(23.49/ 31.01.2015)
Kepada: "diary"
warna biru pastel
bergambar perempuan memegang kamera
dengan tulisan "Lonely, Beauty..."
Sudah berapa kesedihan yang terkumpul dalam catatan atau sudah berapa kali merasakan bahagia di satu bulan pertama tahun 2015?
Tidak ada tulisan tanganku yang
mampir di tubuhmu “diary”, sepertinya aku sudah tidak segencar ketika duduk di
bangku sekolah dasar sampai bangku sekolah menengah atas. Aku sering melewatkan
perasaanku sendiri yang biasanya aku tuliskan dengan catatan tangan. Selain
karena tulisan tanganku yang tak bagus (daridulu juga tak pernah bagus), aku
juga merasa bahwa sudahlah cukup aku simpan dalam benak. Tapi ternyata aku
banyak menyesali hal-hal sepele seperti menulis “diary” dengan rutin,
melewatkan perasaan dan peristiwa adalah salah satu sumber penyesalan paling
sering terjadi, ditambah lagi aku adalah seorang pelupa yang mengaku “kalau
soal perasaan mana mungkin bisa lupa”. Rasanya ingin menertawakan diri sendiri,
sebab itulah muasal penyesalanku tiba.
Ah, baiklah “diary” yang sudah
lama kosong, biarlah aku menulis sesuatu untukmu di sini karena aku tak bisa
berjanji akan menulis di lembar-lembar kertasmu lagi. Aku ingin mengungkapkan
perasaan yang menggelayutiku selama bulan Januari kemarin. Jika aku menyesal
karena sering abai menuliskan peristiwa-peristiwa, maka penyesalanku juga
banyak terjadi di bulan Januari. Beberapa list
kegiatan dan target saat liburan gagal (total). Padahal awalnya aku sudah
menggebu-gebu mampu menyelesaikannya tapi begitulah....
Bukankah memang selalu seperti itu ketika akan sampai pada masa liburan?
Mungkin seperti itulah pertanyaan
yang muncul setiap kali aku merasa kecewa tentang liburan. Hal-hal tersebut
terlalu ngoyo ingin aku wujudkan dan
semuanya gagal sebelum tahu hal itu akan gagal atau berhasil. Nyatanya banyak
penghalang yang datang dari diriku sendiri. Aku pikir dengan mengusahakan semua
itu dengan begitu keras akan menghasilkan sesuatu yang aku inginkan. Tetapi
usaha yang tidak dibarengi dengan niat dan tekad yang kukuh juga semangat yang
tak mungkin melepuh, rasanya mustahil ingin berhasil. Nyatanya aku hanya
berkobar di awal, seiring kalender berubah tanggal, segala yang aku lakukan
akhirnya tertinggal.
Januari, seperti yang dinyanyikan
oleh Glen Fredly. Nampaknya segala mimpi itu berakhir di Januari. Aku menyadari
satu hal bahwa kerja keras yang aku pikir memang usahaku untuk mencapai sesuatu
ternyata lebih mengarah pada “memaksakan”. Bulan Januari ini, aku juga belajar
bahwa pepatah “biarkan mengalir seperti air” diperuntukkan oleh orang-orang
(mungkin juga aku) yang terlalu memaksakan sesuatu terjadi. Aku tidak membenarkan
teori atau pepatah mana pun tentang keadaan seperti ini, namun aku juga mencoba
belajar untuk mampu mengontrol diri sendiri.
“diary” sepertinya aku memang
ingin mengagungkan rasa tenang, entah istilah apa yang lebih pantas dan pas
untuk perasaan ini. Sebab rasa tenang selalu membawaku pada kebahagiaan tanpa
perlu dipaksakan. Seringkali keberhasilan juga muncul tanpa diduga-duga. Tapi
bukan tanpa usaha, mungkin lebih kepada dikerjakan dengan enjoy tanpa berharap berlebihan. Ah iya, harapan. Aku masih percaya
kepada harapan yang suatu saat akan terkabulkan. Seharusnya aku harus lebih
banyak bersyukur untuk hal-hal yang sudah diberikan oleh Tuhan kepadaku.
Jarang-jarang nemu surat puitis gini, hebat kak :)
BalasHapus