Senin, 21 April 2014

Belajar Mendewasakan

Malam itu Reney masih kalut, di dalam kamarnya ia hanya diam tanpa melamun, tanpa merenung, dan tanpa melakukan apa apa. Ia hanya duduk di pinggiran tempat tidur dengan tatapan yang gamang atau lebih bisa diartikan sebagai kosong. Meskipun pikirannya berkecamuk ia bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada dirinya.
            “Oh, jadi ini yang namanya Reney. Kamu sudah merusak hubungan anak saya, pergi kamu. Jangan pernah sekali sekali kamu dekati anak saya lagi.”
            Pernyataan penuh amarah itu memanas di hati Reney, ibu kekasihnya itu tiba tiba memarahi Reney dengan serentetan sumpah serapah yang membuatnya merasa menjadi orang paling berdosa di dunia.
            “Dem, ada apa ini? Jelaskan Dem.”
            “Ney, lebih baik kita sudahi saja ya.”
            Ia juga masih ingat Demmy meninggalkannya begitu saja tanpa memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Reney hanya mampu terpaku di tempatnya beberapa menit sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk melangkah pergi dengan hati perih.
            Ren, kamu dimana? Aku hubungi kok nggak bisa ya.
            Setelah beberapa lama Reney terdiam di kamarnya yang gelap karena ia sengaja tak menyalakan lampu kamarnya. Ada pesan masuk dari Enggar, tetangga sebelah rumah sekaligus teman masa kecil Reney.
            Ren, kamar kamu kok gelap sih? Kamu pergi ya?
            Belum sempat Reney membalas pesan dari Enggar sebelumnya sudah ada pesan lagi yang masuk darinya. Reney membuka pesan singkat itu dengan malas, ia tahu pasti Enggar akan menyuruhnya ke balkon kamar dan disuruh mendengarkan konser mini Enggar di seberang dengan gitar accustic dan suaranya yang tidak pantas dinilai pas pasan.
            Entah kenapa kepala Reney tiba tiba sakit sekali, dadanya sesak. Ada luka yang basah di dalam raganya. Matanya berkaca kaca, ia masih mencari kebenaran atas kenyataannya dicampakkan kekasih yang ia sayangi selama satu tahun itu. Kemudian tanpa aba aba handphonenya berdering kencang, ia hampir terlonjak dibuatnya. Refleks ia mengangkat telpon itu. Dari Enggar.
            “Ren, kamu dimana sih? Aku hubungi nggak bisa, smsku nggak masuk ya.”
            Hening
            “Ren, halo Reney. Kamu kenapa sih? Halo, Hey. Kamu denger suaraku kan?”
            Tak ada tanggapan
            “Reney, halo. Halo Reney.”
            Terdengar suara isakan.
            “Ren, kamu nangis? Kenapa? Hey, kamu dimana? Kamu nggak apa apa kan?”
            Suara tangis pecah di seberang telepon Enggar
            “Ren, please kamu kenapa? Jangan nangis ya.” Suara Enggar yang awalnya panik dan penuh emosi perlahan melembut.
            Masih saja terdengar suara isakan.
            “Ren, jawab kamu dimana? Aku kesana ya.”
            Belum ada jawaban ataupun tanggapan dari Reney, Enggar sudah menemukan sosok Reney terduduk sambil menangis dan menggenggam handphone di tangannya. Reney keluar dari kamarnya lalu terduduk di balkon.
            “Ren, kamu di rumah ternyata. Hey jangan nangis dong.” Enggar yang berada di seberang balkon melihat tubuh Reney berguncang, ia dapat mendengar isak tangis Reney. Kemudian ia sadar harus segera bertindak setelah wajah Reney ditenggelamkan diantara dua kakinya yang menekuk.
*****
            “Sudah, kamu tenang dulu. Minum susu cokelatnya mumpung masih hangat.” Beberapa menit kemudian Enggar merasa lega sudah mampu berada di sisi Reney.
            “Aku nggak tahu salahku apa Nggar. Demmy jahat banget sih, mamanya marah marah ke aku.” Air mata Reney berjatuhan di pipinya.
            Enggar menghela napas panjang, ia tak suka melihat Reney menangis meskipun sudah ribuan kali ia melihatnya tapi Enggar tak pernah terbiasa dengan tangis Reney. Ia akan berusaha berada di sisi Reney ketika Reney sedang sedih. Malam ini, ia berhasil membujuk tante Inggit mama Reney untuk bisa masuk ke kamar Reney dengan berbagai alasan.
            “Aku sudah pernah bilang kan ke kamu, kalau mama Demmy nggak suka sama hubungan kalian. Iya kalau kalian berdua sama sama berjuang, enggak seperti itu Ren kenyataannya. Demmy angkat tangan begitu saja dan kamu terus yang berjuang.” Enggar merentangkan tangan kanannya melingkari punggung Reney.
            “Kenapa ya Nggar?” Tangis Reney perlahan reda setelah meminum segelas susu cokelat panas.
            “Kenapa apanya?”
            “Kenapa setiap kali aku memiliki suatu hubungan selalu berakhir begitu saja. Kali ini aku sudah berharap bisa serius tapi malah lebih kacau begini.”
            “Ren, nggak perlu kamu menyesali apapun yang pernah kamu lewati. Ambil pelajarannya.”
            “Aku heran Nggar, kenapa cintaku selalu gagal.”
            Enggar hanya bungkam dan sedikit senyum simpul ia sunggingkan sembari menatap muka Reney dari sudut samping.
*****
            “Ren, udah siap semuanya kan?” Enggar bertanya dari balik kemudi
            “Udah kok Nggar, ayo berangkat.” Reney masih sibuk merapikan dan mengingat kembali peralatan yang harus ia bawa.
            Hari ini adalah pementasan teater di sasana budaya kota, Reney telah mengikuti audisinya dan menjadi pemeran utama. Sesungguhnya ia ingin mundur saja karena setelah audisi tahap kedua Demmy mantan kekasihnya juga lolos. Mereka mengikuti audisi bersama sama ketika itu. Reney sangat antusias sekali, ia berharap jika nanti dapat memerankan tokoh berpasangan dengan Demmy. Namun setelah konflik yang tak ia tahu akarnya itu membuat hubungannya hancur berantakan menjadikan mental Reney turun. Tapi bukan Enggar yang hebat jika ia tak mampu merayu dan menyemangati Reney untuk terus mengikuti proses audisi. Bukan perkara mudah meyakinkan Reney yang keras kepala dan selalu berlebihan setelah putus cinta. Makan tak mau, beraktivitas pun enggan.
            “Ren, kamu harus kembali semangat. Jangan menyerah begini, hidup masih terus berjalan Ren. Ingat orang orang yang sayang sama kamu, mereka pasti akan ikut bersedih karena kamu patah semangat seperti ini. Ingat papamu Ren, beliau pasti ingin melihatmu sukses.”
            Beberapa kali Enggar merayu Reney dan sebenarnya ia tak ingin membawa papa Reney untuk membangkitkan kembali semangat Reney tapi kali ini Enggar yakin jika dengan mengingatkan Reney dengan papanya yang telah berbahagia di surga, Reney pasti akan semangat kembali.
*****
            Pementasan teater berjalan lancar, Reney terlihat sumringah. Enggar yang duduk diantara para fotografer tak sedikit pun luput mengabadikan tiap adegan yang diperankan oleh Reney. Enggar menjadi salah satu anggota panitia publikasi, dekorasi, dan dokumentasi pementesan yang dihadiri oleh duta duta besar dari beberapa negara ini.
            “Nggaaaaaar....mama dateng. Aku keren kan tadi di panggung?” Reney menghambur memeluk Enggar di belakang panggung setelah berhasil menemukan sosok Enggar keluar dari ruangan para panitia.
            “Wah, mama kamu nggak pernah absen dalam setiap pementasanmu ya sekarang. Keren banget Ren, aku udah jepretin semua nih disini.” Enggar menunjuk kamera kesayangannya.
            “Nggar, kamu disini? Apa kabar?” Ada seorang gadis bergaun cream menepuk bahu Enggar tiba tiba.
            Ada raut terkejut di muka Enggar lalu dengan secepat hembusan angin ia mampu menyembunyikannya. “Eh, hai Dis. Baik. Kamu sama siapa kesini?”
            “Nih, sama tunangan aku.” Kemudian gadis  itu menggandeng seorang laki laki yang masih memakai pakaian pementasan teater.
            “Demmy...” Reney kali ini yang terkejut.
            “Eh, siapa ini Nggar. Temenmu? Kamu kenal Demmy? Kenalin aku Diska.” Gadis itu mengulurkan tangannya.
            Reney menjabatnya, “Kalian udah lama tunangan?”
            “Sudah beberapa bulan yang lalu. Ya sudah Nggar aku balik dulu ya.” Kemudian dua sosok tak asing bagi Reney dan Enggar itu pun berlalu di hadapan mereka.
*****
            “Reney, mama balik duluan ya. Tadi mama lupa ada berkas yang ketinggalan di kantor. Kamu pulang sama Enggar saja mama mau mampir ke kantor dulu, Nggar tolong jagain Reney ya.” Mama Reney mencium kening Reney kemudian beranjak pergi.
            “Iya tante hati hati.”
            “Nggar, sebel banget deh. Ternyata aku dibohongi sama Demmy. Jadi selama ini dia udah tunangan sama perempuan itu. Bodoh banget ya aku.”
            Tak ada tanggapan.
            “Oh, makanya mama Demmy marah marah ke aku karena berhubungan dengan anaknya itu. Udah dijodohin toh ternyata sama gadis yang lebih modis. Tapi segitu jahatnya sih.”
            Tak ada tanggapan
            “Nggar hey, kamu kenapa sih? Diam aja.” Reney menyenggol bahu Enggar.
            “Eh, apa? Nggak apa apa kok.” Enggar terbuyar dari lamunanannya.
            “Oh, iya perempuan tadi itu kamu kenal?” Reney bergelayut di lengan Enggar dan mengajaknya berjalan menuju mobil.
            Masih tak ada jawaban dari Enggar, Reney terus mengomel dan memberikan pertanyaan pada Enggar. Nampaknya pikiran Enggar sedang tak fokus, biasanya ia selalu menanggapi ocehan Reney, kali ini ia hanya diam saja.
            “Nggar, kamu sakit? Atau lapar? Makan dulu yuk.”
            Reney bingung sendiri ketika pertanyaannya dijawab Enggar dengan menepikan mobil dan berhenti.
            “Ren, aku sudah berubah kan? Aku sudah nggak ngerokok lagi, udah bisa ngontrol emosi, nggak marah marah seenaknya kayak dulu kan?”
            Reney yang diberondong pertanyaan dengan keadaan yang seperti itu menjadi semakin bingung, apalagi Enggar hanya menatap ke depan dengan pandangan nanar penuh kecewa. Ada sedikit perasaan takut dalam diri Reney jika nanti emosi dan kemarahan Enggar tak dapat terkontrol seperti dulu.
            “Nggar, kamu sudah lebih baik sekarang. Aku salut kamu berupaya keras untuk menjadi laki laki yang mampu mengontrol emosi.” Reney memegang bahu Enggar mancoba menangkan.
            “Tapi ketika aku berhasil berubah, kenapa orang yang menjadi alasanku berubah malah menghianatiku. Apa aku gagal menjadi pribadi yang lebih baik?”
            “Maksud kamu apa Nggar? Harusnya kamu bangga dengan diri kamu sendiri karena mampu membuktikan sama orang itu kalau kamu mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu nggak gagal Nggar.”
            “Tapi aku selalu gagal meraih cintaku, merengkuh orang yang aku sayangi.” Mata Enggar panas tapi ia berusaha keras meredam hatinya yang mendidih.
            “Nggar denger, cinta itu nggak pernah gagal. Kamu gagal mendapatkan cinta orang itu, Tuhan masih menyiapkan cinta yang lebih layak untukmu.”
            Enggar terdiam, ia bungkam beberapa waktu. Kemudian ia keluar dari mobil dan bersandar pada tubuh mobil bagian depan. Reney tahu, ada yang salah dengan kawannya satu ini. Ia mengikuti Enggar keluar mobil dan bersandar di sebelahnya.
            “Kamu kenapa Nggar? Tiba tiba bicara seperti itu. Kamu cerita sama aku.”
            Enggar menghembuskan napas panjang dan terasa begitu berat.
            “Ren, perempuan tadi. Perempuan yang bernama Diska itu adalah orang yang membuatku semangat untuk berubah menjadi lebih baik. Ia berjanji akan menungguku dan akan kembali padaku jika aku mampu berubah. Tapi apa? Dia tunangan dengan seseorang yang juga menyakiti hatimu. Demmy.”
            “Apa? Jadi Diska itu orang yang kamu ceritakan selama ini saat kamu exchange student di Amerika itu?”
            Demmy hanya menggangguk.
            “Nggak adil kan Ren rasanya. Kalau kita berjuang untuk cinta kita tapi akhirnya yang diperjuangkan menghianati kita.”
            Reney tercekat, angin terasa lebih dingin. Ia tak mampu bernapas secara penuh, dadanya sesak. Mungkin ia juga merasakan perih yang sama seperti Enggar. Reney memeluk Enggar erat, ada tangis pecah dari kelopak matanya. Badan Enggar yang kaku mulai mengendur, ia membelai rambut Reney. Reney menghentikan tangisnya, ia mengusap punggung Enggar.
            “Nggar, sakit memang. Tapi aku sadar bahwa kita mampu belajar atas pengalaman pedih ini. Aku beruntung punya kamu Nggar, aku akan berusaha membantumu. Jangan menyerah menemukan cinta sejatimu.”
            Enggar tersenyum, ia melepaskan pelukan Reney dan menghapus sisa air mata yang membasahi pipi Reney. Kemudian ia kembali menghambur di pelukan Reney.
            “Benar katamu Ren, cinta nggak pernah gagal. Cinta nggak pernah gagal membuat kita terus belajar tentang kehidupan dan cinta tak pernah gagal mendewasakan diri kita. Terima kasih Ren.”
*****
            Ya, Enggar dan Reney mampu belajar dari cinta. Reney yang dahulu terpuruk karena papa yang ia kasihi dipanggil ke hadapan sang Maha Kuasa lalu mamanya tak lagi peduli lagi dengannya dan larut dalam pekerjaan untuk menepiskan duka mendalam atas kehilangan. Enggar tak berada di sisinya kala itu karena sedang berada di Amerika untuk pertukaran pelajar. Reney dengan berat hati menetralisir semuanya sendiri, ditambah lagi hubungannya dengan Demmy selalu menemui jalan buntu. Tapi dengan hati teguh Reney meyakinkan diri bahwa Tuhan tetap bersamanya dan menyiapkan kisah lain yang lebih indah. Kemudian Enggar yang dulunya bandel dan urakan kini berubah seratus delapan puluh derajat karena ia berharap akan mendapatkan Diska orang yang ia sukai lalu setelah ia mampu berubah Diska telah berhasil meninggalkannya. Tapi Enggar sadar bahwa masih ada Reney yang setia bersama sama dengannya, membantunya untuk berubah menjadi lebih baik. Reney dan Enggar sadar bahwa cinta tak pernah gagal membuat mereka belajar dewasa dan mereguk bahagia setelah kepedihan menyayat hati mereka.

By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik