Rabu, 23 Juli 2014

Bukan Tempatmu Pulang

                Bagiku ini adalah salah satu hal yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Memberikan kasih sayang tanpa sentuhan tanpa bercakap dengan tatapan mata yang saling bersinggungan. Terkadang aku menertawai diriku sendiri, menangisi kekhawatiranku berkali-kali. Dulu, ketika kecil ia sering beandai-andai pernah mengelilingi dunia bersama sabahat kecilnya. Sahabat kecil yang menjadi kekasihnya saat ini. Dandi.
                “Besok aku menuju Roma, Miss you so much my girl.”
                “Apalagi aku, sudah capek bilang rindu.” Mereka kemudian tertawa berbarengan.
                “Kamu minta apa? Di sana?”
                “Ah, kamu. Aku dibelikan apa-apa ketika kamu ke mana-mana belum sampai juga ke tanganku.”
                “Sabar dong, semua barang yang kamu minta bakal ada di hadapanmu.”
                “Kenapa nggak dipaketin aja sih? Kan bisa langsung dikirim sampai rumahku.”
                “Kamu sabar ya...Sampai Jumpa. Love you.”
                Sambungan telepon terputus setelah aku membalas ucapan cintanya padaku. Begitulah Dandi, berlayar ke penjuru negeri dan tak pernah lupa membelikan aku satu barang. Tapi aku selalu protes karena tak ada satu barang pun yang sampai ke tangan. Dandi berhasil mewujudkan mimpi kita berdua semasa kecil yang terobsesi dengan peta kusam dari kakeknya yang seorang pelaut. Bagiku, peta itu adalah kisah saat cinta kami dipersatukan. Tapi peta itu hanya menjadi pengobat rinduku saat ini ketika jarak memisahkan raga kita bertahun-tahun yang lalu. Ia belum kembali lagi ke tanah air. Hingga pada saat ini Dandi pulang dengan semua barang yang telah ia belikan itu sampai di depan pintu kamarku dengan manisnya. Ada jam tangan mungil, boneka koala, miniatur menara Eiffel, dan masih banyak pernak-pernik lainnya. Tapi aku masih protes. Sangat protes hingga murka.

                “Aku tak inginkan barang-barangmu saja Dan! Aku ingin kamu juga pulang. Pulang untukku, untuk cinta kita.” Aku menangis tersedu di depan kamar dan meremas surat undangan pernikahannya dengan seorang perempuan bule. Ternyata aku bukan tempatnya pulang.

By : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik