Rabu, 05 November 2014

Koridor

                Koridor itu masih nampak seperti jalanan lengang masa itu, ketika aku masih sering menyusurinya dengan langkah-langkah penuh gelisah atau tergesa. Terkadang berjalan sendiri atau beramai-ramai dengan sahabat dengan tawa lepas. Tapi yang paling kuingat dari koridor ini adalah langkahku yang beriringan denganmu, langkah yang ingin kuperlamban dan tak ingin segera sampai tujuan. Waktu itu kelasmu berada di deretan paling ujung di koridor ini dan kelasku berada dua kelas sebelumnya. “Nanti aku ke rumahmu ya...” Begitu biasanya ketika kamu sudah mengantarku di ambang pintu kelas, lalu berlari sambil melambaikan tangan dengan senyum yang entah dari mana kharisma yang begitu memesona terpancar. Aku mengenalmu lebih dulu, mungkin mengagumimu lebih dulu juga. Beberapa tahun yang lalu, ketika latihan lomba orasi di tengah lapangan seusai upacara hari kemerdekaan. Tidak salah jika para guru memilihmu untuk mewakili sekolah mengikuti lomba orasi yang diadakan tingkat kabupaten itu. Selain suaramu yang lantang, seperti ada magnet dari setiap kata-kata tegas yang kamu ucap. Sehingga mau tidak mau mengundang pikiran-pikiran orang ikut tertarik dan tersugesti dengan yang kamu katakan. Tidak terkecuali aku.
                “Mbak Rana, mau Ibu antar ke kelas?” Lamunanku bubar jalan ketika Ibu Erna menepuk pundakku dari belakang.
                “Oh, terima kasih, Bu.” Aku berjalan bersebelahan di samping Bu Erna, sambil mendekap beberapa map dan tas jinjing di sebelah lengan kanan.
                Ibu Erna menoleh ke arahku, “Bagaimana, banyak yang berubah ya dari sekolah ini?” Sambil tersenyum ia bertanya.
                Aku balas tersenyum, “Iya, Bu. Lebih tertata, banyak bangunan baru juga. Lapangan semakin luas menurut saya, tapi ada yang tidak pernah berubah dari sekolah ini.” Pandanganku menerawang ke depan.
                “Oh, ya? Apa?” Bu Erna nampak penasaran.
                Aku tak lekas menjawab, kemudian aku tersenyum lagi sesaat. Memandang Bu Erna lekat, “Emm... kori....”
                “Eh, Adi. Sudah datang. Sebentar ya, Ibu mau mengantar Mbak Erna masuk kelas.” Bu Erna menyapa seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah samping kiri. Aku seperti mengenalnya.
                “Iya Bu.” Orang yang ada di hadapanku tersenyum, dadaku tiba-tiba berdegup.
                “Eh, iya. Ini Adi, angkatannya sama kan ya sama Mbak Erna, alumni dari sekolah ini juga.” Kata-kata Bu Erna semakin membuatku tercekat. Aku lemas.
                Langkahku terhenti, menelaah wajah yang kini telah bertransformasi sebagai laki-laki dewasa yang berwibawa. Laki-laki yang kukenal sering mengantarku masuk ke kelas setelah jam istirahat kedua.
                “Ran, masih ingat aku kan?” Laki-laki itu tersenyum padaku.
                “Pasti masih ingat dong, dulu pernah jadi anggota OSIS bareng. Ibu masih ingat juga.”
                Aku hanya tertegun, tersenyum dipaksakan.
                “Sekarang jadi mantu saya Mbak Erna, saya juga tak menyangka. Murid saya sendiri yang jadi suami anak saya.” Bu Erna tertawa renyah,

                Seperti ada petir di atas kepalaku, degupan kencang di dadaku tadi seakan terhenti. Aku bingung, berusaha mencerna. Slide-slide masa sekolah yang dulu pernah ada berkelebatan. Laki-laki yang aku cintai dulu tak pernah menyatakan cintanya padaku. Setelah lulus pun aku harus pergi ke luar kota untuk melanjutkan studiku. Kini, dia menjadi pasangan hidup orang lain. Percuma aku menunggu. Koridor ini hanya sekadar saksi bisu.

By: Rena Kharisma

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik