Seperti apakah kau saat ini, masih menjadi penyihir yang
menyamar sebagai penyair?
Mungkin kau tak pernah tahu tentang hujan yang tak kusukai,
seperti ketiadaanmu yang tak pernah aku kuasai sepinya. Bayangkan jika hujan
dan sepi menjadi satu! Bukan, abaikan bunyi air angkasa yang jatuh itu. Mereka
riuh tapi tidak dalam diriku, dalam batinku. Semuanya hampa, sepi, setelah
ditinggal investor cintanya tanpa meninggalkan laba apa-apa. Tak apa, cinta
bukan personal bisnis bagiku –entah bagimu—perasaan bukan untuk
diperjual-belikan bukan? Bahkan sekalipun aku merugi, aku tak akan meminta ganti.
Biarkan ini menjadi pengalaman yang mungkin akan mendewasakanku. Lagipula aka
ada pengharapan yang bias aku genggam sekalipun bukan darimu. Tapi nyatanya
terkadang saat begitu hampa, harapan itu mencari jalan untuk kembali menujumu.
Seandainya kau berinvestasi dengan hati lain, dengan
perempuan lain yang mungkin juga rela jatuh cinta sesakit-sakitnya kepadamu.
Yang tak peduli bagaimana nanti ngilu menggerogoti secuil demi secuil setelah
kau akhirnya memilih pergi atau waktu yang menyadarkan perempuan-perempuan itu –termasuk
aku dulu—untuk berhenti dari semua drama yang kau rangkai sedemikian
menawannya. Hingga banyak hati yang mencintai setulus hati tertawan oleh
muslihat di ujung lidahmu. Mengembalikan segalanya seperti sedia kala memang
tak semudah mengucap adakaraba tapi kamu mampu menyihir dengan segenap entah
apa itu namanya hingga kau mampu tetap bertahan dalam segala keterbatasan. Kau begitu
lihai menggunakan mantra-mantra yang pada akhirnya memunculkan banyak tanda tanya
tetapi tak menemukan jawaban apa-apa. Kau yang berinvestasi, aku yang merugi. Tapi
biar nanti akan menjadi sesuatu yang tak selamanya aku sesali dan mengubahnya
menjadi cambuk motivasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar