Kali ini
izinkan aku sedikit bercerita. Seseorang yang tiba-tiba datang di kehidupanku
bagai bintang jatuh yang tak pernah kutahu juga jenis bintang macam apa dia?
Tapi kita sempat bertukar banyak sajak demi menuntaskan rasa penasaran
masing-masing. Mungkin. Pada malam itu tanggal 13 Juli, aku sedang berada di
belantara yang aku suka dan tidak. Aku mengiriminya secuplik sajak dan ia
membalasnya dengan sajak pula. Mungkin jadilah ini puisi pertama yang kita buat
tanpa sengaja.
Menurutmu, bagaimana
bintang menanggapi kepulan asap awan kelabu?
Haruskah ia menjamu
sebagai tamu atau membiarkan saja menjadi abu?
Sang bintang sudah
mengerti pelbagai warna, sering dicemooh sebab lebih bersinar dari kejora
Cahayanya menyilaukan
angkasa tapi hatinya tak ingin jadi jelaga
Binarnya sering bawa
curiga bahwa itu tak menggiring pesona namun membawa bencana
Haruskah ia
meredupkan murni kharisma demi turut bergumul dengan jumawa?
@kharismarena
Bintang tak pernah butuh
retorika untuk bercahaya
Tak peduli awan atau
abu, bintang adalah cahaya penentu
Tak perlu jadi peragu
hanya karena bumi tak menatapnya dengan baik
Seluas tata surya,
seluas itu pula kebebasannya, ketaktebatasan
Tatap sedikit lebih
lama, bersinarlah lebih kejora, sebab ada yang menatapmu di sisi terluar
galaksi tata surya
Meskipun bukan planet, dia cukup setia
Bersinarlah, bersinarlah saja
Begitu puisi
kolaborasi yang kita buat dengan waktu yang cukup singkat tapi bagiku
balasannya cukup mengena. Mungkin dia memang pluto yang dipecat menjadi planet
tapi aku sebagai bintang yang tak ditatatap baik oleh bumi akan merangkulnya
hidup bersama-sama dalam galaksi milik kita sendiri.
Haloo, selamat! Kamu dapat Liebster Award dari akuu ;;) Check it! http://khavidiot.blogspot.com/2014/07/selamat-kamuuuu.html
BalasHapus