Ilmu
bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak
zaman Yunani (abad 6 SM). Alur pemikirannya dimulai dari zaman kuno, diawali
dengan zaman pra-sokrates yang ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala
sesuatu ("arche" ). Pada zaman sokrates metode yang digunakan oleh
Sokrates biasa disebut dialektika, dari kata kerja Yunani dialegesthai, yang
artinya bercakap-cakap atau berdialog. Plato berpendapat bahwa bahasa adalah physei atau mirip realitas; sedangkan
Aristoteles mempunyai pendapat sebaliknya yaitu bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip realitas kecuali
onomatope dan lambang bunyi (sound
symbolism). Kemudian pada abad 3 SM-5M disebut dengan zaman Patristik atau
para pemikir Bapa
Gereja Katolik yang mengandung unsur neo-platonisme dan juga pada abad 5M
terdaparat Helenisme, yaitu kebudayaan yunani yang mencapai puncak tertingginya
di Athena pada abab ke 5 SM.
Pada
zaman Renaisans penelitian bahasa mulai berkembang ke bahasa-bahasa Roman
(bahasa Prancis, Spanyol, dan Italia) yang dianggap berindukkan bahasa Latin,
juga kepada bahasa-bahasa yang nonRoman seperti bahasa Inggris, Jerman,
Belanda, Swedia, dan Denmark. Zaman Rasionalisme adalah merupakan faham atau
aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu,
tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu
pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk
menemukan kebenaran. sebaliknya Empirisme berpendapat
bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi
merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Kemudian berlanjut pada
zaman idealisme yang menekankan “idea” (dunia roh) sebagai objek pengertian dan
sumber pengetahuan sedangkan positivisme yang menyatakan ilmu alam sebagai
satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan
dengan metafisik.
Pada
zaman post-modern tokoh yang terkenal adalah Ferdinand de Saussure yang
memiliki pemikiran bahwa bahasa lisan lebih utama dari pada bahasa tulis.
Tulisan hanya merupakan sarana yang mewakili ujaran. Linguistik bersifat
deskriptif, bukan preskriptif seperti pada tata bahasa tradisional. Para ahli
linguistik bertugas mendeskripsikan bagaimana orang berbicara dan menulis dalam
bahasanya, bukan memberi keputusan bagaimana seseorang seharusnya berbicara.Ilmu
linguistik berkembang secara dekonstruk pada 1965-1984 M yang tidak berdiri
sendiri melainkan bekerja sama dengan berbagai disiplin ilmu lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar