Koridor
itu masih nampak seperti jalanan lengang masa itu, ketika aku masih sering
menyusurinya dengan langkah-langkah penuh gelisah atau tergesa. Terkadang
berjalan sendiri atau beramai-ramai dengan sahabat dengan tawa lepas. Tapi yang
paling kuingat dari koridor ini adalah langkahku yang beriringan denganmu,
langkah yang ingin kuperlamban dan tak ingin segera sampai tujuan. Waktu itu
kelasmu berada di deretan paling ujung di koridor ini dan kelasku berada dua
kelas sebelumnya. “Nanti aku ke rumahmu ya...” Begitu biasanya ketika kamu
sudah mengantarku di ambang pintu kelas, lalu berlari sambil melambaikan tangan
dengan senyum yang entah dari mana kharisma yang begitu memesona terpancar. Aku
mengenalmu lebih dulu, mungkin mengagumimu lebih dulu juga. Beberapa tahun yang
lalu, ketika latihan lomba orasi di tengah lapangan seusai upacara hari
kemerdekaan. Tidak salah jika para guru memilihmu untuk mewakili sekolah
mengikuti lomba orasi yang diadakan tingkat kabupaten itu. Selain suaramu yang
lantang, seperti ada magnet dari setiap kata-kata tegas yang kamu ucap.
Sehingga mau tidak mau mengundang pikiran-pikiran orang ikut tertarik dan
tersugesti dengan yang kamu katakan. Tidak terkecuali aku.
“Mbak
Rana, mau Ibu antar ke kelas?” Lamunanku bubar jalan ketika Ibu Erna menepuk
pundakku dari belakang.
“Oh,
terima kasih, Bu.” Aku berjalan bersebelahan di samping Bu Erna, sambil
mendekap beberapa map dan tas jinjing di sebelah lengan kanan.
Ibu
Erna menoleh ke arahku, “Bagaimana, banyak yang berubah ya dari sekolah ini?” Sambil
tersenyum ia bertanya.
Aku
balas tersenyum, “Iya, Bu. Lebih tertata, banyak bangunan baru juga. Lapangan
semakin luas menurut saya, tapi ada yang tidak pernah berubah dari sekolah ini.”
Pandanganku menerawang ke depan.
“Oh,
ya? Apa?” Bu Erna nampak penasaran.
Aku
tak lekas menjawab, kemudian aku tersenyum lagi sesaat. Memandang Bu Erna lekat,
“Emm... kori....”
“Eh,
Adi. Sudah datang. Sebentar ya, Ibu mau mengantar Mbak Erna masuk kelas.” Bu
Erna menyapa seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah samping kiri. Aku
seperti mengenalnya.
“Iya
Bu.” Orang yang ada di hadapanku tersenyum, dadaku tiba-tiba berdegup.
“Eh,
iya. Ini Adi, angkatannya sama kan ya sama Mbak Erna, alumni dari sekolah ini
juga.” Kata-kata Bu Erna semakin membuatku tercekat. Aku lemas.
Langkahku
terhenti, menelaah wajah yang kini telah bertransformasi sebagai laki-laki
dewasa yang berwibawa. Laki-laki yang kukenal sering mengantarku masuk ke kelas
setelah jam istirahat kedua.
“Ran,
masih ingat aku kan?” Laki-laki itu tersenyum padaku.
“Pasti
masih ingat dong, dulu pernah jadi anggota OSIS bareng. Ibu masih ingat juga.”
Aku
hanya tertegun, tersenyum dipaksakan.
“Sekarang
jadi mantu saya Mbak Erna, saya juga tak menyangka. Murid saya sendiri yang
jadi suami anak saya.” Bu Erna tertawa renyah,
Seperti
ada petir di atas kepalaku, degupan kencang di dadaku tadi seakan terhenti. Aku
bingung, berusaha mencerna. Slide-slide masa sekolah yang dulu pernah ada
berkelebatan. Laki-laki yang aku cintai dulu tak pernah menyatakan cintanya
padaku. Setelah lulus pun aku harus pergi ke luar kota untuk melanjutkan
studiku. Kini, dia menjadi pasangan hidup orang lain. Percuma aku menunggu.
Koridor ini hanya sekadar saksi bisu.
By: Rena Kharisma
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar