Rabu, 23 April 2014

Pejuang, Penanti

                “Mau sampai kapan kamu berjuang demi dia Cal?” Resi sudah menekuk mukanya sedari tadi
                “Aku sudah pernah bilang sama kamu kan Res, kalau aku....”
               “Ya, kalau kamu sudah cinta mati sama dia meskipun sudah berulang kali dia mempermalukanmu di depan banyak orang. Harga dirimu sudah cukup dinjak-injak begitu.” Resi bersungut-sungut.
                Kemudian diam mencengkeram mereka berdua. Tak ada ucapan yang keluar sebagai jawaban dari mulut Ical. Baik Resi maupun Ical sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing tetapi tarikan napas dan hembusan napas mereka berdua jauh berbeda. Resi dengan napas terengah-engah disulut amarah, sedang Ical nampak tenang namun napasnya seringkali dihembuskannya dengan sangat dalam. Resi sudah sering disayat benci ketika sahabatnya ini harus kembali dicaci maki oleh karib-karib dari Enggi. Resi paling anti dengan segala yang bertajuk Enggi meski sahabatnya itu tak henti berjuang demi seorang perempuan yang tak pernah memberinya hati.
                “Aku nggak akan menyerah Res.” Kesunyian di ruangan itu akhirnya pecah dengan sebaris kata yang selalu sama Ical ucapkan ketika Resi memarahinya untuk lekas menyerah.
                “Aku juga nggak akan lelah!” Air mata yang menggenang di pelupuknya terjatuh juga meski nada bicaranya sangat tegas.
                Ical menatap mata Resi yang memerah dengan sedikit air bening jatuh di pipinya. Ada raut  penuh tanya di muka Ical. Resi tak sungkan lagi mengumbar air matanya walaupun ia tahu bahwa Ical tak pernah melihatnya menangis sekalipun. Meskipun ia tahu bahwa Ical menganggapnya gadis remaja berparas tomboy yang tak akan pernah mau menampakkan rapuh.
                “Aku juga nggak akan lelah.” Kali ini Resi mengulang perkataannya dengan lebih halus.
                Kemudian ia mendekat pada Ical yang masih tercenung mengamati matanya yang telah sembab oleh air mata. Resi memeluk Ical.

               “Aku nggak akan lelah menunggumu menyerah agar tak berjuang untuk Enggi lagi. Aku juga nggak akan lelah menunggumu hingga tahu bahwa ada banyak perasaan cinta untukmu Cal, ada berjuta sakit hati ketika aku melihatmu harus merendah diri untuk perempuan yang kamu cintai. Sedang aku, telah lama menanti agar kamu mengerti bahwa rasa kasih sayangku untukmu ini lebih setia dan gigih.”

By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik