Untuk rindu yang digigilkan hujan
malam
Aku menuliskan ini ketika
mengingat jalanan lengang yang aku lewati larut malam ini, lampu-lampu jalan
masih setia menimbun malam. Hujan telah reda meski rindu masih begitu basah.
Rindu ini tak lagi baru, sudah sekian lama setelah kau hadir di hidupku. Terkadang
mampu diungkap atau jadi sembunyi-sembunyi dalam hati. Begitulah caraku
mencintaimu sekali lagi. Belum ada rasa yang surut ketika pernah membanjir saat
kita masih bersama dulu atau rindu yang padam diguyur waktu. Semuanya tentangmu
masih meluap, rasa kecintaan ini masih membara. Aku tak menganggap ini semua
sia-sia meski harus digugurkan oleh kecewa bahkan luka. Kini aku berhadapan
dengan bayanganmu yang nyata di ingatanku, bila saja aku masih bisa menanyakan
kabarmu setiap hari. Aku tahu diri jika kau sudah tak sudi.
Aku ingin lelap bersama rindu
yang masih saja kedinginan karena tak ada sepasang lenganmu –atau lengan
siapapun— yang mendekap. Gigil ini nyeri sendiri dalam dadaku, nyeri yang
begitu lapang menerima bahwa kau tak lagi ada. Kelak, jika aku mampu merasakan
lagi rindu ini menemui dekapannya, aku ingin kau paham jika tak setiap kau
adalah lengannya. Mungkin nun jauh di sana atau sedekat napas yang menabrak
hidungku akan ada seorang lain—selain kau—yang dengan rela merengkuh segala
gemelatuk kereinduanku.
Surabaya, 00.43
Kembali merindukan :)
BalasHapus