Jika kita
menelusuri daerah mana saja yang memiliki dan yang meninggalkan warisan budaya
berupa naskah kepada kita, dapat kita lihat bahwa semua kawasan yang memiliki
huruf daerah merupakan daerah sumber naskah. Di
samping itu, ada daerah – daerah yang menulis bahasanya dengan huruf
Arab. Daerah – daerah ini juga merupakan daerah sumber naskah terutama pada
masa lampau. Misalnya di Sumatera, naskah-naskah terdapat di daerah-daerah
Aceh, Batak, Minangkabau, Kerinci, Riau, Siak, Palembang, Rejang di Bengkulu,
Pasemah dan Lampung.
Sampai
sekarang yang paling banyak menyimpan naskah dalam berbagai bahasa daerah ialah
Perpustakaan Nasional di Jakarta. Noegraha mencatat bahwa kekayaan Perpustakaan
Nasional mencapai 9.626 naskah, yang antara lain tertulis dalam bahasa-bahasa
Aceh, Bali, Batak, Bugis, Makassar, Jawa, Jawa Kuna, Madura, Melayu, Sunda, dan
Ternate. Naskah-naskah yang disimpan di Perpustakaan Nasional merupakan
pindahan dari Museum Nasional pada tahun 1989 (Noegraha, 1992:1—3)
Di luar
Perpustakaan Nasional, Jakarta, banyak sekali tempat yang menyimpan naskah,
seperti berbagai museum, yayasan, universitas dan lain-lain. Di samping itu,
tidak terhitung naskah yang disimpan oleh anggota masyarakat sebagai warisan
nenek moyangnya.
Seperti yang
telah diuraikan di atas bahwa naskah Indonesia tertulis dalam bahasa-bahasa
daerah. Umpamanya, naskah-naskah yang terdapat di daerah Aceh atau yang berasal
dari daerah Aceh ada yang berbahasa Aceh dan ada pula yang berbahasa Melayu.
Dari segi
bahasa ada empat bahasa yang digunakan, yaitu :
1.
Bahasa Sunda Kuna; abad ke-16
2.
Bahasa Jawa; sekitar abad ke-17 sampai
pertengahan abad ke-19
3.
Bahasa Sunda; sejak pertengahan abad ke-19, dan
4.
Bahasa Melayu; akhir abad ke-19 (Ekadjati, 1985,
2 dan 7)
Selain bahasa
daerah yang bermacam-macam, pemakaian huruf untuk penulisan naskah pun beraneka
ragam. Huruf-huruf daerah lain yang dapat disebutkan antara lain adalah huruf
Sunda, huruf Jawa, huruf Bali, huruf Sasak, huruf Bima, huruf Ende, huruf
Madura, huruf Bugis, dan huruf Makassar.
Diilhami oleh
usaha Henry Chambert-Loir (1980a) yang telah membuat daftar semua katalog yang
ada mengenai koleksi naskah Melayu di seluruh dunia, W. van der Molen juga
membuat hal yang serupa untuk naskah Jawa (van der Molen, 1984a:12—49).
Negara-negara yang didaftarkannya ada dua puluh satu, yaitu Amerika, Australia,
Austria, Belanda, Belgia, Cekia, Denmark, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italia,
Jerman Barat, Jerman Timur, Malaysia, Norwegia, Prancis, Rusia, Selandia Baru,
Slovakia, Swedia, Swiss, dan Thailand. Oleh karena Jerman Barat dan Jerman
Timur sekarang menjadi satu negara susut menjadi dua puluh.
T.E. Behrend
mengemukakan bahwa jumlah naskah Jawa di Indonesia dan Eropa pasti lebih dari
19.000. Masih ribuan lagi yang disimpan di tempat-tempat pribadi, baik di
Indonesia maupun luar negeri (Behrend, 1992:1)
Umumnya,
naskah-naskah Melayu di Indonesia di luar Perpustakaan Nasional terdapat di
museum-museum daerah, pesantren, masjid, yayasan, dan pada keluarga-keluarga
yang menyimpannya sabagai warisan nenek moyang yang biasanya mereka juga dengan
ketat.
Kekayaan
Indonesia akan naskah yang ditulis dalam Bahasa Melayu dan berbagai bahasa
daerah, baik yang ditulis dalam huruf Arab Melayu maupun dalam huruf daerah dan
Latin, sampai sekarang belum diketahui jumlahnya secara pasti. Mungkin juga,
sampai kapan pun jumlah naskah di tanah air kita tidak akan dapat diketahui
dengan pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar