Malam itu Reney masih
kalut, di dalam kamarnya ia hanya diam tanpa melamun, tanpa merenung, dan tanpa
melakukan apa apa. Ia hanya duduk di pinggiran tempat tidur dengan tatapan yang
gamang atau lebih bisa diartikan sebagai kosong. Meskipun pikirannya berkecamuk
ia bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada dirinya.
“Oh, jadi ini yang namanya Reney. Kamu sudah
merusak hubungan anak saya, pergi kamu. Jangan pernah sekali sekali kamu dekati
anak saya lagi.”
Pernyataan
penuh amarah itu memanas di hati Reney, ibu kekasihnya itu tiba tiba memarahi
Reney dengan serentetan sumpah serapah yang membuatnya merasa menjadi orang
paling berdosa di dunia.
“Dem, ada apa ini? Jelaskan Dem.”
“Ney, lebih baik kita sudahi saja
ya.”
Ia
juga masih ingat Demmy meninggalkannya begitu saja tanpa memberikan penjelasan
tentang apa yang terjadi sebenarnya. Reney hanya mampu terpaku di tempatnya
beberapa menit sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk melangkah pergi dengan
hati perih.
Ren,
kamu dimana? Aku hubungi kok nggak bisa ya.
Setelah
beberapa lama Reney terdiam di kamarnya yang gelap karena ia sengaja tak
menyalakan lampu kamarnya. Ada pesan masuk dari Enggar, tetangga sebelah rumah
sekaligus teman masa kecil Reney.
Ren,
kamar kamu kok gelap sih? Kamu pergi ya?
Belum
sempat Reney membalas pesan dari Enggar sebelumnya sudah ada pesan lagi yang
masuk darinya. Reney membuka pesan singkat itu dengan malas, ia tahu pasti
Enggar akan menyuruhnya ke balkon kamar dan disuruh mendengarkan konser mini
Enggar di seberang dengan gitar accustic dan suaranya yang tidak pantas dinilai
pas pasan.
Entah
kenapa kepala Reney tiba tiba sakit sekali, dadanya sesak. Ada luka yang basah
di dalam raganya. Matanya berkaca kaca, ia masih mencari kebenaran atas
kenyataannya dicampakkan kekasih yang ia sayangi selama satu tahun itu.
Kemudian tanpa aba aba handphonenya berdering kencang, ia hampir terlonjak
dibuatnya. Refleks ia mengangkat telpon itu. Dari Enggar.
“Ren,
kamu dimana sih? Aku hubungi nggak bisa, smsku nggak masuk ya.”
Hening
“Ren,
halo Reney. Kamu kenapa sih? Halo, Hey. Kamu denger suaraku kan?”
Tak
ada tanggapan
“Reney,
halo. Halo Reney.”
Terdengar
suara isakan.
“Ren,
kamu nangis? Kenapa? Hey, kamu dimana? Kamu nggak apa apa kan?”
Suara
tangis pecah di seberang telepon Enggar
“Ren,
please kamu kenapa? Jangan nangis ya.” Suara Enggar yang awalnya panik dan
penuh emosi perlahan melembut.
Masih
saja terdengar suara isakan.
“Ren,
jawab kamu dimana? Aku kesana ya.”
Belum
ada jawaban ataupun tanggapan dari Reney, Enggar sudah menemukan sosok Reney
terduduk sambil menangis dan menggenggam handphone di tangannya. Reney keluar
dari kamarnya lalu terduduk di balkon.
“Ren,
kamu di rumah ternyata. Hey jangan nangis dong.” Enggar yang berada di seberang
balkon melihat tubuh Reney berguncang, ia dapat mendengar isak tangis Reney.
Kemudian ia sadar harus segera bertindak setelah wajah Reney ditenggelamkan
diantara dua kakinya yang menekuk.
*****
“Sudah,
kamu tenang dulu. Minum susu cokelatnya mumpung masih hangat.” Beberapa menit
kemudian Enggar merasa lega sudah mampu berada di sisi Reney.
“Aku
nggak tahu salahku apa Nggar. Demmy jahat banget sih, mamanya marah marah ke
aku.” Air mata Reney berjatuhan di pipinya.
Enggar
menghela napas panjang, ia tak suka melihat Reney menangis meskipun sudah
ribuan kali ia melihatnya tapi Enggar tak pernah terbiasa dengan tangis Reney.
Ia akan berusaha berada di sisi Reney ketika Reney sedang sedih. Malam ini, ia
berhasil membujuk tante Inggit mama Reney untuk bisa masuk ke kamar Reney
dengan berbagai alasan.
“Aku
sudah pernah bilang kan ke kamu, kalau mama Demmy nggak suka sama hubungan
kalian. Iya kalau kalian berdua sama sama berjuang, enggak seperti itu Ren
kenyataannya. Demmy angkat tangan begitu saja dan kamu terus yang berjuang.”
Enggar merentangkan tangan kanannya melingkari punggung Reney.
“Kenapa
ya Nggar?” Tangis Reney perlahan reda setelah meminum segelas susu cokelat
panas.
“Kenapa
apanya?”
“Kenapa
setiap kali aku memiliki suatu hubungan selalu berakhir begitu saja. Kali ini
aku sudah berharap bisa serius tapi malah lebih kacau begini.”
“Ren,
nggak perlu kamu menyesali apapun yang pernah kamu lewati. Ambil pelajarannya.”
“Aku
heran Nggar, kenapa cintaku selalu gagal.”
Enggar
hanya bungkam dan sedikit senyum simpul ia sunggingkan sembari menatap muka
Reney dari sudut samping.
*****
“Ren,
udah siap semuanya kan?” Enggar bertanya dari balik kemudi
“Udah
kok Nggar, ayo berangkat.” Reney masih sibuk merapikan dan mengingat kembali
peralatan yang harus ia bawa.
Hari
ini adalah pementasan teater di sasana budaya kota, Reney telah mengikuti
audisinya dan menjadi pemeran utama. Sesungguhnya ia ingin mundur saja karena
setelah audisi tahap kedua Demmy mantan kekasihnya juga lolos. Mereka mengikuti
audisi bersama sama ketika itu. Reney sangat antusias sekali, ia berharap jika
nanti dapat memerankan tokoh berpasangan dengan Demmy. Namun setelah konflik
yang tak ia tahu akarnya itu membuat hubungannya hancur berantakan menjadikan
mental Reney turun. Tapi bukan Enggar yang hebat jika ia tak mampu merayu dan
menyemangati Reney untuk terus mengikuti proses audisi. Bukan perkara mudah
meyakinkan Reney yang keras kepala dan selalu berlebihan setelah putus cinta.
Makan tak mau, beraktivitas pun enggan.
“Ren,
kamu harus kembali semangat. Jangan menyerah begini, hidup masih terus berjalan
Ren. Ingat orang orang yang sayang sama kamu, mereka pasti akan ikut bersedih
karena kamu patah semangat seperti ini. Ingat papamu Ren, beliau pasti ingin
melihatmu sukses.”
Beberapa
kali Enggar merayu Reney dan sebenarnya ia tak ingin membawa papa Reney untuk
membangkitkan kembali semangat Reney tapi kali ini Enggar yakin jika dengan
mengingatkan Reney dengan papanya yang telah berbahagia di surga, Reney pasti
akan semangat kembali.
*****
Pementasan
teater berjalan lancar, Reney terlihat sumringah. Enggar yang duduk diantara
para fotografer tak sedikit pun luput mengabadikan tiap adegan yang diperankan
oleh Reney. Enggar menjadi salah satu anggota panitia publikasi, dekorasi, dan
dokumentasi pementesan yang dihadiri oleh duta duta besar dari beberapa negara
ini.
“Nggaaaaaar....mama
dateng. Aku keren kan tadi di panggung?” Reney menghambur memeluk Enggar di
belakang panggung setelah berhasil menemukan sosok Enggar keluar dari ruangan
para panitia.
“Wah,
mama kamu nggak pernah absen dalam setiap pementasanmu ya sekarang. Keren
banget Ren, aku udah jepretin semua nih disini.” Enggar menunjuk kamera
kesayangannya.
“Nggar,
kamu disini? Apa kabar?” Ada seorang gadis bergaun cream menepuk bahu Enggar
tiba tiba.
Ada
raut terkejut di muka Enggar lalu dengan secepat hembusan angin ia mampu
menyembunyikannya. “Eh, hai Dis. Baik. Kamu sama siapa kesini?”
“Nih,
sama tunangan aku.” Kemudian gadis itu
menggandeng seorang laki laki yang masih memakai pakaian pementasan teater.
“Demmy...”
Reney kali ini yang terkejut.
“Eh,
siapa ini Nggar. Temenmu? Kamu kenal Demmy? Kenalin aku Diska.” Gadis itu
mengulurkan tangannya.
Reney
menjabatnya, “Kalian udah lama tunangan?”
“Sudah
beberapa bulan yang lalu. Ya sudah Nggar aku balik dulu ya.” Kemudian dua sosok
tak asing bagi Reney dan Enggar itu pun berlalu di hadapan mereka.
*****
“Reney,
mama balik duluan ya. Tadi mama lupa ada berkas yang ketinggalan di kantor.
Kamu pulang sama Enggar saja mama mau mampir ke kantor dulu, Nggar tolong
jagain Reney ya.” Mama Reney mencium kening Reney kemudian beranjak pergi.
“Iya
tante hati hati.”
“Nggar,
sebel banget deh. Ternyata aku dibohongi sama Demmy. Jadi selama ini dia udah
tunangan sama perempuan itu. Bodoh banget ya aku.”
Tak
ada tanggapan.
“Oh,
makanya mama Demmy marah marah ke aku karena berhubungan dengan anaknya itu.
Udah dijodohin toh ternyata sama gadis yang lebih modis. Tapi segitu jahatnya
sih.”
Tak
ada tanggapan
“Nggar
hey, kamu kenapa sih? Diam aja.” Reney menyenggol bahu Enggar.
“Eh,
apa? Nggak apa apa kok.” Enggar terbuyar dari lamunanannya.
“Oh,
iya perempuan tadi itu kamu kenal?” Reney bergelayut di lengan Enggar dan
mengajaknya berjalan menuju mobil.
Masih
tak ada jawaban dari Enggar, Reney terus mengomel dan memberikan pertanyaan pada
Enggar. Nampaknya pikiran Enggar sedang tak fokus, biasanya ia selalu
menanggapi ocehan Reney, kali ini ia hanya diam saja.
“Nggar,
kamu sakit? Atau lapar? Makan dulu yuk.”
Reney
bingung sendiri ketika pertanyaannya dijawab Enggar dengan menepikan mobil dan
berhenti.
“Ren,
aku sudah berubah kan? Aku sudah nggak ngerokok lagi, udah bisa ngontrol emosi,
nggak marah marah seenaknya kayak dulu kan?”
Reney
yang diberondong pertanyaan dengan keadaan yang seperti itu menjadi semakin
bingung, apalagi Enggar hanya menatap ke depan dengan pandangan nanar penuh
kecewa. Ada sedikit perasaan takut dalam diri Reney jika nanti emosi dan
kemarahan Enggar tak dapat terkontrol seperti dulu.
“Nggar,
kamu sudah lebih baik sekarang. Aku salut kamu berupaya keras untuk menjadi
laki laki yang mampu mengontrol emosi.” Reney memegang bahu Enggar mancoba
menangkan.
“Tapi
ketika aku berhasil berubah, kenapa orang yang menjadi alasanku berubah malah
menghianatiku. Apa aku gagal menjadi pribadi yang lebih baik?”
“Maksud
kamu apa Nggar? Harusnya kamu bangga dengan diri kamu sendiri karena mampu
membuktikan sama orang itu kalau kamu mampu menjadi pribadi yang lebih baik.
Kamu nggak gagal Nggar.”
“Tapi
aku selalu gagal meraih cintaku, merengkuh orang yang aku sayangi.” Mata Enggar
panas tapi ia berusaha keras meredam hatinya yang mendidih.
“Nggar
denger, cinta itu nggak pernah gagal. Kamu gagal mendapatkan cinta orang itu,
Tuhan masih menyiapkan cinta yang lebih layak untukmu.”
Enggar
terdiam, ia bungkam beberapa waktu. Kemudian ia keluar dari mobil dan bersandar
pada tubuh mobil bagian depan. Reney tahu, ada yang salah dengan kawannya satu
ini. Ia mengikuti Enggar keluar mobil dan bersandar di sebelahnya.
“Kamu
kenapa Nggar? Tiba tiba bicara seperti itu. Kamu cerita sama aku.”
Enggar
menghembuskan napas panjang dan terasa begitu berat.
“Ren,
perempuan tadi. Perempuan yang bernama Diska itu adalah orang yang membuatku
semangat untuk berubah menjadi lebih baik. Ia berjanji akan menungguku dan akan
kembali padaku jika aku mampu berubah. Tapi apa? Dia tunangan dengan seseorang
yang juga menyakiti hatimu. Demmy.”
“Apa?
Jadi Diska itu orang yang kamu ceritakan selama ini saat kamu exchange student
di Amerika itu?”
Demmy
hanya menggangguk.
“Nggak
adil kan Ren rasanya. Kalau kita berjuang untuk cinta kita tapi akhirnya yang
diperjuangkan menghianati kita.”
Reney
tercekat, angin terasa lebih dingin. Ia tak mampu bernapas secara penuh,
dadanya sesak. Mungkin ia juga merasakan perih yang sama seperti Enggar. Reney
memeluk Enggar erat, ada tangis pecah dari kelopak matanya. Badan Enggar yang
kaku mulai mengendur, ia membelai rambut Reney. Reney menghentikan tangisnya,
ia mengusap punggung Enggar.
“Nggar,
sakit memang. Tapi aku sadar bahwa kita mampu belajar atas pengalaman pedih
ini. Aku beruntung punya kamu Nggar, aku akan berusaha membantumu. Jangan
menyerah menemukan cinta sejatimu.”
Enggar
tersenyum, ia melepaskan pelukan Reney dan menghapus sisa air mata yang
membasahi pipi Reney. Kemudian ia kembali menghambur di pelukan Reney.
“Benar
katamu Ren, cinta nggak pernah gagal. Cinta nggak pernah gagal membuat kita
terus belajar tentang kehidupan dan cinta tak pernah gagal mendewasakan diri
kita. Terima kasih Ren.”
*****
Ya, Enggar dan Reney mampu
belajar dari cinta. Reney yang dahulu terpuruk karena papa yang ia kasihi
dipanggil ke hadapan sang Maha Kuasa lalu mamanya tak lagi peduli lagi
dengannya dan larut dalam pekerjaan untuk menepiskan duka mendalam atas
kehilangan. Enggar tak berada di sisinya kala itu karena sedang berada di
Amerika untuk pertukaran pelajar. Reney dengan berat hati menetralisir semuanya
sendiri, ditambah lagi hubungannya dengan Demmy selalu menemui jalan buntu.
Tapi dengan hati teguh Reney meyakinkan diri bahwa Tuhan tetap bersamanya dan
menyiapkan kisah lain yang lebih indah. Kemudian Enggar yang dulunya bandel dan
urakan kini berubah seratus delapan puluh derajat karena ia berharap akan
mendapatkan Diska orang yang ia sukai lalu setelah ia mampu berubah Diska telah
berhasil meninggalkannya. Tapi Enggar sadar bahwa masih ada Reney yang setia
bersama sama dengannya, membantunya untuk berubah menjadi lebih baik. Reney dan
Enggar sadar bahwa cinta tak pernah gagal membuat mereka belajar dewasa dan
mereguk bahagia setelah kepedihan menyayat hati mereka.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar