Kekasih, ada kecamuk yang masih belum mampu memberantas belukar pikiranku. Ingatan masih begitu semak.
Aku harus berjalan ke arah mana, sedang jalan setapak pun aku tak melihatnya.
Kamu di arah sebelah mana? Utarakah? Timurkah? Atau Entahlah?
Aku masih mencari-cari apa yang sebenarnya terjadi pada gulita kita berdua
Pada sepasang sofa merah, dengan lampu sorot yang sedang kita nikmati.
Tahukah kamu tentang debar yang aku pendam dan redam saat itu?
Apakah suaranya terdengar oleh telinganmu atau dirasakan genggaman tanganmu?
Aku tak begitu mengerti tentang senja yang tak kita sambut jingganya saat itu
Maka, perjelaslah kecamuk ini semua. Aku butuh sudut pandang darimu bagaimana menyikapi sikap yang mungkin masih samar
Bukan sebuah janji yang mengharuskanmu tak melakukannya lagi, terlalu absurd.
Lukisan di kepalaku perlu penekanan gradasi, aku tak memungkiri tentang naluri yang memang manusiawi
Tapi kumohon, beri aku penjelasan dari kaca matamu sebagai seorang lelaki
Lelaki yang aku cintai.
Surabaya, saat kau di kotaku.
Aku harus berjalan ke arah mana, sedang jalan setapak pun aku tak melihatnya.
Kamu di arah sebelah mana? Utarakah? Timurkah? Atau Entahlah?
Aku masih mencari-cari apa yang sebenarnya terjadi pada gulita kita berdua
Pada sepasang sofa merah, dengan lampu sorot yang sedang kita nikmati.
Tahukah kamu tentang debar yang aku pendam dan redam saat itu?
Apakah suaranya terdengar oleh telinganmu atau dirasakan genggaman tanganmu?
Aku tak begitu mengerti tentang senja yang tak kita sambut jingganya saat itu
Maka, perjelaslah kecamuk ini semua. Aku butuh sudut pandang darimu bagaimana menyikapi sikap yang mungkin masih samar
Bukan sebuah janji yang mengharuskanmu tak melakukannya lagi, terlalu absurd.
Lukisan di kepalaku perlu penekanan gradasi, aku tak memungkiri tentang naluri yang memang manusiawi
Tapi kumohon, beri aku penjelasan dari kaca matamu sebagai seorang lelaki
Lelaki yang aku cintai.
Surabaya, saat kau di kotaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar