Sabtu, 15 Februari 2014

Secuil Mimpi yang Sama

              Selamat bersua kembali sobat,
            Tepat di hari penuh perayaan cinta aku bahagia, meski tak ada lagi kekasih aku tak peduli. Masih ada kalian yang tak terduga menepati segala janji. Ya, malam itu tanggal empat belas Februari dari ujung kota Sidoarjo kalian menempuh hujan bahkan hujan abu dari gunung Kelud yang sempat merambah angkasa kita untuk menemuiku di ujung kota Surabaya. Aku tak menyangka jika kalian begitu antusiasnya datang pada undangan untuk menghadiri acara malam puisi. Aku memang sengaja mengundang kalian bukan untuk sekadar mengulang kembali kisah kita masa SMA tetapi aku ingin sekali memperkenalkan kalian bagaimana ibadah puisi dilaksanakan.
            Bagus, aku sangat mengetahui jika kau pun menyukai dunia sastra sedang keadaan tak berpihak terlalu baik kepadamu. Ayik, aku mengerti jika kamu yang paling paham bagaimana aku dan Bagus menyukai dunia ini. Kamu selalu saja menyindir aku dan Bagus untuk segera jadian di sepanjang jalan menuju tempat malam puisi diadakan. Rasanya ada kenangan tersendiri saat SMA, cinta yang tak rampung dan kasih sayang yang terpisah oleh lulusnya masa sekolah. Ah, indah sekali zaman putih abu abu itu. Bahkan kita telah memiliki soundtrack sendiri, lagu Pelangi di Matamu dari Zamrud selalu menjadi pengingat bagi kita bertiga.
            Aku sempat terkejut pula ketika kalian berkata padaku setelah kita tampil dalam acara malam puisi di Surabaya itu. “Sebenarnya kita ada perform buat band kita tapi sengaja kita batalkan untuk menerima tawaranmu datang malam puisi.” Merasa bersalah menjalari benakku tapi kalian menenangkan aku bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan dari itu semua. Tuhan, aku beruntung memiliki sobat seperti mereka berdua. Kemudian kita menghabisi malam dengan bercanda ria, melontarkan pengalaman secara singkat, dan kalian berdua dengan sabar menungguku ketika di akhir acara aku harus bertukar peluk dengan kawan kawan komunitasku.
            Nyatanya larut malam tak menghabisi gelak tawa kita, kalian mengajakku menyalurkan hobi kita bertiga yang sama yaitu bernyanyi. Beberapa lagu kita lahap tanpa jeda. Aku sempat menginginkan kalian tetap bersamaku dan mewujudkan mimpi kita bersama, bernyanyi hingga dunia tahu siapa kita. Tapi keadaan masih saja tak berpihak pada kita untuk waktu yang cukup lama namun aku akan berusaha merangkul kalian pada secuil mimpi kita yang sama.

By: Rena Kharisma



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik