Minggu, 29 September 2013

Filologi : Situasi Pernaskahan di Indonesia

Jika kita menelusuri daerah mana saja yang memiliki dan yang meninggalkan warisan budaya berupa naskah kepada kita, dapat kita lihat bahwa semua kawasan yang memiliki huruf daerah merupakan daerah sumber naskah. Di  samping itu, ada daerah – daerah yang menulis bahasanya dengan huruf Arab. Daerah – daerah ini juga merupakan daerah sumber naskah terutama pada masa lampau. Misalnya di Sumatera, naskah-naskah terdapat di daerah-daerah Aceh, Batak, Minangkabau, Kerinci, Riau, Siak, Palembang, Rejang di Bengkulu, Pasemah dan Lampung.
Sampai sekarang yang paling banyak menyimpan naskah dalam berbagai bahasa daerah ialah Perpustakaan Nasional di Jakarta. Noegraha mencatat bahwa kekayaan Perpustakaan Nasional mencapai 9.626 naskah, yang antara lain tertulis dalam bahasa-bahasa Aceh, Bali, Batak, Bugis, Makassar, Jawa, Jawa Kuna, Madura, Melayu, Sunda, dan Ternate. Naskah-naskah yang disimpan di Perpustakaan Nasional merupakan pindahan dari Museum Nasional pada tahun 1989 (Noegraha, 1992:1—3)
Di luar Perpustakaan Nasional, Jakarta, banyak sekali tempat yang menyimpan naskah, seperti berbagai museum, yayasan, universitas dan lain-lain. Di samping itu, tidak terhitung naskah yang disimpan oleh anggota masyarakat sebagai warisan nenek moyangnya.
Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa naskah Indonesia tertulis dalam bahasa-bahasa daerah. Umpamanya, naskah-naskah yang terdapat di daerah Aceh atau yang berasal dari daerah Aceh ada yang berbahasa Aceh dan ada pula yang berbahasa Melayu.
Dari segi bahasa ada empat bahasa yang digunakan, yaitu :
1.       Bahasa Sunda Kuna; abad ke-16
2.       Bahasa Jawa; sekitar abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-19
3.       Bahasa Sunda; sejak pertengahan abad ke-19, dan
4.       Bahasa Melayu; akhir abad ke-19 (Ekadjati, 1985, 2 dan 7)
Selain bahasa daerah yang bermacam-macam, pemakaian huruf untuk penulisan naskah pun beraneka ragam. Huruf-huruf daerah lain yang dapat disebutkan antara lain adalah huruf Sunda, huruf Jawa, huruf Bali, huruf Sasak, huruf Bima, huruf Ende, huruf Madura, huruf Bugis, dan huruf Makassar.
Diilhami oleh usaha Henry Chambert-Loir (1980a) yang telah membuat daftar semua katalog yang ada mengenai koleksi naskah Melayu di seluruh dunia, W. van der Molen juga membuat hal yang serupa untuk naskah Jawa (van der Molen, 1984a:12—49). Negara-negara yang didaftarkannya ada dua puluh satu, yaitu Amerika, Australia, Austria, Belanda, Belgia, Cekia, Denmark, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman Barat, Jerman Timur, Malaysia, Norwegia, Prancis, Rusia, Selandia Baru, Slovakia, Swedia, Swiss, dan Thailand. Oleh karena Jerman Barat dan Jerman Timur sekarang menjadi satu negara susut menjadi dua puluh.

T.E. Behrend mengemukakan bahwa jumlah naskah Jawa di Indonesia dan Eropa pasti lebih dari 19.000. Masih ribuan lagi yang disimpan di tempat-tempat pribadi, baik di Indonesia maupun luar negeri (Behrend, 1992:1)
Umumnya, naskah-naskah Melayu di Indonesia di luar Perpustakaan Nasional terdapat di museum-museum daerah, pesantren, masjid, yayasan, dan pada keluarga-keluarga yang menyimpannya sabagai warisan nenek moyang yang biasanya mereka juga dengan ketat.

Kekayaan Indonesia akan naskah yang ditulis dalam Bahasa Melayu dan berbagai bahasa daerah, baik yang ditulis dalam huruf Arab Melayu maupun dalam huruf daerah dan Latin, sampai sekarang belum diketahui jumlahnya secara pasti. Mungkin juga, sampai kapan pun jumlah naskah di tanah air kita tidak akan dapat diketahui dengan pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik