan dan barangkali juga sebagai penghibur kejenuhan saat membaca. Misalnya penggambaran pada silsilah keluarga Sultan Agung Mataram (hlm. 248). Digambarkan begitu menarik dengan ilustrasi yang sederhana tapi tetap mampu bercerita.
Ayu Utami juga memberikan cuplikan-cuplikan berita yang mewakili tragedi dalam cerita. Seperti mengesankan bahwa novel ini bisa saja bukan fiksi tetapi ada bukti nyata bahwa peristiwa tersebut pernah terjadi dengan diselipkan beberapa cuplikan berita dari media cetak. Tak hanya itu, ada catatan tulisan tangan dari cuplikan berita tesebut meski hanya di beberapa saja. Namun itu menjadi daya tarik bagi pembaca untuk tak mengabaikan berita-berita tersebut.
- Klan Saduki
Seperti Yuda yang tak bisa semudah itu menerima "cacat ekstrim", mungkin ketika kita membaca cara Ayu Utami menuliskan klan Saduki akan membuat kita sedikit mual. Sirkus orang-orang Saduki ini seperti membawa nostalgia dengan rasa mistis sewaktu dulu di Indonesia begitu marak pertunjukan orang-orang aneh. Bilangan Fu selain berhasil menyuguhkan kemistisan dalam cerita-cerita mitos yang ada di bumi nusantara juga memberikan kesadaran bahawa memang masyarakat di Indonesia masih gemar dengan hal-hal yang mistis. Bahkan relevan sampai sekarang. Jika pembaca pernah membaca novel Ayu Utami yang lain yaitu Maya, maka akan menemukan sisi lain dari Klan Saduki yang lebih menakjubkan.
*****
Novel Seri Bilangan Fu ini jika dimiliki secara lengkap akan memuaskan pembaca tentang cerita-cerita sejarah yang kental dengan mistis. Namun, tetap membawa misinya yaitu spiritualisme kritis. Rasanya Ayu Utami selalu berhasil membawa misinya dengan khas dan menarik untuk pembaca.
Seperti Yuda yang tak bisa semudah itu menerima "cacat ekstrim", mungkin ketika kita membaca cara Ayu Utami menuliskan klan Saduki akan membuat kita sedikit mual. Sirkus orang-orang Saduki ini seperti membawa nostalgia dengan rasa mistis sewaktu dulu di Indonesia begitu marak pertunjukan orang-orang aneh. Bilangan Fu selain berhasil menyuguhkan kemistisan dalam cerita-cerita mitos yang ada di bumi nusantara juga memberikan kesadaran bahawa memang masyarakat di Indonesia masih gemar dengan hal-hal yang mistis. Bahkan relevan sampai sekarang. Jika pembaca pernah membaca novel Ayu Utami yang lain yaitu Maya, maka akan menemukan sisi lain dari Klan Saduki yang lebih menakjubkan.
*****
Novel Seri Bilangan Fu ini jika dimiliki secara lengkap akan memuaskan pembaca tentang cerita-cerita sejarah yang kental dengan mistis. Namun, tetap membawa misinya yaitu spiritualisme kritis. Rasanya Ayu Utami selalu berhasil membawa misinya dengan khas dan menarik untuk pembaca.
catatan:
ditulis selain dalam rangka untuk mengikuti lomba resensi novel Bilangan Fu,
juga karena sangat menggemari karya-karya Ayu Utami.
Dan "tersentil" oleh banyak hal setelah membaca novelnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar