Pada
jalan setapak di taman ini aku tak menemui kegentaran hati akan kelupaan yang
mulai lansai sebab temu tak lagi mampu dijadwal dengan sempurna. Aktivitas
membunuh waktu pertemuan kita secara perlahan tapi aku selalu berusaha
mengiyakan apa saja yang selalu engkau inginkan. Pernah sekali aku di sini,
tempat di mana kamu memberikan kejutan berkali-kali selama satu tahun ini.
Tempat pertama kita bertemu, pertama kamu menyatakan perasaanmu, dan pertama
aku dan kamu mengikrar akan menyatu. Semuanya terlalui di taman ini. Aku tak
pernah tahu memang jika kita disibukkan oleh berbagai buru kegiatan yang kita
yakini untuk cerahnya masa depan.
“Sampai
kapan kamu hanya berjalan di sini tiap sore Tam. Tanpa dia.” Langkahku terhenti,
menengok dan mencari dari mana asal suara itu
Tak
sulit menemukan dan mengetahui siapa pemilik suara itu. Diana, apakah dia juga
sering ke taman ini? Atau jangan-jangan dia selalu mengikutiku ketika sedang
berjalan-jalan di sini sendiri. Ah, terlalu percaya diri sendiri aku sampai
berpikiran seperti itu.
“Hey
Di, sering ke taman ini juga?” Aku menunggu langkahnya agar sejajar denganku
saat berjalan.
“Emm....Iya.”
Ada sipu-sipu malu di balik wajahnya.
“Oh,
aku kok nggak pernah bertemu denganmu ya ketika di sini.”
“Memangnya
taman ini sesempit yang kamu pikirkan. Emm...tapi memang mungkin aku sengaja
menghindar agar tidak bertemu denganmu.”
Aku
terkejut, “Mengapa begitu Di?”
“Tidak
apa-apa, aku tahu kamu sering ke taman ini bersama Ninda. Baru-baru ini saja
kamu sering ke sini tapi hanya sendiri.”
“Begitu
ya, lalu kamu ke sini bersama siapa?”
“Bersama
harapanku agar kamu berjalan sendiri begini.”
“Maksud
kamu?”
“Aku
hanya ingin berjalan berdua denganmu seperti ini sejak dulu tapi aku mengalah
karena Ninda yang memenangkan hatimu.”
Aku
menghentikan langkahku. “Di...” Suaraku tercekat.
“Tak
apa, tak usah dipikirkan Tam. Bisa berjalan berdampingan seperti ini saja sudah
lebih dari cukup untukku.”
“Tapi
Ninda, Ninda masih...”
“Masih
yang pertama untukmu? Aku tahu Tam, bagiku kamu pula yang masih pertama untukku. Seorang Tama yang pertama ada di hatiku tapi tak perlu menggapainya juga tak apa.” Diana hanya tersenyum bersamaan
dengan sepoian angin yang mengibaskan rambutnya dan aroma tubuhnya menyeruak di
pernapasanku. Aku terpaku dan merasakan ototku perlahan kaku.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar