Mulai
kemarau, tapi aku tak mengeri mengapa hati dan perasaanku masih saja meracau.
Ada sedikit pergolakan hati yang tak pernah kuketahui akan menjadi lebih besar
setiap hari. Aku pikir tak berusaha melupakan atau mengingat akan membawa
perasaanku berangsur-angsur membaik, tapi nyatanya tak ada yang mampu
membuatnya begitu. Waktu itu, September tanggal tujuh.
“Kamu
akan kembali bukan?” Kau memegang payung warna hitammu
Aku
hanya diam dan pertanyaannya dijawab oleh hujan yang semakin deras. Tak ada
tetes air mata di pelepuknya yang jatuh tapi aku tahu ia mulai jenuh hanya
sekadar menunggu jawabanku.
“Selama
itukah kau akan pergi Rem?”
Aku
semakin tak mampu melihat tatapanmu yang tak lagi guyub akibat perpisahan yang
harus terjadi ini. Tubuhku masuk ke dalam naungan payungmu, kau tak menghindar
dan hanya terpaku di jejakan kakimu. Belum basah semua memang bajuku, payungku
kubiarkan memayungi bayangan diriku. Sedang aku menikmati kesunyian yang
menyeruak masuk ketika kita berada dalam payung berwarna hitam yang sama.
“Apakah
kau mau menungguku Ruth?” Kataku perlahan, lebih tepatnya berbisik. Aku tak
yakin Ruth akan mampu mendengar pertanyaanku yang lebih kepada memohon itu.
“Aku
akan menantimu, kapanpun itu Rem.” Aku sempat terkejut, mendengar jawabanmu
yang lantang dan sangat yakin itu. Ternyata kau mendengar ucapanku.
Aku
mengusap kepalamu, rambutmu yang mulai basah sebab payungmu tak mampu menahan
gemercik air yang memantul dari tanah. Apalah artinya ini Ruth, saat waktu mau
tak mau harus membawa kita pada suatu kata perpisahan. Padahal tak pernah
sebelumnya aku duga hal ini akan terjadi, aku pikir sampai kapanpun kita akan
mampu saling bersama.
“Tapi
Ruth, apakah kau benar sanggup?” Aku menanyakannya lagi padamu, berharap kau
tak berubah pikiran karena aku memang tak ingin kau berpaling dariku sebab
perpisahan tapi di sisi lain aku ingin kau mengatakan bahwa kau tak sanggup
lagi hidup bersamaku sebab aku sebagai laki-laki yang mengikatmu tak pernah
mampu membawamu pada hidup yang layak.
Kau hanya
mengangguk dengan tatapan mata sayu yang kini telah meneteskan beberapa
bulir-bulir air mata kesedihanmu. Apakah kau kecewa Ruth?
Saat
ini, ketika kemarau hadir kembali setelah beberapa musim penghujan telah tiba
dan aku selalu tersiksa di sana. Tersiksa ketika hujan datang, bahkan ketika
gerimis menyentuh ingatanku. Seandainya saja aku tak seputus asa waktu itu
Ruth, mungkin sampai saat ini kau masih ada dalam pelukanku. Masih dengan
sagala keyakinanmu bahwa memang aku bisa bertahan untuk membahagiakanmu kelak.
Tapi saat itu, aku dikuasai rasa ragu. Ragu yang teramat pilu.
Di
jejakan kakimu yang sama waktu silam, kini aku sedang berada di sini. Entah apa
yang aku cari, mungkin kepingan kenangan yang pernah luntur oleh titis air
hujan kala itu. Tapi nuraniku berkata aku ingin mencarimu di sini. Tempat
disaat aku harus memaksa diri merelakanmu pergi bersama derai air matamu yang
kulihat terakhir kali.
“Remi...”
Aku
masih sangat mengenali suara itu, suara lembut yang terdiam ketika aku dan dia
harus memilih pergi. Suara seorang perempuan yang pernah aku cintai dan masih
aku cintai sampai saat ini. Aku tak berani mencari sumber suara itu sebab aku
takut kecewa jika itu hanya suara imajinasi. Aku merasakan panas mentari siang
ini, terik. Tapi beberapa detik kemudian, sinarnya hangat di bagian punggungku.
Selayak ada seseorang yang mendekatiku dari belakang dan aku mencium aroma yang
aku tahu itu milik Ruth.
Terik
mentari mulai hilang, diganti mendung tang tiba-tiba datang. Bersamaan dengan
itu, pundakku ada yang menyentuh dari belakang.
“Remi...”
Kembali suaru itu terdengar
Aku memberanikan
diri membalikkan tubuhku, dengan susah payah aku menyangkali bahwa semuanya
ilusi. Oh tidak, di hadapanku memang benar Ruth. Perempuan yang paling mengerti
akan pilihanku dulu, perempuan yang tak pernah ragu akan cintanya, kini dia
kembali di hadapanku. Lebih cerah wajahnya daripada ronanya yang kulihat
terakhir kali di bulan September. Oh Ruth kau kembali.
“Kamu
di sini? Sejak kapan?”
Tak
sanggup aku menahan diri bahwa diri ini benar merindunya, merindu Ruthku yang
dulu mengecewakan keraguanku atas keyakinannya.
“Oh
iya, perkenalkan ini anakku Kinal. Ayo sayang kasih salam buat om Remi.”
Hatiku
serasa mencelos, ada petir menyambar di dalam benakku. Aku menjabat gadis
mungil yang mirip sekali bentuk wajahnya dengan Ruth.
“Aku
duluan ya Rem, kapan-kapan kamu main ke rumahku ya. Oia, ini kartu namaku. Ada
alamat dan nomor teleponku di situ.” Lalu Ruth beranjak pergi setelah
memberikan senyuman manis padaku.
Tiba-tiba
percikan-percikan dari langit tiba. Kecil-kecil tapi mampu menghantamku dengan
kuat. Gerimis. Oh Ruthku dulu, jika ini semua diumpamakan permainan aku tahu
kaulah pemenangnya dulu pun saat ini. Ternyata aku memang harus selalu kalah di
hadapanmu Ruth, meskipun kau bersedia mengalah untukku.
Gerimis
di musim kemarau. Akhirnya rinduku pun kacau.
By : Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar