Rabu, 16 April 2014

(Per)Tama

                Pada jalan setapak di taman ini aku tak menemui kegentaran hati akan kelupaan yang mulai lansai sebab temu tak lagi mampu dijadwal dengan sempurna. Aktivitas membunuh waktu pertemuan kita secara perlahan tapi aku selalu berusaha mengiyakan apa saja yang selalu engkau inginkan. Pernah sekali aku di sini, tempat di mana kamu memberikan kejutan berkali-kali selama satu tahun ini. Tempat pertama kita bertemu, pertama kamu menyatakan perasaanmu, dan pertama aku dan kamu mengikrar akan menyatu. Semuanya terlalui di taman ini. Aku tak pernah tahu memang jika kita disibukkan oleh berbagai buru kegiatan yang kita yakini untuk cerahnya masa depan.
                “Sampai kapan kamu hanya berjalan di sini tiap sore Tam. Tanpa dia.” Langkahku terhenti, menengok dan mencari dari mana asal suara itu
                Tak sulit menemukan dan mengetahui siapa pemilik suara itu. Diana, apakah dia juga sering ke taman ini? Atau jangan-jangan dia selalu mengikutiku ketika sedang berjalan-jalan di sini sendiri. Ah, terlalu percaya diri sendiri aku sampai berpikiran seperti itu.
                “Hey Di, sering ke taman ini juga?” Aku menunggu langkahnya agar sejajar denganku saat berjalan.
                “Emm....Iya.” Ada sipu-sipu malu di balik wajahnya.
                “Oh, aku kok nggak pernah bertemu denganmu ya ketika di sini.”
                “Memangnya taman ini sesempit yang kamu pikirkan. Emm...tapi memang mungkin aku sengaja menghindar agar tidak bertemu denganmu.”
                Aku terkejut, “Mengapa begitu Di?”
                “Tidak apa-apa, aku tahu kamu sering ke taman ini bersama Ninda. Baru-baru ini saja kamu sering ke sini tapi hanya sendiri.”
                “Begitu ya, lalu kamu ke sini bersama siapa?”
                “Bersama harapanku agar kamu berjalan sendiri begini.”
                “Maksud kamu?”
                “Aku hanya ingin berjalan berdua denganmu seperti ini sejak dulu tapi aku mengalah karena Ninda yang memenangkan hatimu.”
                Aku menghentikan langkahku. “Di...” Suaraku tercekat.
                “Tak apa, tak usah dipikirkan Tam. Bisa berjalan berdampingan seperti ini saja sudah lebih dari cukup untukku.”
                “Tapi Ninda, Ninda masih...”

                “Masih yang pertama untukmu? Aku tahu Tam, bagiku kamu pula yang masih pertama untukku. Seorang Tama yang pertama ada di hatiku tapi tak perlu menggapainya juga tak apa.” Diana hanya tersenyum bersamaan dengan sepoian angin yang mengibaskan rambutnya dan aroma tubuhnya menyeruak di pernapasanku. Aku terpaku dan merasakan ototku perlahan kaku.
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik