Pada
kesempatan kali ini saya akan mengulas salah satu perkuliahan favorit saya
kembali yaitu Apresiasi Puisi. Bapak dosen yang seorang pujangga, Tengsoe
Tjahjono memberikan intruksi pada kami di awal jam pertemuan dengan menulis
kata penyair disertai kata kerja, semisal ‘penyair menyulam’, ‘penyair merindu’,
dan lain sebagainya. Selain itu aturan mainnya kami tidak boleh berhenti
menggoreskan pena, jika ingin berganti baris diperbolehkan, dan pak Tengsoe
mengharamkan kami untuk berpikir dalam menulisnya. Alhasil beginilah puisi yang
saya buat :
Penyair memicingkan bait bagai
menyingsingkan baju saat berperang
Menenggelamkan kata di peraduan
benci
Penyair menggalah bilah-bilah
dendam bagai embun yang menilap kabut
Atau kabut yang menilap embun
Entah...
Penyair bergurau dengan
kesedihan pagi ini
Menyeruput secangkir sadis
karena emosi
Penyair memaki orang-orang di
telaga sunyi
Membisikkan angkara-angkara hati
Ia benci...
Penyair mengadu rintih pada
subuh
Paginya terusik digalah sendu
Penyair berteriak, ia murka
karena paginya diusik nestapa
Inikah pagi penuh dusta?
Karya : Rena Kharisma
Itulah
puisi yang berhasil saya buat pada waktu lima menit dan masih sangat
berantakan. Ternyata puisi dipengaruhi dengan suasana hati itu memang benar
adanya, saat itu suasana hati saya sedang emosi karena salah satu teman sekelas
mengusik dengan sindiran di status fbnya. Sebenarnya saya tak pernah mau peduli
dengan orang-orang yang sukanya mencaci maki teman sendiri namun teman-teman
dekat saya memberitahu bahwa memang segerombolan anak-anak itu memang senang
cari gara-gara. Aneh, suka sekali menjatuhkan teman. Heran ada orang-orang yang
seperti itu, nggak pernah suka jika temannya bahagia. Bengis.
Ah,
mengapa saya jadi membahas masalah tak penting tersebut. Semoga suatu saat nanti
kebeneran akan terungkap siapa yang memang benar-benar busuk hatinya. Kembali
pada pokok pembahasan Apresiasi Puisi. Setelah kami membuat puisi, pak Tengsoe
meminta kawan-kawan yang ditunjuk (duduk pada bagian bangku paling depan) untuk
membacakan puisinya. Kali ini saya tidak mendapat giliran membacakan puisi.
Setelah
itu beliau memberikan sedikit ulasan bahwa dalam membuat puisi layaknya harus
memberikan ruang kosong bagi pembaca agar mereka dapat menafsirkan puisi yang
penyair buat dengan persepsi masing-masing. Beliau sempat bercerita bahwa
pernah membuat puisi tiga baris saja yang dibuat ketika melihat
mahasiswa-mahasiswa menunggu dosennya bersandar di tembok dan tapak sepatunya
membekas di permukaan tembok tersebut namun puisi beliau ditafsirkan macam-macam
oleh pembacanya. Ada yang bilang tentang pelecehan, penjajahan, penindasan, dan
lain-lain padahal hal sebenarnya sangat sepele sekali. Begini puisi singkat
yang beliau buat :
Tembok Putih
Tapak Sepatu
Membekas di wajahmu
Sungguh
mengagumkan. Pak Tengsoe berkata bahwa penyair tidak seperti garis lurus yang
langsung sampai tujuan dalam merangkai puisi namun diputar-putarkan terlebih
dahulu. Semakin tidak karuan semakin terlihat indah kata beliau. Pada tahap
penafsiran puisi memang pembaca diharapkan untuk menginterpretasi ruang kosong
yang diberikan penyair pada sajak-sajaknya sehingga menghasilkan makna pada
puisi tersebut. Memang pada hakikatnya penafsiran ini selayaknya teori bandul
jam, kita tak akan dapat menafsirkan puisi itu tepat pada titik tengah dimana
bandul jam itu berhenti namun akan sangat mungkin melenceng ataupun mendekati.
Pak
Tengsoe berkata bahwa pada puisi anak yang sering tidak diberi ruang kosong
sehingga memang sangat terpenuhi maknanya. Namun beliau memberikan beberapa
puisi beliau yang dikemas untuk konsumsi anak-anak. Saya terkagum-kagum dengan
puisi anak tersebut, sangat sederhana namun syarat akan makna. Kemudian beliau
memberikan intruksi kepada kami untuk mengedit hasil puisi yang kami buat
karena menurut Pak Tengsoe bahwa penyair pasti akan mengedit hasil puisinya.
Saya sempat bingung apa yang perlu diedit dari puisi saya tadi, apakah boleh
menambahkan kata, mengurangi atau menambahi diksinya? Pak Tengsoe berkata bahwa
boleh jika memang harus ada yang ditambahi atau dihapus asal tidak mental jauh
dari ibu puisinya dan tidak lupa harus diberikan judul perintah beliau. Alhasil
beginilah jadinya puisi saya :
Angkara Pagi
Penyair memicingkan bait
Bagai menyingsingkan baju saat berperang
Menenggelamkan kata di peraduan benci
Penyair menggalah bilah-bilah dendam
Bagai embun yang menilap kabut atau kabut yang menilap embun
Entah...
Penyair bergurau dengan kesedihan
Menyeruput secangkir sadis, memaki orang-orang, membisikkan
angkara-angkara hati
Ya, ini emosi...
Ia benci !
Mengadu rintih...
Pada subuh, pada sejuk, pada beluk
Penyair berteriak !
Penyair berseru !
Merobek pita suara
Ya, ia murka
Paginya diusik nestapa
Hujatan-hujatan getir dari orang tanpa nama
Yang sengaja mengorek luka
Ya, ia murka
Jangan sampai ia menyabit mulutmu yang durhaka
Melontarkan duka bahkan luka lewat kata
Ya, ia murka
Inikah pagi penuh dusta ?
Karya : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar