Senja
sore ini ada patah hati yang kembali terkuak, setelah seminggu ini dengan keras
hati aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku baik baik saja. Ya, aku akan
baik baik saja tanpa dia. Tapi mbak Nggi’, aku tak bisa memungkiri jika luka
dalam hati ini masih basah. Terngiang rasanya ucapan ucapan yang menuduhku
paling bersalah. Mungkin benar memang aku yang bersalah karena aku hanya
seorang gadis yang belum dewasa, masih belia, dan nggak paham dunia. Belum mengecap asam garamnya kehidupan tapi
sungguh mbak Nggi’ aku masih ingin belajar.Tapi mengapa seakan kesempatan dengan
begitu mudah tertutup bagiku? Atau aku yang terlalu bodoh sebab tak mampu
memaknai segala perkara yang ada.
Malam
ini banyak cerita yang mengalir darimu mbak Nggi’, pertemuan pertama kita
sungguh sangat berkesan bagiku. Setelah beberapa lama kita saling berhubungan
melalui dunia maya. Aku selalu mengagumi puisi puisimu yang diksinya sungguh
membuatku takjub, darimanakah diksi mengesankan itu berasal? Dari luka? Ah,
luka kembali yang kubahas. Rasanya tak pantas lagi aku menabuh genderang kecewa
yang lebih sering membuatku berdusta.
Laki
laki dan perempuan memang mutlak berbeda. Perempuan mengedepankan perasaan dan
laki laki mengagungkan logika, bukakah begitu mbak Nggi’? Lantas apa yang harus
aku lakukan untuk menyusun kembali puingan perasaan yang telah jatuh ini? Mbak
Nggi’, aku pernah dengar sekilas cerita tentangmu dari seorang yang kita
bicarakan malam tadi. Satu pikirku saat itu, kau adalah perempuan yang tabah.
Mbak
Nggi’, ajari aku tabah. Ajari aku bersikap bijaksana sebagai perempuan yang
mudah kecewa, bantu aku berkompromi dengan masalah dan egonya rasa.
By: Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar