Jumat, 25 Juli 2014

Bintang (bukan) Kejora

Kali ini izinkan aku sedikit bercerita. Seseorang yang tiba-tiba datang di kehidupanku bagai bintang jatuh yang tak pernah kutahu juga jenis bintang macam apa dia? Tapi kita sempat bertukar banyak sajak demi menuntaskan rasa penasaran masing-masing. Mungkin. Pada malam itu tanggal 13 Juli, aku sedang berada di belantara yang aku suka dan tidak. Aku mengiriminya secuplik sajak dan ia membalasnya dengan sajak pula. Mungkin jadilah ini puisi pertama yang kita buat tanpa sengaja.

Menurutmu, bagaimana bintang menanggapi kepulan asap awan kelabu?
Haruskah ia menjamu sebagai tamu atau membiarkan saja menjadi abu?
Sang bintang sudah mengerti pelbagai warna, sering dicemooh sebab lebih bersinar dari kejora
Cahayanya menyilaukan angkasa tapi hatinya tak ingin jadi jelaga
Binarnya sering bawa curiga bahwa itu tak menggiring pesona namun membawa bencana
Haruskah ia meredupkan murni kharisma demi turut bergumul dengan jumawa?
@kharismarena
Bintang tak pernah butuh retorika untuk bercahaya
Tak peduli awan atau abu, bintang adalah cahaya penentu
Tak perlu jadi peragu hanya karena bumi tak menatapnya dengan baik
Seluas tata surya, seluas itu pula kebebasannya, ketaktebatasan
Tatap sedikit lebih lama, bersinarlah lebih kejora, sebab ada yang menatapmu di sisi terluar galaksi tata surya
Meskipun bukan planet, dia cukup setia
Bersinarlah, bersinarlah saja
 @plutonema


Begitu puisi kolaborasi yang kita buat dengan waktu yang cukup singkat tapi bagiku balasannya cukup mengena. Mungkin dia memang pluto yang dipecat menjadi planet tapi aku sebagai bintang yang tak ditatatap baik oleh bumi akan merangkulnya hidup bersama-sama dalam galaksi milik kita sendiri.

1 komentar:

  1. Haloo, selamat! Kamu dapat Liebster Award dari akuu ;;) Check it! http://khavidiot.blogspot.com/2014/07/selamat-kamuuuu.html

    BalasHapus

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik