Jumat, 14 November 2014

Igau Cerau

Aku pernah menaruh percaya pada angkasa
Baik awan, angin, dan segala udaranya 
Kurunutlah dari mana hujan berasal dan aku diberi penjabaran di beberapa buku ilmu pengetahuan alam 
Tapi, bukankah semesta punya alasannya sensiri untuk menurulan air mata? 
Bisa karena duka, karena bahagia, atau karena murka 
Mungkin aku memang jelmaan burung belibis yang memakamkan segala air mata, menghindari hujan demi tidak kebasahan 

Pada musim kemarau, aku meeindukan mendung. Bukan hujan
Sama seperti aku merindukan teduh yang kau ciptakan oleh sebuah pelukan tanpa harus menemui lenguh keringat 
Kadang aku mengigau tentang cerau 
Dilantunkan oleh runtuh-runtuh kesedihan yang jatuh di permukaan atap dusta 
Atau melalui pukulan-pukulan jemariku yang tak kutahu bahwa dari sanalah nestapa berasal

Gi, tak akan ada tangis yang meluber dari mataku
Sepasang kelopaknya cukup kokoh menjadi bendungan bagi deras air mata
Tapi jangan sekali-sekali merobohkannya dengan sengaja 
Sebab kau dan aku akan lebih terkejut bagaimana peristiwa tak terduga itu akhirnya tiba

Sidoarjo, 14.20 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik