Bagiku
ini adalah salah satu hal yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Memberikan
kasih sayang tanpa sentuhan tanpa bercakap dengan tatapan mata yang saling
bersinggungan. Terkadang aku menertawai diriku sendiri, menangisi
kekhawatiranku berkali-kali. Dulu, ketika kecil ia sering beandai-andai pernah
mengelilingi dunia bersama sabahat kecilnya. Sahabat kecil yang menjadi
kekasihnya saat ini. Dandi.
“Besok
aku menuju Roma, Miss you so much my girl.”
“Apalagi
aku, sudah capek bilang rindu.” Mereka kemudian tertawa berbarengan.
“Kamu
minta apa? Di sana?”
“Ah,
kamu. Aku dibelikan apa-apa ketika kamu ke mana-mana belum sampai juga ke
tanganku.”
“Sabar
dong, semua barang yang kamu minta bakal ada di hadapanmu.”
“Kenapa
nggak dipaketin aja sih? Kan bisa langsung dikirim sampai rumahku.”
“Kamu
sabar ya...Sampai Jumpa. Love you.”
Sambungan
telepon terputus setelah aku membalas ucapan cintanya padaku. Begitulah Dandi,
berlayar ke penjuru negeri dan tak pernah lupa membelikan aku satu barang. Tapi
aku selalu protes karena tak ada satu barang pun yang sampai ke tangan. Dandi
berhasil mewujudkan mimpi kita berdua semasa kecil yang terobsesi dengan peta
kusam dari kakeknya yang seorang pelaut. Bagiku, peta itu adalah kisah saat
cinta kami dipersatukan. Tapi peta itu hanya menjadi pengobat rinduku saat ini
ketika jarak memisahkan raga kita bertahun-tahun yang lalu. Ia belum kembali
lagi ke tanah air. Hingga pada saat ini Dandi pulang dengan semua barang yang
telah ia belikan itu sampai di depan pintu kamarku dengan manisnya. Ada jam
tangan mungil, boneka koala, miniatur menara Eiffel, dan masih banyak
pernak-pernik lainnya. Tapi aku masih protes. Sangat protes hingga murka.
“Aku
tak inginkan barang-barangmu saja Dan! Aku ingin kamu juga pulang. Pulang
untukku, untuk cinta kita.” Aku menangis tersedu di depan kamar dan meremas
surat undangan pernikahannya dengan seorang perempuan bule. Ternyata aku bukan tempatnya pulang.
By : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar