Malam itu, ketika
perayaan hari penuh cinta telah usai aku mengahambur ke pelukanmu BundAy.
Entahlah, mungkin aku memang perlu banyak pelukan sekadar untuk menguatkan
hatiku yang lemah sebab beberapa hari yang lalu sempat patah. BundAy, aku
pernah menceritakan banyak keraguanku tentang asmaraku, ketidakpercayaan diriku
untuk mampu bersama dengannya, dan BundAy memberikan wejangan yang memantikkan
kekukuhanku untuk mempertahankan cinta dengannya. Bund, apakah cinta yang didapatkan secara mudah
akan mudah patah juga? Terkadang aku lelah berulang kali merasakan sakitnya
hati yang patah.
Setelah malam itu berakhir, sesungguhnya aku tak ingin
melepas pelukan darimu BundAy. Setidaknya aku ingin BundAy memberikan nasehat
yang menghangatkan ulu hatiku yang gigil sebab keterkejutan atas segala rasa
yang tiba tiba hilang. Seakan bunga bunga yang bermekaran layu lebih cepat dari
yang kukira. Segala suka cita kini menjelma rindu yang tak terbantahkan.
BundAy, bila tangis mampu meluruhkan segala kecewa aku
ingin menangis di pelukanmu. Jika isak mampu meneriakkan segala lara, aku ingin
berseloroh kencang hingga lega setelah pelukanmu merengkuhku.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar