Gi,
Aku mulai tak percaya diksi-diksi puisi
Aku mulai menganggap puisi hanya puisi, rangkaian kata indah. Metafora.
Padahal dari awal aku mengenal puisi dan mulai menuliskan puisiku sendiri, aku sangat percaya bahwa puisi adalah kejujuran. Benar-benar dari hati.
Tapi setelah peristiwa ini, puisi jadi ternoda seperti baju putih yang terkena saus sambal.
Pedas dan membekas.
Gi,
Ajari aku sekali lagi, memercayai puisi.
Apakah tulisan-tulisanmu juga sekadar karangan atau prosa belaka?
Aku terlalu mengagungkan puisi, akhirnya aku sendiri yang terjebak.
Tersungkur, jatuh.
Dan ini lebih menyakitkan dari memilih pergi karena diselingkuhi.
Aku dikelabuhi dengan puisi.
Gi,
Bisakah kamu jujur? Tentang puisimu
Tentang semua yang kau tulis
Aku sangat berharap jika kamu mampu tulus.
Aku mulai tak percaya diksi-diksi puisi
Aku mulai menganggap puisi hanya puisi, rangkaian kata indah. Metafora.
Padahal dari awal aku mengenal puisi dan mulai menuliskan puisiku sendiri, aku sangat percaya bahwa puisi adalah kejujuran. Benar-benar dari hati.
Tapi setelah peristiwa ini, puisi jadi ternoda seperti baju putih yang terkena saus sambal.
Pedas dan membekas.
Gi,
Ajari aku sekali lagi, memercayai puisi.
Apakah tulisan-tulisanmu juga sekadar karangan atau prosa belaka?
Aku terlalu mengagungkan puisi, akhirnya aku sendiri yang terjebak.
Tersungkur, jatuh.
Dan ini lebih menyakitkan dari memilih pergi karena diselingkuhi.
Aku dikelabuhi dengan puisi.
Gi,
Bisakah kamu jujur? Tentang puisimu
Tentang semua yang kau tulis
Aku sangat berharap jika kamu mampu tulus.
Sebuah kamar. 21.35
(Sedang menunggu kabarmu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar