Rabu, 04 Februari 2015

Pemuda Berapron & Bertopi Hitam

Waktu itu sore hujan, angkasa berwarna putih tulang. Aku duduk di salah satu sudut cafe, memesan secangkir cokelat panas. Aku pikir memang demikian kehangatan disandingkan dengan gigil biar seimbang. Aku kehujanan, meski tak basah kuyup dingin sudah mulai menelusup. Sekitar dua jam aku duduk dengan di sana, menelaah benyak cerita atau kenangan yang masih aku rapi-rapikan di atas kepala. Selalu begitu, hujan diidentikkan dengan kenangan dan masa-masa indah yang telanjur hilang. Padahal aku sama sekali tak menyukai hujan.

Aku menduga cafe ini biasa-biasa saja, sama seperti cafe pada umumnya. Hanya saja terasa nyaman sore itu, meskipun terbilang cukup kecil. Aku pikir juga suasana yang diciptakan tak ada istimewanya. Sudah dua jam lebih aku duduk dan rasa lapar akhirnya datang, aku berniat memesan pasta. Aku berjalan menuju meja pesanan tetapi masih ragu dengan pesanan yang akan aku minta. Seseorang menghampiriku, menanyakan pesananku. Aku cukup terksima dengan tatapan yang tajam tapi teduh dan suara yang tegas tapi lembut. Rasanya dua berlawanan jadi satu dalam diri seseorang itu. Mungkin aku berlebihan mendeskripsikan kesan pertama ini, tapi entah aku ingin menggambarkannya demikian.

Aku masih ingat cafe itu tak begitu terang namun juga tak begitu temaram. Suasana romantis cukup tercipta di sana sebab tak terlalu banyak pengunjung yang datang. Perhatianku akhirnya terseret pada seseorang yang menanyakan pesananku itu. Dia selalu duduk di kursi luar cafe setelah mengerjakan beberapa pesanan. Bisa dipastikan dia salah satu pegawai di cafe itu, mengenakan apron hitam dengan kaos hijau lumut dan topi hitam yang dipakai terbalik. Aku baru pertama kali berkunjung di cafe ini dan baru pertama kali pula merasa berkesan dengan salah satu pegawainya. Hingga beberapa kali aku mencuri-curi mengambil potret dirinya. Semuanya blur, aku hanya punya satu ini yang cukup bagus dari beberapa potret yang aku curi-curi.




Aku berprasangka dia orang yang sangat ramah juga cekatan. Tapi keduanya itu memang seharusnya dimiliki pegawai (pelayan cafe) supaya pelanggan merasa nyaman, terlepas dari syarat itu aku sangat yakin dia seorang pemuda yang ramah. Aku bingung mendeskripsikan apa lagi tentang dia secara lebih rinci, sedangkan aku bertemu baru sekali. Setidaknya ada kesan pertama yang menyenangkan aku dapatkan dari seseorang di cafe itu. Aku tak mengenalnya, tapi berharap dapat bertemu lagi jika suatu saat nanti berkunjung ke sana. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik