Hari ini pertama puasa aku laksanakan. Dengan tak tidur dari malam hingga sholat subuh. Karena aku khawatir kehilangan waktu sahur yang kukira akan lewat saja meskipun alarm berdering-dering sampai baterai smartphoneku habis. Kemudian aku lanjutkan tidur, menghabisi waktu istirahat yang belum sempat kujamah pada waktu yang sebenarnya. Ya, sudah kubilang kan kalau jam biologisku seperti kelelawar salama liburan. Setelah itu aku terbangun akibat mimpiku bertemu kawan lama yang pada zaman "lama" pun aku tak begitu akrab dengannya. Ia tetanggaku juga tapi beda kasta, bukan kasta seperti di agama Budha atau kasta bangsawan, mungkin lebih dari segi pendidikan. Dia gadis manis dari keluarga musisi yang mungkin pantas jadi pianis, sudah ditakdirkan dengan IQ di atas rata-rata dan mengenyam pendidikan di berbagai negara. Oh, orang Jawa yang istimewa.
Ah, lupakan soal kawan lamaku itu. Setelah terbangun dari tidurku yang lebih lama satu jam. Biasanya aku kan terbangun pada pukul dua belas siang, mandi, kemudian sholat. Ah, aku tak peduli makan siang selama perutku masih tak kerontang. Sebab masih ada banyak cadangan lemak yang bersemayam dan sampai sekarang belum kempis juga. Ya, aku melakukan rutinitas seperti biasanya edisi liburan di rumah dan tak ke mana-mana. Ayah, Ibu, dan Adikku sedang tak di rumah. Makanya suasana rumah lebih terasa nyaman dari biasanya sebab tak ada bising ocehan Ibu yang memarahi adikku karena memberantakkan rumah. Tapi rumah masih tempat pulang ternyaman meskipun banyak yang tak membuat nyaman. Hanya saja rumah tanpa ada mereka (sementara) lebih terasa nyaman dengan kesunyian.
Aku memutuskan membaca novel Dee Supernova "Petir" setelah beradu argumentasi dengan diri sendiri akan memilih melanjutkan membaca novel apa selanjutnya, saat sebelumnya aku masih membaca karya Dee yang diberi nama "Madre". Ternyata aku tak salah pilih novel, sebab aku tak perlu susah-susah menyesuaikan membaca dengan gaya penulisan yang baru. Dee masih menjadi penulis favorit sekaligus penyanyi kesukaan yang melankolis. Di Novel Petir ini aku dihentakkan dengan pergolakan yang terjadi antara Elektra, Watti, dan ayah mereka bernama Wijaya. Keturunan Tionghoa yang merasa aneh jika di kehidupan nyata tapi menjadi cibiran pula di dalam keluarga. Entahlah, aku dibuat menangis sesenggukan di part awal novel ini. Untung saja aku tak meminum air mataku sendiri karena masih sadar berpuasa. Ada banyak part yang membuatku seperti ada di antara mereka bahkan aku lebih merasa bahwa jiwaku berada di tokoh bernama Watti bukan Elektra sebagai tokoh utama. Ah, bukan. Bukan tentang siapa yang membuatku tersedu oleh rangkaian kalimat Dee di awal cerita. Tapi tentang apa yang dibahas di sana. Agama.
Rasanya aku masih gamang dengan persoalan yang satu ini. Pak Wijaya hampir mirip Ayah. Bukan persoal pekerjaan atau pendirian tapi bagaimana tindakan mereka dengan sebutan agama. Sedang aku bukan Elektra juga tak mau disebut sebagai Watti untuk hal ini. Pada peritiwa di novel inilah yang membuat Watti akhirnya memutuskan pindah agama dan respon ayahnya yang membuatku meneteskan air mata pertama, disambung sikap Elektra yang memberikan pandangan luar biasa bagi kakaknya. Akan kukutip beberapa kalimat di novelnya pada tulisan ini.
"Jadi, sebenarnya kamu itu cuma pindah tegangan. Dan, yang dulu neraka sekarang jadi surga, yang dulu surga sekarang jadi neraka." - Elektra saat Watti bingung dan bersedih ketika bertemu dengan Nelson seorang pendeta yang dulu kawannya di persekutuan doa.
"Kamu nggak apa-apa, kan, kalau kita nggak seiman? Tapi, tiap Natal, aku sama Kang Atam pasti datang, bawain kue buat kalian." - Watti yang akan menikah dengan seorang muslim bernama Anggatama Subagja.
Pada bagian selanjutnya ini yang membuatku seperti disengat listrik dan memutuskan untuk berhenti sejenak mambaca lalu menulis tulisan ini.
Sementara Watti sibuk menyeka air mata dan membuang ingus, aku menatap ke luar jendela. Mataku tertumbuk pada pada pohon asam kurus di pojok pekarangan. Pohon yang sudah berdiri sejak entah kapan tahu. Tak ada yang menyadari keberadaannya. Mungkin pohon itu tak pernah punya ambisi jadi bonsai yang dipamer dan disayang-sayang, atau menjadi tanaman lain yang bisa ditumpangi ego manusia karena mencerminkan keahlian pemiliknya. Ia cukup dipelihara oleh alam.
Tak pernah kurenungi ini sebelumnya, tetapi rasanya aku dan Dedi memang sama untuk masalah satu ini. Ketidakhadiran kami di gereja atau persekutuan doa bukan karena tak percaya Tuhan ada, melainkan kami menikmatinya dengan cara lain. Seperti pohon di pojok pekarangan. Berdiri di tempat. Bahagia. Cukup.
Pada kutipan itulah, air mataku mencinptakan isak. Entahlah, rasanya ada sesuatu dalam diriku yang setuju. Mengiyakan dengan acungan tangan disertai acungan jempol. Pada karya sastra seperti inilah yang sering membuatku tersentuh bukan cerita para Nabi yang berjuang demi agama (katanya). Aku berprasangka bahwa para utusan Tuhan itu bukan berjuang demi agama tapi demi kebenaran. Ayah pernah berkata padaku bahwa agama kini dijadikan jual beli dan kedok tahta. Mungkin memang iya. Aku sendiri masih sering merasa kagum dengan agama lain, oh bukan agamanya tetapi pembawaan orang-orang yang beragama itu. Selain itu aku mungkin akan lebih menghayati nyanyian-nyanyian umat kristiani dalam berdoa ketimbang sholawat yang nadanya dimiripkan lagu dangdut dan aku tak tahu artinya. Iya, aku memang masih belajar. Tak tahu belajar mendalami agamaku ini atau berusaha mencari di mana akan kutemukan kekhusyukan beribadah pada Tuhan. Tapi aku tahu pasti bahwa ada ketenangan yang akan kudapatkan melalui hal-hal spiritual dan akan aku pertahankan. Aku menduga bahwa kini dunia sosial turut andil dalam urusan agama. Ada yang pindah keyakinan sudah disebut murtad atau kafir atau bahasa-bahasa lainnya pada agama yang ditinggalkan. Tak segan-segan dunia sosial ikut campur tangan memberi hukuman.
Ah, entahlah. Aku masih di dunia, setidaknya aku bertahan pada yang normal-normal saja. Tidak melakukan keesktriman pada yang bernama agama.
By: Rena Kharisma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar