Rabu, 26 Februari 2014

KakAis

Salam manis kakAis,

Memang tiada yang lebih menenangkan ketika amarah sedang mendidih di ubun-ubun kepala kecuali pelukan. Tiada yang lebih menghangatkan ketika gigil tangis menderai di pelupuk mata selain pelukan. Nampaknya pelukan memang obat mujarab untuk segala perasaan yang kurang mendamaikan, sebab pelukan yang dibingkai ketulusan adalah muara dari rasa tentram. Apalagi pelukan tersebut berasal dari orang orang yang kita kasihi.
KakAis, sempat kita menghabiskan waktu bersama. Selayak waktu hanya diperuntukkan untuk perempuan. Ya, aku dan kamu berbincang tentang banyak hal, tentang perkenalan, tentang kehidupan, dan ada jeda untuk ruang masing masing pikiran kita. Setelah itu aku tahu sekilas tentang kau, gadis penggemar micky mouse yang imut.
Bagaimana rasanya jauh dari ayah bunda kakAis? Jauh dalam jangka waktu yang lama. Nampaknya kau telah terbiasa dengan itu semua.
Ah, iya satu lagi perkenalan dengan pangeranmu. Kalian amat serasi dalam pandanganku. Aku menangkap kau adalah sosok keibuan meskipun dalam paras yang mungil dan wajah yang berseri seperti anak anak. Sedangkan pangeranmu begitu gagah namun masih sangat ramah. Ah, bagian mana yang tak cocok tentang kalian dalam prasangkaku? Semoga kalian tetap mampu saling berbahagia.
Bersamaan dengan surat ini kutuliskan, harapku semoga bingkis pertemanan masih mampu kita bungkus rapi sampai kapanpun juga. Semoga kita pun saling berbagi meski tak tiap waktu kita mampu bertemu. 

By: Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik