Rabu, 23 Juli 2014

Istimewa

                Masih dengan ransel yang berisi satu kaus putih dan dompet. Ia pergi menuju stasiun untuk pergi ke suatu tempat di mana hatinya dipertaruhkan. Tak ada yang ia bawa selain keteguhannya berusaha menyampaikan bahwa ia ada. Bukan hanya maya. Ia mengenalnya satu bulan yang lalu ketika beberapa puisi telah menghipnotisnya jatuh hati pada seorang perempuan nan jauh. Kilometer jarak ia tempuh untuk meyakinkan ragu.
                “Kamu sudah tak ragu lagi kan? Aku bukan Hantu Lun.” Ia berkata lembut dan penuh keyakinan.
                “Bunga warna ungu kesukaanmu. Jangan lagi pilu dengan cintamu yang lalu.” Ia sengaja membeli aneka bunga berwarna ungu, kesukaan perempuan yang ia cintai.
                Nampaknya sunyi jawaban yang tak kunjung tiba diramaikan dengan desau angin, datang bergantian dari arah kiri atau kanan. Lelaki yang menggadaikan segala hati dan perasaannya ini masih menunggu perempuan yang ia kasihi itu menyahuti ucapannya. Ia sudah merelakan logika yang menjadi harga paling tinggi di kehidupannya demi perempuan yang hanya satu bulan ia kenal sebab puisi-puisinya. Ini memang gila. Batinnya berkali-kali. Dan kini ia yakin kegilaannya itu nyata.
                “Aku masih mencintaimu, mencintai puisimu. Jangan ragu lagu Lun, aku tiba di sini untukmu. Aku bukan hantu.”
                Mungkin memang laki-laki itu bukan hantu tetapi perempuan yang ia cintai itu telah menyandang status itu lebih dulu. Beberapa jam setelah terpekur di makam itu, akhirnya laki-laki itu meletakkan rangkaian bunga warna ungu di depan nisan bernama Luna beserta tanggal lahir dan wafatnya. Gadis teristimewa yang baru meninggal dua hari yang lalu sebab kecelakaan kereta, kereta yang laju untuk menemuinya. Menemui laki-laki yang menganggapnya istimewa.

By : Rena Kharisma

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik