Selasa, 09 Oktober 2012

Sejarah Ilmu Bahasa


Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani (abad 6 SM). Alur pemikirannya dimulai dari zaman kuno, diawali dengan zaman pra-sokrates yang ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala sesuatu ("arche" ). Pada zaman sokrates metode yang digunakan oleh Sokrates biasa disebut dialektika, dari kata kerja Yunani dialegesthai, yang artinya bercakap-cakap atau berdialog. Plato berpendapat bahwa bahasa adalah physei atau mirip realitas; sedangkan Aristoteles mempunyai pendapat sebaliknya yaitu bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip realitas kecuali onomatope dan lambang bunyi (sound symbolism). Kemudian pada abad 3 SM-5M disebut dengan zaman Patristik atau para pemikir Bapa Gereja Katolik yang mengandung unsur neo-platonisme dan juga pada abad 5M terdaparat Helenisme, yaitu kebudayaan yunani yang mencapai puncak tertingginya di Athena pada abab ke 5 SM.
Pada zaman Renaisans penelitian bahasa mulai berkembang ke bahasa-bahasa Roman (bahasa Prancis, Spanyol, dan Italia) yang dianggap berindukkan bahasa Latin, juga kepada bahasa-bahasa yang nonRoman seperti bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Swedia, dan Denmark. Zaman Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Kemudian berlanjut pada zaman idealisme yang menekankan “idea” (dunia roh) sebagai objek pengertian dan sumber pengetahuan sedangkan positivisme yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik.
Pada zaman post-modern tokoh yang terkenal adalah Ferdinand de Saussure yang memiliki pemikiran bahwa bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis. Tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran. Linguistik bersifat deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional. Para ahli linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara.Ilmu linguistik berkembang secara dekonstruk pada 1965-1984 M yang tidak berdiri sendiri melainkan bekerja sama dengan berbagai disiplin ilmu lain. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik