Sabtu, 05 April 2014

Gerimis di Musim Kemarau

                Mulai kemarau, tapi aku tak mengeri mengapa hati dan perasaanku masih saja meracau. Ada sedikit pergolakan hati yang tak pernah kuketahui akan menjadi lebih besar setiap hari. Aku pikir tak berusaha melupakan atau mengingat akan membawa perasaanku berangsur-angsur membaik, tapi nyatanya tak ada yang mampu membuatnya begitu. Waktu itu, September tanggal tujuh.
                “Kamu akan kembali bukan?” Kau memegang payung warna hitammu
                Aku hanya diam dan pertanyaannya dijawab oleh hujan yang semakin deras. Tak ada tetes air mata di pelepuknya yang jatuh tapi aku tahu ia mulai jenuh hanya sekadar menunggu jawabanku.
                “Selama itukah kau akan pergi Rem?”
                Aku semakin tak mampu melihat tatapanmu yang tak lagi guyub akibat perpisahan yang harus terjadi ini. Tubuhku masuk ke dalam naungan payungmu, kau tak menghindar dan hanya terpaku di jejakan kakimu. Belum basah semua memang bajuku, payungku kubiarkan memayungi bayangan diriku. Sedang aku menikmati kesunyian yang menyeruak masuk ketika kita berada dalam payung berwarna hitam yang sama.
                “Apakah kau mau menungguku Ruth?” Kataku perlahan, lebih tepatnya berbisik. Aku tak yakin Ruth akan mampu mendengar pertanyaanku yang lebih kepada memohon itu.
                “Aku akan menantimu, kapanpun itu Rem.” Aku sempat terkejut, mendengar jawabanmu yang lantang dan sangat yakin itu. Ternyata kau mendengar ucapanku.
                Aku mengusap kepalamu, rambutmu yang mulai basah sebab payungmu tak mampu menahan gemercik air yang memantul dari tanah. Apalah artinya ini Ruth, saat waktu mau tak mau harus membawa kita pada suatu kata perpisahan. Padahal tak pernah sebelumnya aku duga hal ini akan terjadi, aku pikir sampai kapanpun kita akan mampu saling bersama.
                “Tapi Ruth, apakah kau benar sanggup?” Aku menanyakannya lagi padamu, berharap kau tak berubah pikiran karena aku memang tak ingin kau berpaling dariku sebab perpisahan tapi di sisi lain aku ingin kau mengatakan bahwa kau tak sanggup lagi hidup bersamaku sebab aku sebagai laki-laki yang mengikatmu tak pernah mampu membawamu pada hidup yang layak.
                Kau hanya mengangguk dengan tatapan mata sayu yang kini telah meneteskan beberapa bulir-bulir air mata kesedihanmu. Apakah kau kecewa Ruth?
                Saat ini, ketika kemarau hadir kembali setelah beberapa musim penghujan telah tiba dan aku selalu tersiksa di sana. Tersiksa ketika hujan datang, bahkan ketika gerimis menyentuh ingatanku. Seandainya saja aku tak seputus asa waktu itu Ruth, mungkin sampai saat ini kau masih ada dalam pelukanku. Masih dengan sagala keyakinanmu bahwa memang aku bisa bertahan untuk membahagiakanmu kelak. Tapi saat itu, aku dikuasai rasa ragu. Ragu yang teramat pilu.
                Di jejakan kakimu yang sama waktu silam, kini aku sedang berada di sini. Entah apa yang aku cari, mungkin kepingan kenangan yang pernah luntur oleh titis air hujan kala itu. Tapi nuraniku berkata aku ingin mencarimu di sini. Tempat disaat aku harus memaksa diri merelakanmu pergi bersama derai air matamu yang kulihat terakhir kali.
                “Remi...”
                Aku masih sangat mengenali suara itu, suara lembut yang terdiam ketika aku dan dia harus memilih pergi. Suara seorang perempuan yang pernah aku cintai dan masih aku cintai sampai saat ini. Aku tak berani mencari sumber suara itu sebab aku takut kecewa jika itu hanya suara imajinasi. Aku merasakan panas mentari siang ini, terik. Tapi beberapa detik kemudian, sinarnya hangat di bagian punggungku. Selayak ada seseorang yang mendekatiku dari belakang dan aku mencium aroma yang aku tahu itu milik Ruth.
                Terik mentari mulai hilang, diganti mendung tang tiba-tiba datang. Bersamaan dengan itu, pundakku ada yang menyentuh dari belakang.
                “Remi...” Kembali suaru itu terdengar
                Aku memberanikan diri membalikkan tubuhku, dengan susah payah aku menyangkali bahwa semuanya ilusi. Oh tidak, di hadapanku memang benar Ruth. Perempuan yang paling mengerti akan pilihanku dulu, perempuan yang tak pernah ragu akan cintanya, kini dia kembali di hadapanku. Lebih cerah wajahnya daripada ronanya yang kulihat terakhir kali di bulan September. Oh Ruth kau kembali.
                “Kamu di sini? Sejak kapan?”
                Tak sanggup aku menahan diri bahwa diri ini benar merindunya, merindu Ruthku yang dulu mengecewakan keraguanku atas keyakinannya.
                “Oh iya, perkenalkan ini anakku Kinal. Ayo sayang kasih salam buat om Remi.”
                Hatiku serasa mencelos, ada petir menyambar di dalam benakku. Aku menjabat gadis mungil yang mirip sekali bentuk wajahnya dengan Ruth.
                “Aku duluan ya Rem, kapan-kapan kamu main ke rumahku ya. Oia, ini kartu namaku. Ada alamat dan nomor teleponku di situ.” Lalu Ruth beranjak pergi setelah memberikan senyuman manis padaku.
                Tiba-tiba percikan-percikan dari langit tiba. Kecil-kecil tapi mampu menghantamku dengan kuat. Gerimis. Oh Ruthku dulu, jika ini semua diumpamakan permainan aku tahu kaulah pemenangnya dulu pun saat ini. Ternyata aku memang harus selalu kalah di hadapanmu Ruth, meskipun kau bersedia mengalah untukku.

                Gerimis di musim kemarau. Akhirnya rinduku pun kacau.
By : Rena Kharisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik