Rabu, 12 November 2014

Gulita di Sepasang Sofa Merah

Kekasih, ada kecamuk yang masih belum mampu memberantas belukar pikiranku. Ingatan masih begitu semak. 
Aku harus berjalan ke arah mana, sedang jalan setapak pun aku tak melihatnya. 
Kamu di arah sebelah mana? Utarakah? Timurkah? Atau Entahlah? 
Aku masih mencari-cari apa yang sebenarnya terjadi pada gulita kita berdua 
Pada sepasang sofa merah, dengan lampu sorot yang sedang kita nikmati.
Tahukah kamu tentang debar yang aku pendam dan redam saat itu?
Apakah suaranya terdengar oleh telinganmu atau dirasakan genggaman tanganmu? 
Aku tak begitu mengerti tentang senja yang tak kita sambut jingganya saat itu 
Maka, perjelaslah kecamuk ini semua. Aku butuh sudut pandang darimu bagaimana menyikapi sikap yang mungkin masih samar 
Bukan sebuah janji yang mengharuskanmu tak melakukannya lagi, terlalu absurd.
Lukisan di kepalaku perlu penekanan gradasi, aku tak memungkiri tentang naluri yang memang manusiawi 
Tapi kumohon, beri aku penjelasan dari kaca matamu sebagai seorang lelaki 
Lelaki yang aku cintai.

Surabaya, saat kau di kotaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik