Alin
tertawa kecil di balik jendela kamarnya, memegang beberapa lembar surat. Dia
memebaca beberapa baris, kemudian seperti membayangkan sesuatu. Begitu
seterusnya, sambil mondar-mandir ke samping kanan dan ke samping kiri.
“Kamu
tuh kenapa sih, Lin? Ketawa-ketawa sendiri melulu, bagi-bagi kek sini
kebahagiaanya.” Tata yang tadi sibuk dengan majalahnya buka suara, melihat
temannya satu itu tak selesai-selesai membaca surat.
“Apa
sih?” Alin memalingkan muka dari Tata
“Oh,
pelit ya sekarang. Surat dari siapa sih? Dodit lagi? Nggak kapok-kapok ya tuh
orang ngejar-ngejar kamu. Tuh, meja rias sama meja belajarmu jadi kayak taman
bunga.” Tata menunjuk meja belajar dan meja rias yang bersebelahan. Meja itu
penuh rangkaian bunga, dari mawar sampai tulip.
Alin
tertawa semakin kencang, “Ha ha ha, eh iya tuh anak.” Alin menghampiri Tata,
duduk di pinggir tempat tidur.
“Nah,
iya itu. Kamu nggak risih? Tata memasang raut serius.
Alin
bergumam, “Nggak juga sih, untung dong aku dapat bunga-bunga terus tiap hari.”
“Untung
dari mana kalau merusak pemandangan kamarmu gini. Berantakan tau’, masa’ orang
yang nggak rapi kayak kamu dikasih bunga terus. Yang ada tuh malah mirip kamu
dagang bunga terus pemasoknya si Dodit.” Tata tertawa.
“Hih,
kamu tuh Ta. Selalu gitu. Ngeledek mulu’” Alin cemberut.
“Lagian
kenapa sih kamu nggak bilang aja sama dia kalau kamu nggak suka dan minta dia
buat nggak ngasih-ngasih kamu bunga lagi.”
Alin
meletakkan surat yang sedaritadi digenggamnya di atas bantal. “Gini loh Ta, si
Dodit juga nggak pernah nyatain perasaan cinta ke aku. Dia cuman ngasih bunga
setiap hari, udah gitu aja.”
“Menurutmu
itu bukan tanda kalau dia tergila-gila sama kamu?”
“Kan
dia nggak nyatain.”
“Aduh
Alin, kamu tuh polos ada bego’ sih. Gitu aja udah bisa ketebak kali’ kalau
Dodit suka kamu. Lagian tuh surat pasti dari Dodit kan.”
“Eh,
bukan. Aku dapet ini di kolong mejaku di kelas. Nih.” Alin memberikan surat itu
kepada Tata.
“Alin....
udah jelas nih. Inisialnya D.” Tata menunjukkan huruf D di bagian akhir surat.
“Tapi
masa’ iya itu Dodit?”
“Ah,
tau’ ah.”
Bel
rumah Alin berbunyi, “Alin....ada temenmu nih.”
“Temen?”
Tata bingung
“Iya
Ma, sebentar. Eh, ayo ikut yuk. Aku nggak janjian sama siapa-siapa lagi selain
sama kamu Ta.”
“Siapa
sih, Lin?”
Alin
hanya menjawab dengan gelengan kepala dan menggandeng Tata.
Sesampainya
di pintu depan, Alin dan Tata saling berpandangan. Terkejut dengan siapa yang
datang.
“Derry?!”
Alin berseru
“Kamu
masih hidup?” Tata tercengang
“Aku
akan terus hidup, sampai cintaku diterima Alin.”
Alin
dan Tata melongo. Derry adalah teman Alin dan Tata yang dulu gencar
mengejar-ngejar Alin dan selalu menyatakan cinta. Tapi Alin selalu menolak,
tapi Derry terus berusaha bahkan pada akhir pejuangannya sebelum dia menghilang
Derry sempat memaksa Alin untuk ikut bersamanya ke luar negeri. Selama ini,
bunga dari Dodit adalah dari Derry dan surat yang tadi dibaca Alin juga dari
Derry. Cinta memang gila.
By : Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar