Minggu, 29 Juni 2014

Keresahan Malam Ini

Malam ini aku tidak berhasil menidurkan segala keresahan. Mungkin jam biologisku benar-benar berubah seperti kelelawar. Tapi keresahan ini belum ada penawar. Sudah capai aku menghitungi detik. Padahal kali ini aku ingin cepat mendengkur agar tak telat makan sahur. Tapi untuk hari libur, pukul dua belas malam menuju dini hari belum waktunya tidur. Seandainya esok bukan hari libur pun rasanya aku belum bisa akur pada segala yang tak bisa diukur. Ya, perasaan. 
Entahlah, keresahan ini bermula dari mana. Aku hanya tahu bahwa sebagai manusia aku belum benar-benar berguna. Kemalasan selalu menyekapku tanpa iba padahal niat betul-betul sudah tertata. Ah, beginilah adanya. Mungkin tidak, mungkin ini bukan persoal bagaimana kemanfaatanku sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna katanya. Aku masih terjebak ternyata. Terhanyut dengan kenangan-kenangan yang pernah ada, perasaan-perasaan yang menamakan dirinya cinta, kini tak lagi ada. Oh tidak juga! Bukan kenangan sepertinya sebab kenangan adalah yang pernah aku rasakan sebelum aku merasakan hari ini. Mungkin inilah keresahanku sesungguhnya, rasa iri. 
Ya, telah berkali-kali aku berkata pada diri sendiri. Meyakinkan lewat banyak puisi, menenangkan hati bahwa kebahagiaan untukku pasti datang nanti. Telah ada bagiannya sendiri-sendiri. Tapi kecamuk dalam batin masih berontak saja. Mana ada nurani yang mampu sandiwara terhadap rasa? Hanya saja aku merasa tak mampu berbuat apa-apa kepada seseorang atau banyak orang yang pernah kucintai sebelum berpisah. Harusnya apa? Aku harus turut bahagia pula ketika dia pun bahagia. Dengan orang lain? Ketika kau masih ingin bersamanya? Ah, omong kosong. Apa? Aku harus mendoakan dia bahagia dengan orang lain? Gila saja. Tak usahlah bersok suci ria. Setiap diri itu memiliki merdekanya sendiri, setiap diri itu egois. Tapi ada yang mampu merapikannya menjadi sesuatu yang anggun dan bijaksana. Aku masih belajar, masih berusaha menuju sana. 
Aku tahu, tak ada guna memelihara iri berlama-lama. Hanya membuat waktu berlari di antara pohon yang memiliki banyak buah dan tak pernah bisa memetiknya. Mungkin aku harus berhenti terlebih dahulu, setidaknya menepi. Bukan untuk mengobati tapi beranjak dari segala yang kuanggap iri. Mungkin menyombongkan diri agar aku juga yakin bahwa aku juga punya bahagia, bahkan melebihi dia. Karena aku pun telah banyak curiga bahwa orang-orang di luar sana menganggapku lebih bahagia dari mereka. Kenyataannya? Aku harus berkata iya.

By: Rena Kharisma 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik