Waktu itu sore hujan, angkasa berwarna putih tulang. Aku
duduk di salah satu sudut cafe, memesan secangkir cokelat panas. Aku pikir
memang demikian kehangatan disandingkan dengan gigil biar seimbang. Aku
kehujanan, meski tak basah kuyup dingin sudah mulai menelusup. Sekitar dua jam
aku duduk dengan di sana, menelaah benyak cerita atau kenangan yang masih aku
rapi-rapikan di atas kepala. Selalu begitu, hujan diidentikkan dengan kenangan
dan masa-masa indah yang telanjur hilang. Padahal aku sama sekali tak menyukai
hujan.
Aku menduga cafe ini biasa-biasa saja, sama seperti cafe
pada umumnya. Hanya saja terasa nyaman sore itu, meskipun terbilang cukup
kecil. Aku pikir juga suasana yang diciptakan tak ada istimewanya. Sudah dua
jam lebih aku duduk dan rasa lapar akhirnya datang, aku berniat memesan pasta.
Aku berjalan menuju meja pesanan tetapi masih ragu dengan pesanan yang akan aku
minta. Seseorang menghampiriku, menanyakan pesananku. Aku cukup terksima dengan
tatapan yang tajam tapi teduh dan suara yang tegas tapi lembut. Rasanya dua
berlawanan jadi satu dalam diri seseorang itu. Mungkin aku berlebihan
mendeskripsikan kesan pertama ini, tapi entah aku ingin menggambarkannya
demikian.
Aku masih ingat cafe itu tak begitu terang namun juga tak
begitu temaram. Suasana romantis cukup tercipta di sana sebab tak terlalu
banyak pengunjung yang datang. Perhatianku akhirnya terseret pada seseorang
yang menanyakan pesananku itu. Dia selalu duduk di kursi luar cafe setelah
mengerjakan beberapa pesanan. Bisa dipastikan dia salah satu pegawai di cafe
itu, mengenakan apron hitam dengan kaos hijau lumut dan topi hitam yang dipakai
terbalik. Aku baru pertama kali berkunjung di cafe ini dan baru pertama kali
pula merasa berkesan dengan salah satu pegawainya. Hingga beberapa kali aku
mencuri-curi mengambil potret dirinya. Semuanya blur, aku hanya punya satu ini
yang cukup bagus dari beberapa potret yang aku curi-curi.
Aku berprasangka dia orang yang sangat ramah juga cekatan. Tapi
keduanya itu memang seharusnya dimiliki pegawai (pelayan cafe) supaya pelanggan
merasa nyaman, terlepas dari syarat itu aku sangat yakin dia seorang pemuda
yang ramah. Aku bingung mendeskripsikan apa lagi tentang dia secara lebih
rinci, sedangkan aku bertemu baru sekali. Setidaknya ada kesan pertama yang
menyenangkan aku dapatkan dari seseorang di cafe itu. Aku tak mengenalnya, tapi
berharap dapat bertemu lagi jika suatu saat nanti berkunjung ke sana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar