Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2019

Perasaan yang Tak Semestinya


Aku menemukan potretmu bersamanya
Kau letakkan tanpa bingkai tapi aku tahu bahwa kisah di baliknya sudah begitu lama
Tak ada sedikit pun yang terbengkalai dari cintamu untuk dia 
Aku seperti orang asing yang menyaksikan dari kejauhan 
Tapi harapanku tak pernah menjadi asing, berharap menjadi yang kauingini harusnya tak masalah 

Perasaan ini tak akan mengganggu apapun perihalmu dan dia 
Hati ini pasti pendiam, telah terbiasa memendam dalam-dalam 
Tak punya suara dari bibir namun kata-kata telah mewakili dengan catatan yang getir 
Tak mungkin aku utarakan secara terang-terangan meski sebenarnya perasaan ini tak mau disembunyikan di kegelapan 

Mengapa harus dia yang lebih dulu mengenalmu?
Mengapa hatimu lebih dulu tertambat padanya?
Sedang aku selalu saja terlambat
atau memang begitulah keadaan yang takdir buat 
Kadang aku ingin tahu alasan semesta mengapa tak daridulu dipertemukan olehmu
Sehingga aku paham bahwa memang kau bukanlah porsi yang ditakarkan dalam hidupku 
Aku hanya dipaksa menerima kenyataan yang ada.

Perasaan ini memang tak semestinya namun aku tetap tak mau terima.

Sda, 20.00 

Kamis, 24 Januari 2019

Meringkas Kenangan


Deras hujan menajam ketika jatuh di kepalaku
Menguyupkan rindu yang kau lepas jauh
Namun tiap hari, kupendekkan ingatan
Kupangkas harap, Kuringkas kenang
yang tertulis di kening. 

Telah kucukupkan sedih perihalmu yang pergi 
Biar langkahku kembali ringan, seolah angin
biar debar tak lagi beban, seakan angan. 

Mari menjemput bahagia masing-masing
Yang pernah kau dan aku bagi saat saling beriring.

Sda , 19.30

Senin, 14 Januari 2019

Mencintaimu Seolah Petaka yang Risikonya Dijauhimu Selamanya

Source: instagram addeection

Sebagai luapan kesah
Aku mengemban tanggung jawab untuk membuatnya reda
Sebagai ruang mendengar keluh
Aku berupaya untuk menjadi senyaman-nyamannya tempatmu berteduh 

Kau boleh memakiku karena kesalahan orang lain
Mencaciku karena kekesalanmu padanya
Aku ingin menampung kecewamu
lalu mengubah harimu kembali baik-baik saja
Aku ingin turut serta berbahagia atas pencapaianmu 
Meski yang kau ingin sandingkan bukanlah aku 

Sedang cerita yang kaujabarkan 
kisah di hari-harimu yang riuh
membuatku semakin hanyut pada rasa simpati 
yang menumbuhkan hal lain lebih dari empati 

Seakan-akan aku butuh separuh hidupmu 
Walau hanya aku yang jadi pendengar selama ini 
Walau hanya aku yang tak boleh terluka karena cemburu 
Namun aku selalu menunggumu datang 
Meski dalam bentuk amarahmu yang meradang 

Sebab aku pun tak boleh serakah 
untuk mengubah status kita lebih dari sahabat, walau hati sepenuhnya telah tertambat dan terlambat untuk tak lagi dekat 
Sebab apabila kau mengetahui perasaanku akan jadi petaka
yang risikonya akan dijauhimu selamanya jika kau tahu ternyata selama ini aku selalu ada karena aku cinta. 

*****

Note:
Tulisanku di atas terinspirasi ketika melihat gambar yang dibuat Ari Luqman untuk menginterpretasikan lagu dari ibu suri Dee Lestari "Curhat Buat Sahabat". Aku mengingat dan memutar ulang lagu dan filmnya di kepala sembari menulis. 

Minggu, 21 Oktober 2018

Berhenti Merasa Paling Benar

Kau boleh menerjemahkan lukaku sebagai kekalahan yang tak pernah sekalipun memenangkan pertarungan. Sebab sepertinya aku ditakdirkan demikian dalam percintaan bersamamu, dalam segala hal yang melibatkan kita. Aku memang akan  terlihat seperti menyerah dan mudah sekali pasrah. Tapi kau tak pernah mau tahu tentang upayaku yang hampir tak kenal lelah yang bertahan sekuat tenaga meski begitu jengah. Apakah memang aku yang payah?

Aku pulang dengan segenggam kekecewaan yang kuremas hancur, sedang rumah yang kutuju pun seakan-akan sudah tak punya apa-apa untuk jadi pelipur. Perjalananku yang dipenuhi sedih itu selalu jadi jalur yang kulalui dengan jejak pilu yang lajur, tanpa punya pelukan yang kapanpun aku bisa menghambur. 

Tak lagi mampu kuandaikan kau berlari mengejar, untuk menarikku kembali bersama perasaan berdebar atau sekadar berkata jangan pergi dengan nada yang sabar. Suara yang keluar dari ucapmu terdengar sangat kasar, sepertinya kau kehabisan ruang lapang dada yang lebar dan aku hanya mampu diam dengan bibir yang gemetar. Kau membiarkan prasangka-prasangka menjalar di sekujur perasaan dengan betapa penasaran tanpa sudi sedikit pun memberi kabar. Setidaknya jangan jadikan apa yang pernah bahagia dalam kisah ini tiba-tiba hambar. Tidakkah kau sadar bahwa apa yang kita jalin sudah melampaui pengorbanan teramat besar? 

Sekali lagi kupinta: "Kumohon, berhenti merasa paling benar"  

Apa yang kau dan aku jalani hingga saat ini bukan ajang pertandingan, bukan saling menyalahkan, bukan mencari pemenang, atau arena adu serang. Sayang, bukankah kita harusnya tak saling meradang? Sebab akan percuma jika kita sama-sama berjuang hanya untuk mencatat apa yang kurang. 

Sda, 22.02

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik