Selasa, 17 Februari 2015

Investasi Tentang Hati

Seperti apakah kau saat ini, masih menjadi penyihir yang menyamar sebagai penyair? 

Mungkin kau tak pernah tahu tentang hujan yang tak kusukai, seperti ketiadaanmu yang tak pernah aku kuasai sepinya. Bayangkan jika hujan dan sepi menjadi satu! Bukan, abaikan bunyi air angkasa yang jatuh itu. Mereka riuh tapi tidak dalam diriku, dalam batinku. Semuanya hampa, sepi, setelah ditinggal investor cintanya tanpa meninggalkan laba apa-apa. Tak apa, cinta bukan personal bisnis bagiku –entah bagimu—perasaan bukan untuk diperjual-belikan bukan? Bahkan sekalipun aku merugi, aku tak akan meminta ganti. Biarkan ini menjadi pengalaman yang mungkin akan mendewasakanku. Lagipula aka ada pengharapan yang bias aku genggam sekalipun bukan darimu. Tapi nyatanya terkadang saat begitu hampa, harapan itu mencari jalan untuk kembali menujumu.

Seandainya kau berinvestasi dengan hati lain, dengan perempuan lain yang mungkin juga rela jatuh cinta sesakit-sakitnya kepadamu. Yang tak peduli bagaimana nanti ngilu menggerogoti secuil demi secuil setelah kau akhirnya memilih pergi atau waktu yang menyadarkan perempuan-perempuan itu –termasuk aku dulu—untuk berhenti dari semua drama yang kau rangkai sedemikian menawannya. Hingga banyak hati yang mencintai setulus hati tertawan oleh muslihat di ujung lidahmu. Mengembalikan segalanya seperti sedia kala memang tak semudah mengucap adakaraba tapi kamu mampu menyihir dengan segenap entah apa itu namanya hingga kau mampu tetap bertahan dalam segala keterbatasan. Kau begitu lihai menggunakan mantra-mantra yang pada akhirnya memunculkan banyak tanda tanya tetapi tak menemukan jawaban apa-apa. Kau yang berinvestasi, aku yang merugi. Tapi biar nanti akan menjadi sesuatu yang tak selamanya aku sesali dan mengubahnya menjadi cambuk motivasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik