Surabaya, 05.02.2014
“Saaaaaaay...aku bingung mau pilih siapa?”
“Saaaaay...aku
suka sama mas itu...”
“Saaay...bisa
nggak ya aku dapetin dia?”
Halo
say, masih ingat aku pernah heboh sendiri ketika jatuh cinta. Kau yang selalu
pertama kali tahu siapa laki laki yang akan aku gebet, akan aku pedekatein,
akan aku sabet dia jadi pacarku.
“Saaaayyy...badanku
sakit semua”
“Saaayy...aku
belum ngerjain tugas itu.”
“Saaaaay...aku
titip print tugas ya.”
Masih
ingat juga aku sering ngeriwuki kehidupanmu
dengan berbagai rengekan dari aku bak anak kecil yang sedang ingin dimanja
manja oleh ibunya. Ah, masih banyak lagi keruwetan diriku yang kau pahami
benar.
“Say,
aku putus.”
“Aku
sakit hati say sama dia.”
“Aku
udah capek patah hati terus say.”
Bahkan
semua kesedihanku pun tertampung penuh padamu. Aku heran kau masih bisa saja
tahan dengan aku yang super duper menyebalkan ini. Pertemuan kita bermula dari
Ospek kampus dan berlanjut pada perkuliahan yang ternyata kita pun sekelas.
Masih ingatkah kamu betapa aku menggebunya ingin mengenal beberapa laki laki
dan ingin lebih dekat dengan mereka? Masih ingat kita telpon sampai tengah
malam sekadar berbincang hal hal sepele? Tapi kau tahu say, aku senang. Aku
beruntung bertemu dan mengenal seorang sahabat setulus kamu.
Tanpa
kita sadari persahabatan kita yang cepat sekali terjalin ini dijadikan bahan
iri oleh orang orang disekitar kita? Sampai ada yang bilang padamu kasih
sayangmu tidak sama rata dan kau menyanggah karena akulah yang paling utama.
Kau tahu bagaimana perasaanku saat kau mengatakan itu, “Aku tak akan
mempertahankan persahabatan kita.” Siapapun orangnya akan berhadapan dengan aku
jika sampai ingin merusak persahabatan kita. Ah tidak, ini tidak berlebihan
untukku. Aku tak peduli seperih apa mereka merendahkan kita karena kita adalah
yang paling tinggi diantara pertemenan mereka. Aku tidak sombong tapi aku
bangga memiliki sahabat seperti kamu.
Aku
bahagia dan bersyukur sekali sampai saat ini masih bisa bersama sama denganmu.
Hanya kamu yang selalu menghargai setiap karya yang aku cipta, hanya kamu yang
mampu menerima aku apa adanya diantara mereka, hanya kamu yang tulus berbagi
denganku, dan aku berharap persahabatan kita akan tetap nyala sampai kita
dimakan usia.
Masih
banyak sesungguhnya yang ingin aku utarakan di surat ini, mungkin tak akan
cukup hanya dengan menulis surat sekali ataupun berkali kali. Takkan pernah
cukup. Maafkan aku jika terkadang menyusahkan dan merepotkanmu tapi kamu selalu
bilang “Tidak ada yang merepotkan dan direpotkan untuk sahabat.” Oh,
Tuhan...Bagaimana lagi aku harus berterima kasih padamu Say? Semoga
persahabatan kita memang adalah yang abadi, yang sejati. I need you so much my
best SayGita.
Dari sahabatmu yang manja,
Rena ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar