Sabtu, 05 Oktober 2013

Apresiasi Puisi (2)

                Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas salah satu perkuliahan favorit saya kembali yaitu Apresiasi Puisi. Bapak dosen yang seorang pujangga, Tengsoe Tjahjono memberikan intruksi pada kami di awal jam pertemuan dengan menulis kata penyair disertai kata kerja, semisal ‘penyair menyulam’, ‘penyair merindu’, dan lain sebagainya. Selain itu aturan mainnya kami tidak boleh berhenti menggoreskan pena, jika ingin berganti baris diperbolehkan, dan pak Tengsoe mengharamkan kami untuk berpikir dalam menulisnya. Alhasil beginilah puisi yang saya buat :

                Penyair memicingkan bait bagai menyingsingkan baju saat berperang
                Menenggelamkan kata di peraduan benci
                Penyair menggalah bilah-bilah dendam bagai embun yang menilap kabut
                Atau kabut yang menilap embun
                Entah...
                Penyair bergurau dengan kesedihan pagi ini
                Menyeruput secangkir sadis karena emosi
                Penyair memaki orang-orang di telaga sunyi
                Membisikkan angkara-angkara hati
                Ia benci...
                Penyair mengadu rintih pada subuh
                Paginya terusik digalah sendu
                Penyair berteriak, ia murka karena paginya diusik nestapa
                Inikah pagi penuh dusta?
Karya : Rena Kharisma

                Itulah puisi yang berhasil saya buat pada waktu lima menit dan masih sangat berantakan. Ternyata puisi dipengaruhi dengan suasana hati itu memang benar adanya, saat itu suasana hati saya sedang emosi karena salah satu teman sekelas mengusik dengan sindiran di status fbnya. Sebenarnya saya tak pernah mau peduli dengan orang-orang yang sukanya mencaci maki teman sendiri namun teman-teman dekat saya memberitahu bahwa memang segerombolan anak-anak itu memang senang cari gara-gara. Aneh, suka sekali menjatuhkan teman. Heran ada orang-orang yang seperti itu, nggak pernah suka jika temannya bahagia. Bengis.
                Ah, mengapa saya jadi membahas masalah tak penting tersebut. Semoga suatu saat nanti kebeneran akan terungkap siapa yang memang benar-benar busuk hatinya. Kembali pada pokok pembahasan Apresiasi Puisi. Setelah kami membuat puisi, pak Tengsoe meminta kawan-kawan yang ditunjuk (duduk pada bagian bangku paling depan) untuk membacakan puisinya. Kali ini saya tidak mendapat giliran membacakan puisi.
                Setelah itu beliau memberikan sedikit ulasan bahwa dalam membuat puisi layaknya harus memberikan ruang kosong bagi pembaca agar mereka dapat menafsirkan puisi yang penyair buat dengan persepsi masing-masing. Beliau sempat bercerita bahwa pernah membuat puisi tiga baris saja yang dibuat ketika melihat mahasiswa-mahasiswa menunggu dosennya bersandar di tembok dan tapak sepatunya membekas di permukaan tembok tersebut namun puisi beliau ditafsirkan macam-macam oleh pembacanya. Ada yang bilang tentang pelecehan, penjajahan, penindasan, dan lain-lain padahal hal sebenarnya sangat sepele sekali. Begini puisi singkat yang beliau buat :

                Tembok Putih
                Tapak Sepatu
                Membekas di wajahmu

                Sungguh mengagumkan. Pak Tengsoe berkata bahwa penyair tidak seperti garis lurus yang langsung sampai tujuan dalam merangkai puisi namun diputar-putarkan terlebih dahulu. Semakin tidak karuan semakin terlihat indah kata beliau. Pada tahap penafsiran puisi memang pembaca diharapkan untuk menginterpretasi ruang kosong yang diberikan penyair pada sajak-sajaknya sehingga menghasilkan makna pada puisi tersebut. Memang pada hakikatnya penafsiran ini selayaknya teori bandul jam, kita tak akan dapat menafsirkan puisi itu tepat pada titik tengah dimana bandul jam itu berhenti namun akan sangat mungkin melenceng ataupun mendekati.
                Pak Tengsoe berkata bahwa pada puisi anak yang sering tidak diberi ruang kosong sehingga memang sangat terpenuhi maknanya. Namun beliau memberikan beberapa puisi beliau yang dikemas untuk konsumsi anak-anak. Saya terkagum-kagum dengan puisi anak tersebut, sangat sederhana namun syarat akan makna. Kemudian beliau memberikan intruksi kepada kami untuk mengedit hasil puisi yang kami buat karena menurut Pak Tengsoe bahwa penyair pasti akan mengedit hasil puisinya. Saya sempat bingung apa yang perlu diedit dari puisi saya tadi, apakah boleh menambahkan kata, mengurangi atau menambahi diksinya? Pak Tengsoe berkata bahwa boleh jika memang harus ada yang ditambahi atau dihapus asal tidak mental jauh dari ibu puisinya dan tidak lupa harus diberikan judul perintah beliau. Alhasil beginilah jadinya puisi saya :
Angkara Pagi
Penyair memicingkan bait
Bagai menyingsingkan baju saat berperang
Menenggelamkan kata di peraduan benci
Penyair menggalah bilah-bilah dendam
Bagai embun yang menilap kabut atau kabut yang menilap embun
Entah...
Penyair bergurau dengan kesedihan
Menyeruput secangkir sadis, memaki orang-orang, membisikkan angkara-angkara hati
Ya, ini emosi...
Ia benci !
Mengadu rintih...
Pada subuh, pada sejuk, pada beluk
Penyair berteriak !
Penyair berseru !
Merobek pita suara
Ya, ia murka
Paginya diusik nestapa
Hujatan-hujatan getir dari orang tanpa nama
Yang sengaja mengorek luka
Ya, ia murka
Jangan sampai ia menyabit mulutmu yang durhaka
Melontarkan duka bahkan luka lewat kata
Ya, ia murka
Inikah pagi penuh dusta ?

Karya : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik