Masih
dengan ransel yang berisi satu kaus putih dan dompet. Ia pergi menuju stasiun
untuk pergi ke suatu tempat di mana hatinya dipertaruhkan. Tak ada yang ia bawa
selain keteguhannya berusaha menyampaikan bahwa ia ada. Bukan hanya maya. Ia
mengenalnya satu bulan yang lalu ketika beberapa puisi telah menghipnotisnya
jatuh hati pada seorang perempuan nan jauh. Kilometer jarak ia tempuh untuk
meyakinkan ragu.
“Kamu
sudah tak ragu lagi kan? Aku bukan Hantu Lun.” Ia berkata lembut dan penuh
keyakinan.
“Bunga
warna ungu kesukaanmu. Jangan lagi pilu dengan cintamu yang lalu.” Ia sengaja
membeli aneka bunga berwarna ungu, kesukaan perempuan yang ia cintai.
Nampaknya
sunyi jawaban yang tak kunjung tiba diramaikan dengan desau angin, datang
bergantian dari arah kiri atau kanan. Lelaki yang menggadaikan segala hati dan
perasaannya ini masih menunggu perempuan yang ia kasihi itu menyahuti
ucapannya. Ia sudah merelakan logika yang menjadi harga paling tinggi di
kehidupannya demi perempuan yang hanya satu bulan ia kenal sebab
puisi-puisinya. Ini memang gila. Batinnya berkali-kali. Dan kini ia yakin
kegilaannya itu nyata.
“Aku
masih mencintaimu, mencintai puisimu. Jangan ragu lagu Lun, aku tiba di sini
untukmu. Aku bukan hantu.”
Mungkin
memang laki-laki itu bukan hantu tetapi perempuan yang ia cintai itu telah
menyandang status itu lebih dulu. Beberapa jam setelah terpekur di makam itu,
akhirnya laki-laki itu meletakkan rangkaian bunga warna ungu di depan nisan bernama Luna beserta tanggal lahir dan wafatnya. Gadis teristimewa yang baru meninggal dua hari
yang lalu sebab kecelakaan kereta, kereta yang laju untuk menemuinya. Menemui laki-laki yang
menganggapnya istimewa.
By : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar