Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2014

Frasa

v  Definisi Frasa

Ø  Dalam hierarki satuan bahasa, frasa terletak diantara klausa dan kata. Posisinya di bawah klausa dan di atas kata.
Ø  Frasa ialah satuan gramati yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa (Ramlan, 1987 : 151).
Ø  Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata dengan kata yang sifatnya nonpredikatif (Kridalaksana, 1983 : 46; Cook dalam Tarigan, 1985 : 50).
Ø  Frasa hanya menduduki satu fungsi gramatika.
Ø  Jadi Frasa ialah :
1.       Terdiri atas dua kata atau lebih;
2.       Tidak melampaui batas fungsi.

v  Jenis Frasa
·         Berdasarkan kategori katanya:
1.       Frasa Verbal;
2.       Frasa Nominal;
3.       Frasa Adjektival;
4.       Frasa Numerial;
5.       Frasa Preposisional.

1.       Frasa Verbal
·         Frasa Verbal (FV) frasa yang berinti verba.
·         Setiap FV memiliki unsur inti dan pendamping.
·         Posisi pendamping, umumnya bersifat pasti (fixed) sehingga tidak dapat dipindahkan secara bebas ke posisi lain.
·         FV bukan pengisi S,O, dan Pelengkap.
2.       Frasa Nominal
·         FN frasa yang berinti nomina.

·         Pada kalimat “Surat cinta pertama kita ini akan kau lupakan setelah pipiku keriput nanti?”, “Surat cinta kita pertama ini” merupakan FN dengan inti “Surat cinta pertama kita” dan pewatas belakang pronomina penunjuk umum “ini”.
1.       Frasa Adjektival
·         Frasa adjektival adalah frasa yang berinti adjektiva.
a.       Pewatas + inti (Adj)
Sudah tenang, harus tenang, harus sudah tenang, sudah tidak tenang.
b.      Inti (Adj) + pewatas
Tenang lagi, tidak akan tenang lagi
c.       Menyatakan perbandingan
...sudah lebih baik daripada,.....
2.       Frasa Numeral dan Frasa Preposional
·         F.Num dan F.Prep dapat dipahami dengan beranalogi pada konsep FV, FN, Fadj.
·         Pada kalimat “Sejak cintanya terbagi dua, satu butir ke kiri, satu butir ke kanan.”, “satu butir” merupakan Fnum dengan ini “satu” dan pewatas belakang “butir”.
·         “ke kiri” dan “ ke kanan” pada kalimat di depan merupakan Fprep dengan inti “ke” dan pewatas belakang “kiri” dan “kanan”.
v  Jenis Frasa Berdasarkan Distribusinya :
1.       Frasa Endosentrik : yang berdistribusi sama dengan unsur intinya.
a.       F.e koordinatif (dua inti, dapat dihubungkan dengan konjungsi.
-          Belajar atau bekerja.
-          Rumah pekarangan.
-          Suami istri
b.      F.e atributif (satu inti)
-          Akan dimulai.
-          Menyenangkan sekali.
-          Sudah sangat kronis.
ü  Berpola atribut + inti                    → sering tampil, asyik bertelepon
ü  Berpola inti + atribut                    → pabrik gula, menyenangkan sekali
ü  Berpola atribut terbelah               → tiga mahasiswa berprestasi, seikat bunga mawar
ü  Berpola atribut manasuka            → lain orang – orang lain

c.       F.e apositif (ada unsur inti dan unsur aposisi)
-          SBY, Presiden RI, akan berkunjung ke Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
2.       Frasa Eksosentrik (tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsur intinya).
a.       F.e Direktif
1.       F,e direktif preposional         → dari kampus, ke tempat kerja
2.       F,e direktif konjungtif            → karena bimbang, walaupun ragu
3.       F,e direktif artikel                  → Yang Maha Esa
b.      F.e nondirektif/ konektif
...sebagai direktur,...
...adalah pengusaha.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Apresiasi Puisi (2)

                Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas salah satu perkuliahan favorit saya kembali yaitu Apresiasi Puisi. Bapak dosen yang seorang pujangga, Tengsoe Tjahjono memberikan intruksi pada kami di awal jam pertemuan dengan menulis kata penyair disertai kata kerja, semisal ‘penyair menyulam’, ‘penyair merindu’, dan lain sebagainya. Selain itu aturan mainnya kami tidak boleh berhenti menggoreskan pena, jika ingin berganti baris diperbolehkan, dan pak Tengsoe mengharamkan kami untuk berpikir dalam menulisnya. Alhasil beginilah puisi yang saya buat :

                Penyair memicingkan bait bagai menyingsingkan baju saat berperang
                Menenggelamkan kata di peraduan benci
                Penyair menggalah bilah-bilah dendam bagai embun yang menilap kabut
                Atau kabut yang menilap embun
                Entah...
                Penyair bergurau dengan kesedihan pagi ini
                Menyeruput secangkir sadis karena emosi
                Penyair memaki orang-orang di telaga sunyi
                Membisikkan angkara-angkara hati
                Ia benci...
                Penyair mengadu rintih pada subuh
                Paginya terusik digalah sendu
                Penyair berteriak, ia murka karena paginya diusik nestapa
                Inikah pagi penuh dusta?
Karya : Rena Kharisma

                Itulah puisi yang berhasil saya buat pada waktu lima menit dan masih sangat berantakan. Ternyata puisi dipengaruhi dengan suasana hati itu memang benar adanya, saat itu suasana hati saya sedang emosi karena salah satu teman sekelas mengusik dengan sindiran di status fbnya. Sebenarnya saya tak pernah mau peduli dengan orang-orang yang sukanya mencaci maki teman sendiri namun teman-teman dekat saya memberitahu bahwa memang segerombolan anak-anak itu memang senang cari gara-gara. Aneh, suka sekali menjatuhkan teman. Heran ada orang-orang yang seperti itu, nggak pernah suka jika temannya bahagia. Bengis.
                Ah, mengapa saya jadi membahas masalah tak penting tersebut. Semoga suatu saat nanti kebeneran akan terungkap siapa yang memang benar-benar busuk hatinya. Kembali pada pokok pembahasan Apresiasi Puisi. Setelah kami membuat puisi, pak Tengsoe meminta kawan-kawan yang ditunjuk (duduk pada bagian bangku paling depan) untuk membacakan puisinya. Kali ini saya tidak mendapat giliran membacakan puisi.
                Setelah itu beliau memberikan sedikit ulasan bahwa dalam membuat puisi layaknya harus memberikan ruang kosong bagi pembaca agar mereka dapat menafsirkan puisi yang penyair buat dengan persepsi masing-masing. Beliau sempat bercerita bahwa pernah membuat puisi tiga baris saja yang dibuat ketika melihat mahasiswa-mahasiswa menunggu dosennya bersandar di tembok dan tapak sepatunya membekas di permukaan tembok tersebut namun puisi beliau ditafsirkan macam-macam oleh pembacanya. Ada yang bilang tentang pelecehan, penjajahan, penindasan, dan lain-lain padahal hal sebenarnya sangat sepele sekali. Begini puisi singkat yang beliau buat :

                Tembok Putih
                Tapak Sepatu
                Membekas di wajahmu

                Sungguh mengagumkan. Pak Tengsoe berkata bahwa penyair tidak seperti garis lurus yang langsung sampai tujuan dalam merangkai puisi namun diputar-putarkan terlebih dahulu. Semakin tidak karuan semakin terlihat indah kata beliau. Pada tahap penafsiran puisi memang pembaca diharapkan untuk menginterpretasi ruang kosong yang diberikan penyair pada sajak-sajaknya sehingga menghasilkan makna pada puisi tersebut. Memang pada hakikatnya penafsiran ini selayaknya teori bandul jam, kita tak akan dapat menafsirkan puisi itu tepat pada titik tengah dimana bandul jam itu berhenti namun akan sangat mungkin melenceng ataupun mendekati.
                Pak Tengsoe berkata bahwa pada puisi anak yang sering tidak diberi ruang kosong sehingga memang sangat terpenuhi maknanya. Namun beliau memberikan beberapa puisi beliau yang dikemas untuk konsumsi anak-anak. Saya terkagum-kagum dengan puisi anak tersebut, sangat sederhana namun syarat akan makna. Kemudian beliau memberikan intruksi kepada kami untuk mengedit hasil puisi yang kami buat karena menurut Pak Tengsoe bahwa penyair pasti akan mengedit hasil puisinya. Saya sempat bingung apa yang perlu diedit dari puisi saya tadi, apakah boleh menambahkan kata, mengurangi atau menambahi diksinya? Pak Tengsoe berkata bahwa boleh jika memang harus ada yang ditambahi atau dihapus asal tidak mental jauh dari ibu puisinya dan tidak lupa harus diberikan judul perintah beliau. Alhasil beginilah jadinya puisi saya :
Angkara Pagi
Penyair memicingkan bait
Bagai menyingsingkan baju saat berperang
Menenggelamkan kata di peraduan benci
Penyair menggalah bilah-bilah dendam
Bagai embun yang menilap kabut atau kabut yang menilap embun
Entah...
Penyair bergurau dengan kesedihan
Menyeruput secangkir sadis, memaki orang-orang, membisikkan angkara-angkara hati
Ya, ini emosi...
Ia benci !
Mengadu rintih...
Pada subuh, pada sejuk, pada beluk
Penyair berteriak !
Penyair berseru !
Merobek pita suara
Ya, ia murka
Paginya diusik nestapa
Hujatan-hujatan getir dari orang tanpa nama
Yang sengaja mengorek luka
Ya, ia murka
Jangan sampai ia menyabit mulutmu yang durhaka
Melontarkan duka bahkan luka lewat kata
Ya, ia murka
Inikah pagi penuh dusta ?

Karya : Rena Kharisma

Minggu, 29 September 2013

Filologi : Situasi Pernaskahan di Indonesia

Jika kita menelusuri daerah mana saja yang memiliki dan yang meninggalkan warisan budaya berupa naskah kepada kita, dapat kita lihat bahwa semua kawasan yang memiliki huruf daerah merupakan daerah sumber naskah. Di  samping itu, ada daerah – daerah yang menulis bahasanya dengan huruf Arab. Daerah – daerah ini juga merupakan daerah sumber naskah terutama pada masa lampau. Misalnya di Sumatera, naskah-naskah terdapat di daerah-daerah Aceh, Batak, Minangkabau, Kerinci, Riau, Siak, Palembang, Rejang di Bengkulu, Pasemah dan Lampung.
Sampai sekarang yang paling banyak menyimpan naskah dalam berbagai bahasa daerah ialah Perpustakaan Nasional di Jakarta. Noegraha mencatat bahwa kekayaan Perpustakaan Nasional mencapai 9.626 naskah, yang antara lain tertulis dalam bahasa-bahasa Aceh, Bali, Batak, Bugis, Makassar, Jawa, Jawa Kuna, Madura, Melayu, Sunda, dan Ternate. Naskah-naskah yang disimpan di Perpustakaan Nasional merupakan pindahan dari Museum Nasional pada tahun 1989 (Noegraha, 1992:1—3)
Di luar Perpustakaan Nasional, Jakarta, banyak sekali tempat yang menyimpan naskah, seperti berbagai museum, yayasan, universitas dan lain-lain. Di samping itu, tidak terhitung naskah yang disimpan oleh anggota masyarakat sebagai warisan nenek moyangnya.
Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa naskah Indonesia tertulis dalam bahasa-bahasa daerah. Umpamanya, naskah-naskah yang terdapat di daerah Aceh atau yang berasal dari daerah Aceh ada yang berbahasa Aceh dan ada pula yang berbahasa Melayu.
Dari segi bahasa ada empat bahasa yang digunakan, yaitu :
1.       Bahasa Sunda Kuna; abad ke-16
2.       Bahasa Jawa; sekitar abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-19
3.       Bahasa Sunda; sejak pertengahan abad ke-19, dan
4.       Bahasa Melayu; akhir abad ke-19 (Ekadjati, 1985, 2 dan 7)
Selain bahasa daerah yang bermacam-macam, pemakaian huruf untuk penulisan naskah pun beraneka ragam. Huruf-huruf daerah lain yang dapat disebutkan antara lain adalah huruf Sunda, huruf Jawa, huruf Bali, huruf Sasak, huruf Bima, huruf Ende, huruf Madura, huruf Bugis, dan huruf Makassar.
Diilhami oleh usaha Henry Chambert-Loir (1980a) yang telah membuat daftar semua katalog yang ada mengenai koleksi naskah Melayu di seluruh dunia, W. van der Molen juga membuat hal yang serupa untuk naskah Jawa (van der Molen, 1984a:12—49). Negara-negara yang didaftarkannya ada dua puluh satu, yaitu Amerika, Australia, Austria, Belanda, Belgia, Cekia, Denmark, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman Barat, Jerman Timur, Malaysia, Norwegia, Prancis, Rusia, Selandia Baru, Slovakia, Swedia, Swiss, dan Thailand. Oleh karena Jerman Barat dan Jerman Timur sekarang menjadi satu negara susut menjadi dua puluh.

T.E. Behrend mengemukakan bahwa jumlah naskah Jawa di Indonesia dan Eropa pasti lebih dari 19.000. Masih ribuan lagi yang disimpan di tempat-tempat pribadi, baik di Indonesia maupun luar negeri (Behrend, 1992:1)
Umumnya, naskah-naskah Melayu di Indonesia di luar Perpustakaan Nasional terdapat di museum-museum daerah, pesantren, masjid, yayasan, dan pada keluarga-keluarga yang menyimpannya sabagai warisan nenek moyang yang biasanya mereka juga dengan ketat.

Kekayaan Indonesia akan naskah yang ditulis dalam Bahasa Melayu dan berbagai bahasa daerah, baik yang ditulis dalam huruf Arab Melayu maupun dalam huruf daerah dan Latin, sampai sekarang belum diketahui jumlahnya secara pasti. Mungkin juga, sampai kapan pun jumlah naskah di tanah air kita tidak akan dapat diketahui dengan pasti.

Filologi : Situasi Pernaskahan di Indonesia

Jika kita menelusuri daerah mana saja yang memiliki dan yang meninggalkan warisan budaya berupa naskah kepada kita, dapat kita lihat bahwa semua kawasan yang memiliki huruf daerah merupakan daerah sumber naskah. Di  samping itu, ada daerah – daerah yang menulis bahasanya dengan huruf Arab. Daerah – daerah ini juga merupakan daerah sumber naskah terutama pada masa lampau. Misalnya di Sumatera, naskah-naskah terdapat di daerah-daerah Aceh, Batak, Minangkabau, Kerinci, Riau, Siak, Palembang, Rejang di Bengkulu, Pasemah dan Lampung.
Sampai sekarang yang paling banyak menyimpan naskah dalam berbagai bahasa daerah ialah Perpustakaan Nasional di Jakarta. Noegraha mencatat bahwa kekayaan Perpustakaan Nasional mencapai 9.626 naskah, yang antara lain tertulis dalam bahasa-bahasa Aceh, Bali, Batak, Bugis, Makassar, Jawa, Jawa Kuna, Madura, Melayu, Sunda, dan Ternate. Naskah-naskah yang disimpan di Perpustakaan Nasional merupakan pindahan dari Museum Nasional pada tahun 1989 (Noegraha, 1992:1—3)
Di luar Perpustakaan Nasional, Jakarta, banyak sekali tempat yang menyimpan naskah, seperti berbagai museum, yayasan, universitas dan lain-lain. Di samping itu, tidak terhitung naskah yang disimpan oleh anggota masyarakat sebagai warisan nenek moyangnya.
Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa naskah Indonesia tertulis dalam bahasa-bahasa daerah. Umpamanya, naskah-naskah yang terdapat di daerah Aceh atau yang berasal dari daerah Aceh ada yang berbahasa Aceh dan ada pula yang berbahasa Melayu.
Dari segi bahasa ada empat bahasa yang digunakan, yaitu :
1.       Bahasa Sunda Kuna; abad ke-16
2.       Bahasa Jawa; sekitar abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-19
3.       Bahasa Sunda; sejak pertengahan abad ke-19, dan
4.       Bahasa Melayu; akhir abad ke-19 (Ekadjati, 1985, 2 dan 7)
Selain bahasa daerah yang bermacam-macam, pemakaian huruf untuk penulisan naskah pun beraneka ragam. Huruf-huruf daerah lain yang dapat disebutkan antara lain adalah huruf Sunda, huruf Jawa, huruf Bali, huruf Sasak, huruf Bima, huruf Ende, huruf Madura, huruf Bugis, dan huruf Makassar.
Diilhami oleh usaha Henry Chambert-Loir (1980a) yang telah membuat daftar semua katalog yang ada mengenai koleksi naskah Melayu di seluruh dunia, W. van der Molen juga membuat hal yang serupa untuk naskah Jawa (van der Molen, 1984a:12—49). Negara-negara yang didaftarkannya ada dua puluh satu, yaitu Amerika, Australia, Austria, Belanda, Belgia, Cekia, Denmark, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman Barat, Jerman Timur, Malaysia, Norwegia, Prancis, Rusia, Selandia Baru, Slovakia, Swedia, Swiss, dan Thailand. Oleh karena Jerman Barat dan Jerman Timur sekarang menjadi satu negara susut menjadi dua puluh.

T.E. Behrend mengemukakan bahwa jumlah naskah Jawa di Indonesia dan Eropa pasti lebih dari 19.000. Masih ribuan lagi yang disimpan di tempat-tempat pribadi, baik di Indonesia maupun luar negeri (Behrend, 1992:1)
Umumnya, naskah-naskah Melayu di Indonesia di luar Perpustakaan Nasional terdapat di museum-museum daerah, pesantren, masjid, yayasan, dan pada keluarga-keluarga yang menyimpannya sabagai warisan nenek moyang yang biasanya mereka juga dengan ketat.

Kekayaan Indonesia akan naskah yang ditulis dalam Bahasa Melayu dan berbagai bahasa daerah, baik yang ditulis dalam huruf Arab Melayu maupun dalam huruf daerah dan Latin, sampai sekarang belum diketahui jumlahnya secara pasti. Mungkin juga, sampai kapan pun jumlah naskah di tanah air kita tidak akan dapat diketahui dengan pasti.

Filologi : Menggali Masa Lalu yang Penting Untuk Masa Kini

Selama dua dekade terakhir, bangsa Indonesia sibuk membahas masalah kebijakan pelestarian dan perlindungan. Bukan saja alam bebas berikut isi dan makhluknya yang menjadi bahan pembicaraan. Masalah pelestarian nilai budaya sudah menjadi topik pembahasan pemikir dan pengamat budaya Indonesia, tetapi tidak ada konsensus yang berhasil dicapai, bahkan tidak jugaditemukan kesamaan pijakan untuk melakukan tindakan lebih lanjut. Telah sering disebutkan bahwa sastra tulis Indonesia sebetulnya diciptakan untuk didengar dan dinikmati bersama, bukan untuk dibaca diam-diam.
Ada beberapa kebiasaan tradisi yang mulai hilang dari kebiasaan masyarakat. Dengan menhilangnya beberapa tradisi masyarakat, sejumlah pengetahuan sastra juga ikut lenyap. Baru setelah kehilangan itu dirasakan, orang mulai memikirkan perlunya memperoleh kembali yang telah hilang. Tetapi bersamaan dengan munculnya keinginan itu, muncul pula pertanyaan mengenai fungsi sastra tradisional.
Transformasi seni transformasi seni tradisional menjadi bentuk-bentuk baru, sebagai suatu cara untuk menyelamatkannya, sudah dilakukan dengan sukses oleh arifin. Cara ini bisa dilihat sebagai suatu sarana kreatif untuk menghubungkan masa lalu dan masa kini. Cara ini lebih mudah diterima oleh masyarakat, dan sudah terlihat dalam seni tari modern yang mempertahankan sejumlah unsur gerak yang mapan, yang dikombinasikan dengan pola dan genre baru. Pada saat yang sama, usaha melestarikan bentuk asli tanpa mempertanyakan fungsinya juga dilaksanakan .
Masalah relevansi tradisi dan norma lama yang muncul karena adanya perubahan sikap dan nilai bisa dijumpai disetiap masyarakat yang  meninggalkan kehidupan tradisional dengan segala rasa amannya menuju situasi baru yang penuh tantangan. Kecenderungan untuk menggali makna yang lebih mendalam merupakan tren yang dominan saat ini. Sejumlah ahli mencoba mencapai hal ini melalui analisis struktural, dengan atau tanpa mengaitkannya dengan hal-hal di luar teks.
Sebuah genre yang sejak lama memberikan maslah interpretasi adalah genre sastra sejarah , atau yang disebut juga tradisi lokal sesuai petunjuk Hoesein Djajadiningrat (1965: 74). Masalah berkisar pada nilai teks sebagai sumber historiografi. Para ahli pun akhirnya menaruh perhatian pada acuan teks pada latar budayanya (Sudjiman, 1983), serta manfaat unsur – unsur non-historis dalam teks (Khalid Thaib, 1981). Masalah makna karya secara keseluruhan sebagai masalah utama karena hal tersebut merupakan tujuan keberadaan karya sastra itu menurut para ahli.

Pada edisi Cerita Dipati Ukur oleh Ekadjati merupakan suatu usaha untuk menunjukkan persepsi berbagai kelompok masyarakat mengenai karya ini, dan bagaimana meraka memanipulasikannya untuk kepentingan masing – masing (Ekadjati, 1979:7-8). Ada delapan versi Cerita Dipati Ukur yang ditulis untuk kepentingan penulisnya sebagai anggota sebuah keluarga kerajaan, yang perlu memberi informasi dan melegitimasikan posisinya sebagai dinasti penguasa (Ekadjati, 1979:625). Kelebihan nenek moyang menguntungkan keturunannya dan dapat menjadi dorongan moral untuk mencapai sukses dalam kehidupan (Ekadjati, 1979: 464).
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik