Rabu, 16 April 2014

Bukan Pengganti

                “Pasti mau nambah cheese cake kan?” Aku menyuarakannya dengan lantang.
                “Mau nambah air putih kan?” Aku menanyakannya dengan riang.
                “Aku tahu, kamu pasti minta merica.”
                Erina tersenyum sendiri setelah mampu menghafal kebiasaan Daru ketika mereka sedang berada di kafe yang tak pernah absen mereka kunjungi setiap harinya selepas kuliah. Tapi Erina tahu bahwa tanpa menghafalkan kebiasaan-kebiasaan Daru itu pasti ia dengan mudah mengingatnya dan semudah ia jatuh cinta dengan Daru setiap harinya.
                Hari ini Erina duduk di salah satu bangku kafe paling ujung, dekat sekali dengan kaca jendela dan pandanganya langsung menuju jalanan kota. Tak ramai memang, mungkin belum karena ia sudah berada di kafe ini ketika baru saja buka. Pelayan kafe sudah paham betul apa yang akan dipesan Erina, tapi kali ini ia memesan menu yang berbeda.
                “Mbak Erina tumben pesan menu yang berbeda.” Pelayan kafe menanyainya dengan ragu-ragu dan penuh rasa penasaran.
                Erina hanya tersenyum. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, hari ini ia memilih bungkam. Tak ada respon pula dari pasangannya.
                “Kamu sudah nggak mau pesan cheese cake ya? Air putih juga nggak kamu pesan lagi dan sekarang kamu nggak suka pedas? Sebegitu cepatnya kamu berubah bahkan dari kebiasaan-kebiasaanmu itu? Apa yang terjadi Ru?” Erina menanyakan hal-hal yang mengusik hatinya dengan mendesis kemudian melempar arah matanya menuju jalanan di balik kaca jendela.
                Tak ada jawaban dari pertanyaannya, ketika pelayan kafe itu sudah menyediakan seluruh pesanan yang belum pernah ia pesan di kafe itu tak ada jawaban dari semua pertanyaannya.
                “Segalanya memang bisa berubah Ru tapi tidak dengan perasaanku. Semua mampu diganti tapi tidak dengan cinta di hati. Sudah berapa tahun aku rela menanti ketika kamu tak pernah mengabari dan aku tak tahu pasti kapan kamu akan kembali.” Setetes air mata jatuh di pipi Erina, ia lelah berbicara sendiri semenjak Daru pergi.

                Erina hanya mampu berdialog dengan gitar yang selalu ia bawa dan itulah satu-satunya sesuatu yang ditinggalkan Daru. Pasangannya saat ini, setidaknya mampu mengingatkannya selalu kepada Daru meski memang tak ada yang mampu menjadi pengganti bagi kehadiran Daru di sisi Eri.

By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik