“Pasti
mau nambah cheese cake kan?” Aku menyuarakannya dengan lantang.
“Mau
nambah air putih kan?” Aku menanyakannya dengan riang.
“Aku
tahu, kamu pasti minta merica.”
Erina
tersenyum sendiri setelah mampu menghafal kebiasaan Daru ketika mereka sedang
berada di kafe yang tak pernah absen mereka kunjungi setiap harinya selepas
kuliah. Tapi Erina tahu bahwa tanpa menghafalkan kebiasaan-kebiasaan Daru itu
pasti ia dengan mudah mengingatnya dan semudah ia jatuh cinta dengan Daru
setiap harinya.
Hari
ini Erina duduk di salah satu bangku kafe paling ujung, dekat sekali dengan
kaca jendela dan pandanganya langsung menuju jalanan kota. Tak ramai memang,
mungkin belum karena ia sudah berada di kafe ini ketika baru saja buka. Pelayan
kafe sudah paham betul apa yang akan dipesan Erina, tapi kali ini ia memesan
menu yang berbeda.
“Mbak
Erina tumben pesan menu yang berbeda.” Pelayan kafe menanyainya dengan
ragu-ragu dan penuh rasa penasaran.
Erina
hanya tersenyum. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, hari ini ia memilih
bungkam. Tak ada respon pula dari pasangannya.
“Kamu
sudah nggak mau pesan cheese cake ya? Air putih juga nggak kamu pesan lagi dan
sekarang kamu nggak suka pedas? Sebegitu cepatnya kamu berubah bahkan dari
kebiasaan-kebiasaanmu itu? Apa yang terjadi Ru?” Erina menanyakan hal-hal yang
mengusik hatinya dengan mendesis kemudian melempar arah matanya menuju jalanan
di balik kaca jendela.
Tak
ada jawaban dari pertanyaannya, ketika pelayan kafe itu sudah menyediakan
seluruh pesanan yang belum pernah ia pesan di kafe itu tak ada jawaban dari
semua pertanyaannya.
“Segalanya
memang bisa berubah Ru tapi tidak dengan perasaanku. Semua mampu diganti tapi
tidak dengan cinta di hati. Sudah berapa tahun aku rela menanti ketika kamu tak
pernah mengabari dan aku tak tahu pasti kapan kamu akan kembali.” Setetes air
mata jatuh di pipi Erina, ia lelah berbicara sendiri semenjak Daru pergi.
Erina
hanya mampu berdialog dengan gitar yang selalu ia bawa dan itulah satu-satunya
sesuatu yang ditinggalkan Daru. Pasangannya saat ini, setidaknya mampu mengingatkannya selalu kepada Daru meski memang tak ada yang mampu menjadi pengganti bagi kehadiran Daru di sisi Eri.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar