Tampilkan postingan dengan label #sekadartulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #sekadartulisan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2015

Canggung

Penulis dan kopi seperti dua sejoli yang wajib bersama-sama ketika berkencan.

Rasanya aku seperti seorang yang gagal jadi keduanya. Penulis dan coffee addict. Bagaimana tidak, aku terobsesi ingin menggemari keduanya tapi tak didukung dengan kemampuan yang ada. Kalau kemampuan bisa diupayakan, lalu apa yang harus aku lakukan lagi ketika upaya itu ditolak secara alamiah?
Seperti meminum kopi, pencernaanku bukan yang tahan terhadap minuman satu ini. Jika saja efeknya selama yang ditumpukkan oleh bumbu-bumbu mie instan mungkin aku masih bertahan meminumnya setiap hari. Tapi efek penolakan yang dilakukan tubuhku hanya hitungan menit setelah menyeruput kopi yang seringkali kuseduh semanis mungkin. Nah, diseduh semanis mungkin juga sepertinya menyalahi cita rasa kopi yang sebenarnya. Ah, aku ini apa? Hanya berupaya mencintai tapi tak punya ketahanan diri.
Tapi, tidak bisa dipungkiri jika aku masih terus mengonsumsi kopi selagi diperlukan. Seperti disaat stress. Ya, meminum kopi yang manis bisa jadi terapi tersendiri. Tapi, aku masih tetap gagal untuk mengandalkan kopi sebagai terapi saat pikiran begitu penat. Aku beralih pada cokelat hangat kali ini.

Hhh...
Dan penulis?
Oh my goodness...
Keterobsesianku pada hal satu ini sudah berhasil mengubur cita-citaku saat masih kecil. Rasanya deretan kata-kata seperti menyihirku untuk terus jatuh cinta pada kegiatan satu itu. Sebab, lewat menulis lega seringkali aku dapatkan. Barisan kata-kata yang tersusun menjadi kisah mengubahku menjadi seseorang yang lebih mampu mengontrol emosi yang seringkali tak bisa disamarkan oleh raut wajah dan ucapan. Bukan berarti menulis mengajariku mahir bersandiwara, tapi menulis mengajariku pandai untuk mengolah rasa.
Tapi, sama halnya dengan keterobsesianku yang gagal pada kopi, menulis masih jadi hal yang dikontrol oleh mood dan nafsu. Banyak tulisan yang belum aku rampungkan, berserakan, dan hanya mengendap di kepala. Aku belum bisa menyelesaikan tulisan dengan baik, aku belum bisa merapikan tulisan yang berserakan di berbagai buku catatan, laptop, memo HP, atau bahkan di kertas tisu, dan aku belum bisa mengutarakan ide-ide di pikiran semengalir air yang jatuh dari tebing.  Hal ini yang membuatku merasa sebagai penulis yang abal-abal. Ah, sebentar aku belum bisa disebut sebagai penulis.
Aku belum bisa menyebut penulis sebagai cita-citaku saat ini. Dari awal sudah banyak penghalang dan baru sekali aku membangkang. Keinginanku untuk terus menulis mungkin sangat kuat pun harapanku pada kegiatan ini sangat besar. Namun, aku masih merasa belum sepenuhnya mampu menjalankan meski sudah mengupayakan.

Penulis dan kopi, sepasang yang belum mampu aku rengkuhkan sebagai seorang yang mengaku terobsesi. Mungkin aku akan terus menjadi pribadi yang canggung jika berhadapan dengan dua hal itu. Secanggung saat pertama aku mengenal pujaan hati.

(Ditulis ketika "ngadat" menyelesaikan naskah yang deadlinenya sedekat jari kelingking dan jari manis)

Rabu, 07 Januari 2015

Biar Ingatan Itu Bersembunyi

Kau tahu kan, tentang aku yang tak bisa rapi menjaga barang-barang yang kumiliki. Tapi kau juga pasti tahu ketika aku sedang rajin-rajinnya, segala penjuru ruangan tertata apik, bahkan pernak-pernik jadi pajangan yang enak dilihat mata, dan kau akan tercengang dengan bersihnya. Mungkin kau juga tahu tentang segala barang yang aku simpan demi sebuah kenangan atau malah lebih banyak ingatan yang tersimpan di bawah tumpukan buku, di laci meja yang tak pernah kubuka, di sebuah amplop yang robek-robek, atau di tas plastik yang hampir lebur. Begitulah caraku mengingat apa-apa yang pernah ada meski sudah lupa di mana letaknya. Aku gemar mengoleksi note dan kau juga pasti tahu, semuanya akan tergeletak di sana-sini. Tulisan tanganku yang berantakan juga pasti ada di sana, di halaman yang berserakan. Tulisan tentang kekesalan, kebahagiaan, puisi, cerita singkat, apa saja yang bisa kutuliskan selama aku tak lupa.


Kau tahu? Sungguh aku ingin merapikan segala kenangan dengan baik, dengan terawat. Tapi aku kesusahan, aku akan menangis sesenggukan jika menemukan lembar demi lembar kenangan itu apabila dengan mudah kuingat letaknya. Aku memang tidak ingin membuang secuil pun kenangan dengan sia-sia, tapi aku tak mahir merawatnya. Seandainya kau mampu memakluminya, aku pelupa yang juga alpa dalam hal kerapian. Tapi biarlah kenangan-kenangan itu berserakan di tempat yang tak bisa dengan mudah kutemukan. Biar ingatan itu bersembunyi. 

Surabaya, 20.37 
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik